Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Kehamilan Ektopik atau Kehamilan di Luar Rahim, Apa Maksudnya?

Kehamilan Ektopik atau Kehamilan di Luar Rahim, Apa Maksudnya?

Pernah dengar soal kehamilan ektopik? Kira-kia hal ini disebabkan dan seperti apa, ya? Cari tahu di sini, yuk!

Klikdokter.com, Jakarta Diagnosis kehamilan ektopik atau kehamilan di luar rahim pasti membuat banyak calon ibu patah hati. Terutama fakta bahwa kehamilan harus digugurkan karena dapat mengancam nyawa ibu yang mengandungnya.

Kehamilan ektopik terjadi saat sel telur yang telah dibuahi menempelkan diri di luar dinding rahim, di tempat yang tidak seharusnya. Itulah kenapa kondisi tersebut sering disebut sebagai kehamilan di luar rahim.

Dikatakan oleh dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, kehamilan di luar rahim terjadi sebanyak 1-2 persen dari seluruh jumlah kehamilan. 85-90 persen di antaranya terjadi pada wanita yang sudah pernah hamil sebelumnya. Kondisi ini juga makin tinggi risikonya pada wanita yang merencanakan kehamilan pada usia di atas 40 tahun.

Selain itu, kehamilan ektopik paling sering terjadi di bagian tuba falopi, karena biasanya hasil pembuahan dapat terhambat dalam perjalanan menuju ke rahim.

Penyebab, faktor risiko, dan gejala kehamilan ektopik

Dikatakan oleh dr. Dyah, setidaknya ada empat penyebab kehamilan di luar rahim. Penyebab inilah yang harus Anda ketahui.

“Bisa karena adanya kerusakan pada permukaan tuba falopi. Hal ini akibat proses peradangan, infeksi atau trauma, kadar hormon tidak seimbang, dan adanya perkembangan yang tidak normal dari sel telur yang sudah dibuahi,” katanya menyebutkan.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan ektopik pada wanita adalah:

  • Riwayat mengalami reaksi peradangan di area tuba falopi maupun organ di sekitarnya akibat penyakiti menular seksual, seperti gonore dan Chlamydia.
  • Riwayat melakukan prosedur bayi tabung (IVF).
  • Memiliki gangguan kesuburan (infertilitas).
  • Riwayat operasi atau pengikatan (sterilisasi) tidak sempurna di area tuba falopi.
  • Anda menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD atau spiral) meskipun kemungkinan terjadi kehamilan kecil.
  • Kebiasaan merokok.
1 dari 3 halaman

Selanjutnya

Mengingat kehamilan ektopik adalah kondisi yang berpotensi mengancam nyawa, gejala-gejalanya wajib diketahui.

Kata dr. Andika, Anda yang mengalami kehamilan ektopik juga mengalami gejala awal kehamilan pada umumnya. Misalmya, telat haid, nyeri payudara atau payudara terasa kencang, mual, hingga mudah lelah. Akan tetapi, ada beberapa gejala lain yang patut dicurigai sebagai kehamilan ektopik. Coba waspada pada hal-hal ini.

  • Muntah.
  • Pusing.
  • Nyeri perut bagian bawah yang menjalar ke seluruh perut.
  • Nyeri pada leher, bahu, atau area dekat anus (rektum).
  • Perdarahan dari vagina.
  • Pingsan.

“Perkembangan hasil pembuahan yang terus terjadi dapat menyebabkan robeknya tuba falopi. Ketika kondisi ini terjadi, dapat terjadi perdarahan berat di dalam perut yang merupakan keadaan yang dapat membahayakan nyawa, sehingga perlu pertolongan medis secepatnya,” kata dr. Andika mengingatkan.

Diagnosis dan penanganan kehamilan ektopik

Bila mengalami gejala-gejala tadi, dokter akan melakukan pemeriksaan tekanan darah, nadi suhu, pemeriksaan perut dan panggul, serta pemeriksaan vagina.

“Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang berupa (USG) dan pemeriksaan darah untuk mendeteksi hormon hCG (human chorionic gonadotropin). Pada kehamilan ektopik, kadarnya akan lebih rendah,” ujar dr. Dyah.

Selain itu, pemeriksaan darah lengkap juga dibutuhkan untuk memantau kemungkinan adanya kondisi anemia akibat perdarahan yang terjadi.

2 dari 3 halaman

Selanjutnya (2)

Biasanya, kehamilan ektopik tidak dapat berkembang secara normal karena kehamilan di luar rahim bukanlah kondisi yang ideal. Karenanya, kehamilan ini harus digugurkan.

“Untuk mencegah komplikasi yang berpotensi mengancam nyawa, sebaiknya jaringan kehamilan ektopik diangkat. Terapi kehamilan ektopik dapat dengan pemberian obat atau operasi tergantung keparahannya.” Demikian kata dr. Andika.

Pada kehamilan ektopik tahap awal tanpa perdarahan tidak stabil, dapat dilakukan terapi obat injeksi, yaitu methotrexate. Fungsinya adalah untuk menghentikan pertumbuhan dan melarutkan jaringan ektopik. 

Pada terapi operasi, dapat dilakukan operasi kecil maupun besar tergantung dari kondisi jaringan yang tumbuh dalam kehamilan ektopik. 

“Operasi besar biasanya dilakukan jika terjadi perdarahan berat. Kadang,  operasi pengangkatan tuba falopi harus dilakukan,” kata dr. Andika lagi.

Pentingnya deteksi dini

Meski tidak memberikan jaminan 100 persen, kehamilan ektopik bisa terdeteksi dini dan dicegah.

“Wanita dengan riwayat kehamilan ektopik, punya riwayat infeksi di tuba falopi, dan memiliki penyakit radang panggul atau infeksi menular seksual diharapkan untuk melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan, apalagi jika terlambat haid dan hasil test pack positif,” dr. Dyah menerangkan.

Selain itu, perokok wanita berisiko lebih besar mengalami kehamilan ektopik. Karenanya, berhenti merokok, khususnya jika sedang merencanakan kehamilan.

Mengingat kehamilan ektopik atau kehamilan di luar rahim adalah kondisi yang dapat membahayakan nyawa, apabila Anda mengalami gejala dan punya faktor risikonya. Bila ingin hamil lagi setelah mengalami kehamilan ektopik, rencanakan dengan dokter spesialis kebidanan dan kandungan Anda.

(RN/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar