Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Tahapan Penerimaan Orang Tua dalam Menerima Anak Berkebutuhan Khusus

Tahapan Penerimaan Orang Tua dalam Menerima Anak Berkebutuhan Khusus

Orang tua yang punya anak berkebutuhan khusus biasanya akan melewati beberapa fase sebelum akhirnya menerima kondisi si Kecil sepenuh hati.

Klikdokter.com, Jakarta Menjadi orang tua dari anak berkebutuhan khusus bukanlah perkara yang mudah. Banyak rintangan besar yang mesti dihadapi. Tak terkecuali dalam menerima kondisi si Kecil yang agak berbeda dengan anak lainnya.

Dikatakan berkebutuhan khusus karena anak tersebut mengalami sebuah kelainan yang memengaruhi kondisi fisik, mental dan/atau sosial. Contoh, anak tidak bisa mendengar (tuli) sejak dilahirkan, mengalami trauma akibat pelecehan, autisme dan sebagainya.

Kondisi anak yang demikian membuat orang tua perlu bergelut dengan keadaan sebelum akhirnya menerima sepenuh hati. Hal ini sesuai dengan Kübler-Ross Model yang pertama kali dicetuskan oleh psikiater bernama Elisabeth Kübler-Ross dalam bukunya On Death and Dying. Tahapan penerimaan tersebut dikenal dengan istilah DABDA.

1. Denial atau penolakan

Tahapan ini biasanya dimulai dari rasa tidak percaya bahwa dokter memberikan vonis bahwa si Kecil adalah anak berkebutuhan khusus.

Menghadapi kenyataan tersebut, orang tua akan merasa bingung dan malu terhadap keadaan anak. Bahkan, bisa tidak mengakui adanya kondisi ini. Jika ada tekanan sosial dari lingkungan, keadaan tahapan penolakan ini akan bertambah buruk dengan mudah.

2. Angry atau kemarahan

Tahapan kedua biasanya terjadi saat orang tua menyadari bahwa kondisi anak sudah tidak terbantahkan. Alhasil, orang tua menjadi marah dan melakukan pelampiasan terhadap hal-hal yang tidak jelas.

Kemarahan bisa dilampiaskan kepada dokter yang memberikan vonis, diri sendiri, pasangan, bahkan pada sang anak sendiri. Bentuk kemarahan lain, yaitu menolak mengasuh anak tersebut.

3. Bargaining atau tawar-menawar

Ini adalah tahapan di mana orang tua berusaha untuk menawar kondisi yang terjadi pada anak. Hal ini dilakukan sebagai upaya menghibur diri dan bersyukur atas segala sesuatu yang dikaruniakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

4. Depression atau depresi

Pada tahap ini, orang tua merasa putus asa, tertekan dan kehilangan harapan. Oleh sebab itu, orang tua dengan anak berkebutuhan khusus akan menarik diri dari lingkungan. Terkadang, orang tua juga malah mengalami masalah pada kehidupan sehari-hari lantaran tekanan demi tekanan yang tidak bisa dibantah.

5. Acceptance atau penerimaan

Ini adalah tahapan penerimaan kondisi si Kecil. Pada tahap ini, orang tua menerima sepenuh hati bahwa dirinya memiliki anak berkebutuhan khusus.

Memang tidak mudah, tetapi kenyataannya tidak bisa dibantah. Meski si Kecil berbeda dari anak lain sesuianya, ia tetap buah hati Anda yang memerlukan kasih sayang dan dukungan penuh dari kedua orang tua, keluarga maupun orang-orang di sekitarnya.

Hadapi dengan penuh kesabaran dan yakinkan diri sendiri maupun orang-orang di sekitar Anda bahwa anak berkebutuhan khusus adalah titipan Tuhan yang tetap harus disayangi sepenuh hati.

Memang butuh banyak proses sampai akhirnya Anda, pasangan dan anggota keluarga lainnya menerima bahwa si Kecil adalah anak berkebutuhan khusus. Tetap berlapang dada dan jangan pernah menyerah menghadapi kenyataan.

Jika menemukan kendala dalam prosesnya, jangan sungkan untuk berkonsultasi pada psikiater. Dengan begini, Anda akan mendapatkan dukungan untuk melewati tahapan penerimaan anak berkebutuhan khusus dan mendukung tumbuh kembangnya.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar