Sukses

Kenali Ablasi Retina, Penyebab Pandangan Mata Kabur

Anda mengalami pandangan mata kabur secara tiba-tiba? Waspadalah, bisa jadi Anda mengalami ablasi retina.

Klikdokter.com, Jakarta Anda pernah mengalami penglihatan terlihat kabur secara tiba-tiba? Kalau iya, waspadalah. Alasannya, salah satu gejala umum ablasi retina adalah pandangan kabur.

Ablasi retina sendiri adalah suatu kondisi lepasnya retina dari jaringan pembuluh darah yang berfungsi menyalurkan oksigen dan nutrisi. Jika kondisi ini tak segera diobati, risiko kehilangan penglihatan secara permanen akan terjadi.

Pada umumnya, ablasi retina tidak menimbulkan rasa sakit. Akan tetapi, gejala-gejala akan tampak sebelum penyakit ini terjadi dan memasuki tingkat lanjut. Beberapa gejala berikut ini.

  1. Pandangan kabur atau buram seperti tertutup tirai.
  2. Gangguan penglihatan.
  3. Kilatan cahaya yang muncul mendadak pada satu atau kedua mata.
  4. Muncul floaters, yaitu benda hitam seperti serpihan yang mengambang di depan mata.

Penyebab ablasi retina

Ablasi retina dapat disebabkan oleh beragam hal. Berikut adalah beberapa di antaranya.

  • Terbentuknya jaringan parut di permukaan retina. Adanya jaringan parut membuat retina tertarik dan semakin lama akan lepas. Kondisi ini dapat dijumpai pada pengidap diabetes dengan gula darah yang tidak terkontrol.
  • Menumpuknya cairan vitreous, yakni cairan bola mata tanpa disertai robekan pada retina. Kondisi ini dapat disebabkan oleh adanya cedera mata, peradangan pada mata, atau tumor pada mata.
  • Terdapat robekan kecil di dalam retina. Robekan di dalam retina dapat terjadi pada pasien lanjut usia (lansia), penderita mata minus, dan juga katarak. Adanya robekan di dalam retina dapat membuat cairan vitreous masuk dan menumpuk di belakang retina. Kondisi ini semakin lama akan membuat lapisan retina lepas dari dasarnya.

Ablasi retina pada dasarnya dapat terjadi pada setiap orang. Akan tetapi, risikonya akan meningkat pada beberapa kelompok orang di bawah ini.

  • Usia lebih dari 50 tahun.
  • Riwayat ablasi retina dalam keluarga.
  • Riwayat cedera mata.
  • Menderita rabun jauh.
  • Riwayat operasi mata.
  • Riwayat peradangan pada mata.

Penanganan ablasi retina

Apabila Anda memiliki gejala di atas, segera konsultasi ke dokter mata agar dapat dilakukan pemeriksaan mata secara menyeluruh. Berikut beberapa tindakan untuk menangani ablasi retina tesebut.

  1. Kriopeksi. Terapi ini dilakukan jika retina sudah robek, tapi tidak terlepas dengan cara membekukan robekan di retina. Tujuannya adalah agar retina tetap menempel di dinding mata.
  2. Terapi laser (fotokoagulasi). Terapi ini juga dilakukan pada retina yang belum mengalami pelepasan. Terapi sinar laser dilakukan dengan membakar jaringan di sekitar robekan retina dan menempel pada retina di bagian belakang mata.
  3. Vitrektomi. Apabila robekan retina besar, bisa dilakukan vitrektomi. Tindakan ini menggunakan suatu alat yang berbentuk kecil untuk mengangkat jaringan luka dan cairan dari retina lalu mengembalikan retina ke posisi semula.

Namun, apabila retina sudah terlepas dari mata, dokter spesialis mata biasanya akan melakukan operasi, tergantung dari kondisi pasien. Operasi untuk mengatasi kondisi berikut ini.

  1. Vitrektomi. Tindakan ini dilakukan dengan mengambil cairan vitreous dari mata dan menggunakan gelembung gas atau silikon sebagai penyokong retina.
  2. Scleral buckling. Tindakan ini dilakukan dengan menempatkan silikon dari sklera (bagian putih mata). Silikon ini dapat membantu mendekatkan dinding bola mata ke retina sehingga retina kembali kepada posisinya.

Semakin cepat pengobatan dilakukan, peluang kesembuhan penderita ablasi retina akan semakin baik. Agar kondisi ini tidak terulang lagi, Anda dapat melakukan perubahan gaya hidup. Misalnya, apabila mengidap diabetes mellitus, Anda harus rutin melakukan pengobatan dan kontrol ke dokter.

Anda juga sebaiknya memeriksakan mata tahunan apabila ada riwayat ablasi retina di dalam keluarga dan menggunaan pelindung mata saat di luar rumah.

[HNS/AYU]

1 Komentar