Sukses

Akalasia, Penyakit Apa Ini?

Akalasia termasuk penyakit yang jarang dikenali. Namun, keberadaannya akan menyulitkan laju pencernaan makanan Anda. Berikut ini ulasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Akalasia merupakan suatu kondisi serius yang memengaruhi esofagus Anda. Esofagus adalah saluran yang membawa makanan dari tenggorokan ke perut. Sfingter esofagus bagian bawah (LES) adalah cincin otot yang menutup kerongkongan dari lambung. Lalu, bahayakah sebenarnya jika seseorang mengidap akalasia?

Bahaya akalasia bagi kesehatanJika Anda mengidap akalasia, LES Anda gagal membuka saat menelan yang seharusnya dilakukan oleh sfingter tersebut. Hal ini memengaruhi pada jalannya makanan di dalam kerongkongan menuju lambung Anda.

Kondisi ini dapat dikaitkan dengan kerusakan saraf di kerongkongan Anda atau juga bisa disebabkan oleh kerusakan LES. Kemunduran atau gangguan saraf di kerongkongan Anda sering berkontribusi pada gejala lanjut akalasia.

Akalasia dapat terjadi karena berbagai alasan, mungkin sulit bagi dokter Anda untuk menemukan penyebab spesifik dari penyakit ini. Pasalnya, bisa jadi kondisi ini muncul karena riwayat genetik atau kondisi autoimun yang biasanya menyerang sel-sel sehat dalam tubuh.

Kondisi lain dapat menyebabkan gejala yang juga mirip dengan akalasia, yaitu kanker esofagus. Penyebab lain adalah infeksi parasit langka yang disebut penyakit chagas dan sering terjadi di Amerika Selatan.

Siapa yang berisiko mengalami akalasia?

Akalasia biasanya terjadi pada lansia. Namun, dapat juga terjadi pada anak-anak. Individu yang berusia setengah baya dan lebih tua berisiko lebih tinggi untuk kondisi ini. Akalasia juga lebih umum terjadi pada orang dengan gangguan autoimun.

Pengidap akalasia sering mengalami kesulitan menelan atau merasa makanan tersangkut di kerongkongannya. Keluhan ini juga dikenal sebagai disfagia. Gejala ini dapat menyebabkan batuk, meningkatkan risiko aspirasi, atau menghirup dan tersedak makanan. Beberapa gejala aklasia berikut juga bisa terjadi.

  • Rasa sakit atau tidak nyaman di dada.
  • Penurunan berat badan.
  • Nyeri perut.
  • Rasa sakit yang hebat atau ketidaknyamanan setelah makan.

Pasien mungkin juga memiliki regurgitasi atau aliran balik makanan dari lambung ke kerongkongan. Namun, ini bisa menjadi gejala kondisi yang menyebabkan naiknya asam lambung dan sensasi terbakar di sekitar dada.

Bagaimana akalasia didiagnosis?

Dokter akan mencurigai Anda menderita akalasia jika mengalami kesulitan menelan baik makanan padat maupun cair. Terutama jika semakin lama berlangsung semakin parah.

Dokter akan menggunakan manometri esofagus untuk mendiagnosis akalasia. Prosedur ini melibatkan penempatan saluran atau selang khusus di kerongkongan saat Anda menelan. Tabung merekam aktivitas otot dan memastikan kerongkongan Anda berfungsi dengan baik.

X-ray atau pemeriksaan serupa pada kerongkongan Anda mungkin juga membantu dalam mendiagnosis kondisi ini. Beberapa dokter lainnya juga akan mungkin melakukan tindakan endoskopi.

Dalam prosedur ini, dokter akan memasukkan tabung dengan kamera kecil di ujungnya ke kerongkongan untuk mencari penyebab dari masalah. Metode diagnostik lain adalah menelan barium. Anda akan menelan cairan barium, lalu dokter akan melacak pergerakan barium ke esofagus melalui sinar-X.

Bagaimana pengobatan akalasia?

Sebagian besar perawatan akalasia melibatkan organ sfingter atau LES Anda. Beberapa jenis perawatan dapat mengurangi gejala sementara atau mengubah fungsi katup secara permanen.

Sebagai terapi lini pertama, dokter akan melebarkan sfingter (cincin) atau mengubahnya. Prosedur pelebaran pneumatik biasanya memasukkan balon yang digembungkan ke kerongkongan Anda. Tujuannya untuk membuka katup lebih lebar dan membantu fungsi kerongkongan Anda lebih baik.

Namun, terjadinya pelebaran juga bisa meningkatkan risiko sfingter robek. Jika ini terjadi,  diperlukan operasi esophagomyotomy untuk memperbaikinya. Esophagomyotomy adalah jenis operasi yang dapat membantu Anda jika mengidap akalasia.

Dokter akan membuat sayatan besar atau kecil untuk mengakses sphincter dan mengubahnya dengan hati-hati. Ini memungkinkan aliran yang lebih baik ke perut. Walau banyak takut mendengar kata operasi, Anda jangan khawatir sebab sebagian besar prosedur esofagomiotomi berhasil.

Hanya saja, beberapa orang memiliki masalah setelah operasi. Seperti mengalami penyakit refluks gastroesofageal atau lebih dikenal dengan sebutan GERD. Jika Anda mengidap GERD, asam lambung Anda akan kembali ke kerongkongan. Hal ini yang akan menyebabkan mual.

Jika Anda tidak dapat menjalani koreksi pneumatic atau bedah dari akalasia, dokter Anda mungkin menggunakan botox untuk mengendurkan sfingter. Botox disuntikkan ke sfingter melalui endoskopi.

Jika opsi ini tidak tersedia atau tidak berfungsi, nitrat atau penghambat saluran kalsium dapat membantu mengendurkan sfingter. Hal ini membuat makanan dapat melewatinya dengan lebih mudah.

Akalasia memang sulit untuk dicegah. Namun, Anda bisa memperbaiki dengan porsi makan, pola makan, serta asupan cairan yang cukup untuk mencegah berbagai komplikasi. Jika mengalami berbagai keluhan terkait proses menelan dan fungsi pencernaan, segera konsultasikan dengan dokter Anda.

[RPA/AYU]

0 Komentar

Belum ada komentar