Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Terlalu Mandiri Warga Swedia Banyak yang Berstatus Jomblo

Terlalu Mandiri Warga Swedia Banyak yang Berstatus Jomblo

Banyak orang Swedia enggan berpacaran dan memilih untuk berstatus jomblo. Kabarnya, ini karena warganya terlalu mandiri dan menghargai privasi.

Klikdokter.com, Jakarta Di saat semua orang punya rencana menikah, justru anomali terjadi di Swedia. Warganya banyak yang berstatus jomblo dan tidak memiliki rencana menikah karena terlalu mandiri. Tentunya, ini berbeda dari Indonesia yang kebanyakan ingin menikah dan langsung punya momongan. Bahkan, ada yang memaksa diri untuk menikah.

Bahkan, dilansir dari BBC, Swedia tercatat menjadi negara dengan angka jomblo tertinggi di Eropa. Kabarnya, hal ini disebabkan Masyarakat Swedia sangat menghargai privasi. Jadi, ketika seorang wanita ingin hidup independen sendiri, umumnya tidak akan dipermasalahkan.

Selain itu, stigma orang Swedia yang dikenal dingin dan tak suka bergaul sangat melekat di masyarakat. Itu sebabnya, mengobrol dan bergosip adalah sesuatu yang jarang dilakukan di negara yang beribukota di Stockholm tersebut.

Kebiasaan penduduk Swedia pun berbeda dengan di Asia, khususnya Indonesia. Mereka lebih suka tinggal sendiri di apartemen bertipe yang kecil. Bahkan, hampir setengah rumah tangga di negara itu merupakan orang dewasa tanpa anak.

Manusia Juga Butuh Orang Lain

Apa yang terjadi di Swedia memang cukup mengejutkan. Padahal, manusia pada dasarnya tidak bisa hidup sendiri selama hidupnya. Amy Smith, seorang psikolog dari William Alanson White Institute, Amerika Serikat, menyebut sejak awal kehidupan, manusia butuh orang lain.

Dari hari-hari awal keberadaan manusia di muka bumi ini, ketergantungan adalah hal dasar yang alamiah dibutuhkan oleh setiap orang. Bahkan, bayi manusia dilahirkan tanpa daya. Jika tidak diberikan sentuhan atau bantuan, bayi manusia akan sulit berkembang.

Sebagai orang dewasa, kebutuhan Anda akan orang lain adalah kenyataan yang tidak bisa disangkal. Menjadi terlalu mandiri dapat menyebabkan seseorang menjauh dari peluang untuk bertukar ide, menerima inspirasi, dan memperdalam hubungan. Padahal, semua interaksi yang mendorong pertumbuhan.

Bisa Berkembang Menjadi Kesepian

Paling ditakutkan ketika terlalu mandiri dan memutuskan untuk tidak banyak bersosialisasi, seseorang akan mengalami kesepian. Menurut penelitian yang dipublikasikan di Indian Journal of Psychiatry pada 2013, disebutkan bahwa kesepian sama berbahayanya seperti merokok 15 batang sehari.

Dalam penelitian tersebut, dilaporkan bahwa orang yang kesepian berisiko 50 persen lebih tinggi untuk mengalami kematian dini bila dibandingkan dengan seseorang yang memiliki hubungan sosial baik.

"Kesepian kronis dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko Anda mengalami berbagai masalah penyakit. Selain itu, kesepian juga meningkatkan risiko peradangan di tubuh dan dapat berujung pada penyakit kronis," ujar dr. Nadia Octavia dari KlikDokter.

Coba bayangkan kalau Anda memutuskan untuk hidup menyendiri sampai waktu yang tidak ditentukan atau lama. Ujung-ujungnya, Anda bisa stres sendiri. Bahkan, penelitian dari Brigham Young University di Utah, Amerika Serikat juga mengatakan hal yang sama.

Dalam riset tersebut, dilaporkan bahwa kesepian dapat meningkatkan risiko kematian lebih cepat. Pada studi yang melibatkan hampir 3,4 juta peserta tersebut dilaporkan bahwa kesepian atau menarik diri dari lingkungan sosial dapat meningkatkan risiko kematian dini hingga 30 persen.

Sudah disinggung sebelumnya, kematian karena kesepian lebih diakibatkan masalah seperti stres. Bisa dibilang, kesepian memicu gangguan kejiwaan.

"Jika terus dibiarkan, kesepian juga dapat memicu terjadinya gangguan kejiwaan mulai dari depresi, gangguan kecemasan sosial, gangguan makan, dan juga penimbun barang. Memiliki dukungan sosial dan hubungan sosial yang baik dengan orang lain sangat penting, terutama ketika Anda sedang mengalami masalah," ungkap dr. Nadia.

Keputusan kebanyakan orang Swedia menjadi pertanyaan banyak orang. Ada baiknya, walaupun Anda terlalu mandiri, jangan sampai hidup sendirian. Bila Anda sulit bersosialisasi, bisa hubungi psikolog untuk konsultasi.

(AYU/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar