Sukses

5 Tips Mengatasi Anak Tantrum

Temper tantrum, alias anak marah sambil menjering dan menangis, kadang bikin frustrasi. Jangan panik, ikuti tips mengatasi anak tantrum berikut ini.

Klikdokter.com, Jakarta Menangis dan marah adalah sifat dasar manusia. Terutama pada anak-anak, itu adalah salah satu cara berkomunikasi untuk menolak atau melawan sesuatu. Namun, bila reaksinya menjerit, mengamuk, dan menangis, tak perlu panik, segera lakukan tips mengatasi anak tantrum berikut ini.

Tantrum paling sering terjadi pada anak-anak usia 1-3 tahun. Dikatakan oleh dr. Nitish Basant Adnani, BMedSc, MSc, dari KlikDokter, tantrum merupakan salah satu bagian dari perkembangan anak.

“Tantrum dapat menjadi tanda anak untuk menunjukkan bahwa ia merasa sedih atau tidak suka dengan hal yang sedang terjadi,” katanya.

“Tantrum dapat terjadi apabila anak merasa lelah, lapar, atau tidak nyaman. Selain itu, anak juga dapat menunjukkan tantrum apabila tidak mendapatkan hal yang diinginkannya. Belajar atasi rasa frustrasi tersebut merupakan keterampilan yang diajarkan seiring dengan pertambahan usianya,” tambahnya. 

Tips mengatasi anak tantrum

Bagi yang tak mau repot, anak akan diberikan barang, makanan, atau apa pun yang ia inginkan agar tantrum segera berhenti. Namun, kebiasaan tersebut bisa berdampak buruk untuk jangka panjang. Nantinya, anak akan menyimpulkan bahwa dengan tangisan dan amukan, ia selalu bisa mendapatkan apa yang ia mau.

1 dari 3 halaman

Selanjutnya

Nah, orang tua mesti tahu cara mengatasi anak tantrum tanpa rasa frustrasi dan panik. Tips di bawah ini bisa menjadi panduan.

  1. Tetap tenang dan tak perlu panik

“Baik ayah maupun ibu harus sama-sama tenang dan tidak panik. Jangan sampai terbawa emosi. Apalagi sampai membentak, memarahi, atau memukul anak,” ujar dr. Nitish.

“Gunakan nada bicara yang tenang, tetapi tegas, untuk menyampaikan kepada anak bahwa perilakunya tidak benar. Kemudian, beri tahu alasan mengapa keinginannya tak bisa dipenuhi saat itu,” lanjutnya.

Bila tantrum masih berlanjut, tetap tenang dan jangan menyerah dan mengikuti keinginannya. Tetap awasi anak untuk memastikan bahwa dirinya tidak akan melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain.

  1. Kontrol emosi

Separah apa pun kondisi tantrum anak, tetap kendalikan emosi. Jangan terpancing emosi, apalagi sampai membentak atau memukulnya. 

Dari KlikDokter, dr. Astrid Wulan Kusumoastuti mengingatkan tindak kekerasan seperti itu bukan cara yang tepat untuk mengatasi tantrum pada anak, bahkan bisa membuat tantrum menjadi-jadi.

“Bila Anda merasa emosi sudah di ujung tanduk, tarik napas dalam-dalam dan embuskan secara perlahan. Saat emosi sudah mulai stabil, tenangkan anak dengan sikap tegas, tetapi tetap dibalut kasih sayang,” terang dr. Astrid.

  1. Alihkan perhatian anak

Faktanya, anak kecil sangat mudah teralihkan perhatiannya. Karenanya, saat anak tantrum, dr. Astrid menyarankan orang tua untuk mengalihkah perhatiannya dengan sesuatu yang menarik. Misalnya, badut di mal, balon, atau apa pun yang dapat mengalihkan perhatiannya.

“Beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai pengalih perhatian misalnya mainan yang sudah lama tidak ia sentuh, makanan kesukaan, atau acara televisi favorit. Anda juga bisa mengajaknya bermain atau melakukan kegiatan menyenangkan lainnya bersama,” kata dr. Astrid memberi contoh.

2 dari 3 halaman

Selanjutnya (2)

  1. Berikan sentuhan kasih sayang

Kunci utama dalam menghadapi anak yang tantrum adalah dengan tetap menunjukan kasih sayang. Selain berbicara dengan nada yang lembut, tunjukkan kasih sayang lewat pelukan, elusan di rambut atau punggungnya, atau ciuman kasih sayang di pipi atau kepala anak.

Menunjukkan kasih sayang dapat meluluhkan hati, tak terkecuali anak yang sedang tantrum. Pelukan dari orang tua akan membuat anak merasa aman, diperhatikan, dan dicintai sepenuh hati.

“Pastikan untuk memeluknya tulus secara bertahap, tidak terburu-buru. Karena, anak bisa menganggap bahwa pelukan yang orang tua berikan adalah tindakan ‘palsu’,” ujar dr. Astrid.

  1. Berikan penjelasan

Ada satu hal penting yang harus orang tua jelaskan kepada anak. Bila orang tua tidak mengikuti keinginannya saat ia tantrum, bukan berarti orang tuanya tidak menyayanginya.

“Setelah anak sudah terlihat tenang, peluk anak dan ajak ia untuk mendiskusikan tantrumnya. Jelaskan bahwa alasan Anda melakukan hal tersebut adalah murni karena peduli dan ingin yang terbaik untuknya,” kata dr. Nitish lagi.

Mencegah tantrum terjadi lagi

Supaya episode tantrum tak lagi terulang, dr. Nitish mengatakan bahwa orang tua harus mengenali pemicu tantrum pada anak. Bila sudah, peluang tantrum kembali terjadi bisa diminimalkan dengan melakukan ini:

  • Memastikan anak mendapatkan waktu tidur yang cukup dan tidak lapar.
  • Beri perhatian yang positif kepada anak, misalnya dengan dukungan dan motivasi saat melihatnya melakukan hal baik.
  • Pahami batasan aktivitas anak, misalnya ketika anak tampak lelah, ajak ia untuk tidur siang atau istirahat.

Ingat selalu tips mengatasi anak tantrum yang dijabarkan di atas sekaligus cara untuk mencegah episode tantrum kembali muncul. Kuncinya adalah tetap tenang, jangan terpancing emosi, dan jangan langsung menyerah dan menuruti kemauan anak. 

(RN/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar