Sukses

6 Tantangan Hamil di Usia 40-an

Meski ada tantangan hamil di usia 40-an karena peningkatan risiko kesehatan terkait usia, tetapi kehamilan sehat hingga persalinan tetap bisa diraih.

Klikdokter.com, Jakarta Mungkin Anda sering dengar bahwa kehamilan paling ideal adalah saat wanita berusia 20-35 tahun. “Hamil di atas usia 35 tahun dikatakan sudah berisiko tinggi, apalagi usia 40 tahun?!” pikir Anda. Faktanya, memang tantangan hamil di usia 40-an tak sedikit. Meski begitu, kehamilan yang sehat tetap bisa dicapai.

Semakin ke sini, makin banyak wanita yang hamil saat usianya sudah 40-an. Entah karena baru dikaruniai anak, “kebobolan” (misalnya sudah pakai kontrasepsi tapi tetap hamil), atau memang sengaja menunggu karena berbagai alasan.

Hamil pada usia berapa pun punya keuntungan dan risikonya masing-masing, termasuk usia 40-an. Berdasarkan penelitian dari Royal College of Obstetricians and Gynecologist, mengandung di usia tersebut memiliki tantangan tersendiri.

Tantangan hamil di usia 40-an

Berkat kemajuan teknologi seputar kesuburan, kehamilan, dan persalinan, sangat mungkin untuk mengandung dengan aman pada usia 40-an. Namun, karena tergolong berisiko tinggi, dokter akan memantau Anda dan janin mengenai beberapa risiko di bawah ini.

1 dari 4 halaman

Selanjutnya

1. Hipertensi, karena bisa meningkatkan risiko preeklamsia

Hipertensi ditandai dengan peningkatan tekanan darah ≥140/90 mmHg. Sedangkan preeklamsia ditandai dengan peningkatan tekanan darah, dan kebocoran protein melalui urine. 

Kedua kondisi ini biasanya baru muncul saat menginjak usia kehamilan 5 bulan atau lebih. Demikian dikatakan oleh dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid, dari KlikDokter. Hipertensi dan preeklamsia saat hamil dapat membahayakan ibu dan janin bila tidak ditangani dengan baik.

“Sang ibu dapat mengalami penurunan kesadaran dan kejang, sementara janin dapat mengalami pertumbuhan yang terhambat, bayi berat lahir rendah, bahkan dapat meninggal di dalam kandungan,” lanjutnya.

2. Diabetes gestasional

Diabetes gestasional adalah peningkatan kadar gula darah selama kehamilan. Kondisi ini biasanya baru ketahuan setelah ibu hamil melakukan pemeriksaan laboratorium tes toleransi glukosa oral. Kondisi ini tentu saja dapat membahayakan ibu dan janin.

“Pada ibu, penyakit ini meningkatkan risiko hipertensi dan preeklamsia. Sementara itu, pada janin, penyakit ini dapat memicu kecacatan, keguguran, dan ukuran janin dalam kandungan terlalu besar (makrosomia).

3. Cacat lahir

Kehamilan di atas usia 35 tahun meningkatkan risiko adanya kelainan kromosom, yang mengakibatkan janin cacat, misalnya sindrom down. Studi yang dilakukan ACOG menyebutkan, 1 dari 200 wanita yang hamil di usia 35 tahun, dan 1 dari 65 wanita yang hamil di usia 40 tahun melahirkan bayi yang memiliki kecacatan.

4. Keguguran

Menurut studi dalam jurnal medis “The BMJ” yang terbit pada Maret 2019 lalu, risiko keguguran ditemukan paling rendah pada wanita 25-29 (10 persen), lalu meningkat setelah usia 30 tahun, hingga mencapai 53 persen pada wanita usia 45 tahun ke atas.

5. Bayi berat lahir rendah dan kelahiran prematur

Pada kehamilan di atas 40 tahun, risiko melahirkan bayi mengalami kelahiran prematur lebih tinggi, sehingga bayi kemungkinan besar akan mempunyai berat bayi lahir rendah karena memang usianya belum siap untuk dilahirkan ke dunia.

Perlu diketahui bahwa bayi prematur mungkin memiliki masalah pernapasan akibat perkembangan paru-paru yang belum memadai. Bayi pun lebih rentan mengalami infeksi, pendarahan di otak, dan masalah dengan pengaturan suhu dan kadar glukosa.

