Sukses

Dampak Victim Blaming bagi Kesehatan Mental

Jangan sekali-kali melakukan victim blaming! Mengapa begitu? Ternyata, tindakan yang satu ini rupanya dapat berdampak pada kesehatan mental.

Klikdokter.com, Jakarta Victim blaming tengah ramai diperbincangkan. Solidaritas perempuan di Indonesia tengah giat menggelar aksi #MeToo. Gerakan ini salah satunya dipelopori oleh korban pelecehan seksual yang sudah tidak tahan dengan victim blaming. Sudahkah Anda mengenal tindakan yang satu ini?

Victim Blaming, Apa Itu?

Selama ini, istilah playing victim—yakni sikap menyalahkan orang lain dan memosisikan diri sebagai korban—lebih sering terdengar. Padahal, selain itu, juga terdapat victim blaming.

Victim blaming adalah tindakan atau sikap menyalahkan korban atas kejahatan, insiden, atau kekerasan yang menimpanya. Ini adalah respons sebuah peristiwa dimana terdapat korban dan pelaku.

Perilaku victim blaming juga ditunjukkan dengan tidak menyalahkan si pelaku. Sebaliknya, justru membenarkan tindakannya. Istilah tersebut banyak ditemukan pada kasus pelecehan seksual.

Salah satu contohnya ketika ada seorang karyawati yang pulang larut malam usai bekerja. Saat si karyawati diperkosa malam itu, masyarakat bukannya menyalahkan pelaku pemerkosaan. Malah korban justru ditempatkan sebagai pihak yang bersalah.

Beberapa argumen yang terlontar biasanya adalah wanita sebaiknya tidak pulang terlalu malam, berpakaian terlalu seksi, dan seharusnya wanita tidak pulang sendirian tapi dijemput. Mereka menilai, karyawati itu sendiri yang “mengundang” tindak kriminal padanya.

Bukannya mendukung korban secara moral dan psikologis, pelaku victim blaming cenderung menyalahkan korban sebagai penyebab tindak kejahatan terjadi. Kalau pelaku tidak berniat berbuat jahat, semalam apa pun si karyawati pulang dan seterbuka apa pun bajunya, tidak akan terjadi pemerkosaan.

Artikel Lainnya: Mitos dan Fakta tentang Kesehatan Mental

Secara umum, perilaku victim blaming terdiri atas:

  1. Korban dianggap berperilaku yang menyimpang sehingga menyebabkan kecenderungan untuk dilecehkan (menjadi penyebab atas pelecehan yang dialaminya).
  2. Korban menjadi aib bagi keluarga atau lingkungan karena telah dilecehkan.
  3. Korban dikriminalisasi dan dijauhkan dari lingkungan apabila melapor atas pelecehan yang dialaminya.

Tindakan ini tentu memengaruhi kesehatan mental korban. Akibat pelecehan yang diterimanya saja korban telah mengalami tekanan secara mental dan fisik, belum lagi ditambah victim blaming yang membuat korban semakin tersudut.

1 dari 2 halaman

Stop Lakukan Victim Blaming!

Tindakan menyalahkan korban tentu tidak menunjukkan keberpihakan pada korban yang sudah banyak dirugikan. Beberapa alasan di bawah ini dapat dijadikan dasar Anda untuk tidak melakukan victim blaming:

  • Korban tidak bertanggung jawab penuh atas peristiwa yang menimpanya.
  • Korban saat ini membutuhkan dukungan moril dari lingkungan.
  • Korban harus melangkah terus menjalani hidup ke depannya.
  • korban belum tentu mendapatkan keadilan.
  • mencegah timbulnya trauma di kemudian hari.
  • Selain korban, orang terdekat korban pun menderita akibat tindakan tersebut.
  • Agar ke depannya banyak korban yang “speak up” akan tindakan kriminal yang didapat tanpa takut dampak yang ditimbulkan jika ia melapor.

Saat mendapat tindakan victim blaming, berikut beberapa dampak bagi kesehatan mental yang bisa dirasakan korban:

  • Malu dan merasa menjadi aib karena telah dilecehkan
  • Takut melaporkan
  • Memendam sendiri penderitaan yang dialaminya
  • Trauma di masa depan
  • Tidak dapat melanjutkan kehidupan layaknya orang normal
  • depresi dan timbul gangguan mental
  • percobaan bunuh diri

Dampak kesehatan yang ditimbulkan sungguh besar. Bahkan, bisa menyebabkan seseorang tidak dapat melanjutkan hidup atau melakukan bunuh diri. Untuk itu, jika melihat adanya korban pelecehan sebaiknya, dukung secara fisik dan mental.

Untuk mencegah victim blaming, sebaiknya Anda melakukan hal-hal di bawah ini:

  • Dengarkan cerita korban dengan saksama.
  • Bersikaplah suportif serta menenangkan korban.
  • Beri pengertian bahwa hal tersebut terjadi bukan semata-mata akibat kesalahan korban sehingga korban tidak menyalahkan diri terus-menerus..
  • Katakan bahwa kesalahan terletak pada pelaku.
  • Menemani korban untuk melapor atau menemui ahli, misalnya dokter ataupun psikolog.

Tidak sepatutnya korban mendapatkan victim blaming dari siapa pun. Korban seharusnya dilindungi secara hukum dan diberi dukungan oleh lingkungan sekitarnya. Yuk, mulai stop lakukan victim blaming dimulai dari diri Anda!

[HNS/AYU]

0 Komentar

Belum ada komentar