Selain itu, bayi yang lahir prematur juga lebih mungkin untuk mengalami masalah pendengaran dan penglihatan, begitu juga dengan cerebral palsy atau lumpuh otak, khususnya jika bayi dilahirkan sebelum usia kehamilan 32 minggu.

2 dari 4 halaman

Selanjutnya

6. Kehamilan ektopik

Wanita berusia di atas 35 tahun risikonya 4-8 kali lebih besar mengalami kehamilan ektopik atau kehamilan di luar rahim dibandingkan dengan wanita berusia lebih muda.

Tingginya risiko kehamilan ektopik ini bisa merupakan akibat dari akumulasi faktor risiko dari waktu ke waktu, seperti radang panggul dan gangguan di tuba falopi. Kondisi ini berpotensi mengancam nyawa.

Bagaimana usia memengaruhi kesuburan?

Sudah banyak teknologi yang dapat meningkatkan peluang kehamilan seperti IVF, bank sperma, atau pembekuan sel telur di masa mudah untuk dimanfaatkan di masa mendatang. Walau begitu, kesuburan wanita secara signifikan menurun setelah usia 35 tahun.

Menurut data dari Office on Women’s Health yang merupakan bagian dari Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat, sepertiga pasangan mengalami gangguan kesuburan setelah usia 35 tahun. Kemungkinan penyebabnya adalah beberapa faktor risiko berikut yang meningkat seiring bertambahnya usia.

  • Lebih sedikit jumlah sel telur yang tersisa untuk dibuahi.
  • Sel telur yang tidak sehat.
  • Ovarium tidak dapat melepaskan sel telur dengan baik.
  • Meningkatnya risiko keguguran.
  • Gangguan kesuburan akibat adanya kondisi kesehatan tertentu.

Tips hamil sehat di usia 40-an

Meski begitu, wanita yang hamil pada usia 40-an tidak perlu terlalu khawatir. Dijabarkan oleh dr. Grace Valentine, SpOG, dari KlikDokter, ada beberapa tips yang bisa dilakukan agar tetap sehat selama hamil.

  • Rencanakan kehamilan dengan baik

“Dengan berkonsultasi dengan dokter, calon ibu akan tahu kondisi kesehatan tubuh dan rahimnya. Apakah dapat menunjang pertumbuhan janin dengan baik atau tidak, atau apakah kehamilannya nanti berisiko membahayakan atau tidak,” ujar dr. Grace.

Bila ingin tetap melanjutkan program kehamilan, calon ibu juga dapat berdiskusi tentang asupan nutrisi yang harus dipenuhi, bagaimana cara untuk tetap sehat saat hamil, dan cara mencegah risiko komplikasi kesehatan dan kelainan pada janin yang mungkin terjadi.

3 dari 4 halaman

Selanjutnya

  • Kontrol rutin

Memeriksakan kehamilan secara rutin sesuai anjuran dokter dapat mendeteksi bila ada kondisi yang tidak normal, agar bisa ditangani secepatnya.

  • Pola hidup harus sehat

Demi kesehatan dan perkembangan janin secara optimal, ibu hamil harus memenuhi kebutuhan nutrisi harian lewat pola makan bergizi seimbang.

Selain itu, perhatikan juga kenaikan berat badan selama kehamilan untuk memastikan suplai kalori dan nutrisi memadai untuk pertumbuhan janin yang baik. Kenaikan berat badan yang normal pada ibu hamil bergantung pada indeks massa tubuh (IMT) sebelum hamil dan jumlah kehamilan (tunggal atau kembar).

Ibu hamil juga harus rutin berolahraga. ACOG menyarankan ibu hamil melakukan olahraga minimal 150 menit per minggu. Durasi tersebut dapat dibagi menjadi 30 menit olahraga per hari selama lima hari dalam seminggu.

  • Deteksi dini kelainan janin

“Untuk deteksi dini kelainan janin pada trimester 1, bisa dengan USG, pemeriksaan darah, atau pemeriksaan genetik fetal DNA yang lebih canggih. Diskusikan tujuan, pilihan, akurasi, keuntungan, dan kerugian masing-masing dengan dokter kandungan Anda,” kata dr. Grace.

Demikian beberapa tantangan hamil di usia 40-an. Meski bukan usia terbaik, tetapi makin ke sini semakin banyak wanita yang hamil pada rentang usia tersebut. Dengan konsultasi dan perawatan prenatal yang tepat, peluang untuk memiliki kehamilan dan melahirkan bayi yang sehat tetap besar. 

(RN/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar