Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Selain Imunisasi, Lakukan 8 Tips Ini untuk Mencegah Difteri

Selain Imunisasi, Lakukan 8 Tips Ini untuk Mencegah Difteri

Pencegahan utama difteri adalah dengan imunisasi. Namun, tetap optimalkan dengan melakukan beberapa tips ini untuk mencegah difteri.

Klikdokter.com, Jakarta Difteri tergolong penyakit berbahaya yang dapat mengancam nyawa. Meski pencegahan utamanya adalah lewat imunisasi, difteri akan lebih optimal bila Anda melakukan langkah-langkah perlindungan lainnya.

Penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang tengorokan dan selaput lendir pada hidung. Untuk menghindari wabah difteri yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae ini, seluruh orang disarankan untuk imunisasi difteri. Ini dilakukan sejak bayi dan anak-anak.

Hal ini disebabkan bayi dan anak-anak rentan terhadap infeksi bakteri difteri karena daya tahan tubuhnya rendah. Difteri juga rentan terjadi pada pengidap HIV, populasi dengan jumlah penduduk yang padat, dan mereka yang memiliki tingkat kebersihan rendah.

Gejala difteri

Umumnya, gejala dimulai 2-5 hari setelah seseorang terinfeksi difteri. Ini dia beberapa gejala yang bisa Anda ketahui.

  • Munculnya selaput putih keabu-abuan tebal yang menutupi tenggorokan, lidah, dan tonsil (amandel).
  • Sakit tenggorokan dan suara menjadi serak.
  • Kelenjar bengkak (pembesaran kelenjar getah bening) di leher.
  • Kesulitan bernapas atau bernapas cepat.
  • Keluar cairan dari hidung.
  • Demam dan menggigil.
  • Letih dan lemas.

Meski demikian, gejala bisa berbeda-beda pada tiap orang. Dalam beberapa kasus, infeksi bakteri difteri hanya menyebabkan penyakit ringan atau tidak ada tanda dan gejala yang jelas.

1 dari 3 halaman

Selanjutnya

Orang yang telah terinfeksi yang tetap tidak menyadari penyakitnya dikenal sebagai pembawa (carrier). Orang-orang tersebut dapat menyebarkan infeksi tanpa mengalami gejala penyakit sendiri.

Selain di tenggorokan, difteri juga bisa terjadi di kulit. Difteri dapat memengaruhi permukaan kulit, menyebabkan rasa sakit, kemerahan, dan pembengkakan khas yang terkait dengan infeksi kulit akibat bakteri lainnya. Ulkus atau luka yang ditutupi oleh membran abu-abu juga dapat berkembang pada difteri kulit.

Meskipun pada umumnya lebih sering terjadi di daerah beriklim tropis, difteri kulit juga terjadi di negara empat musim. Terutama di antara orang-orang dengan tingkat higienis yang buruk dan hidup dalam lingkungan padat penduduk.

Sekilas tentang imunisasi difteri

Difteri bisa dicegah dengan imunisasi lengkap, dengan jadwal pemberian sesuai usia. Berdasarkan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Difteri yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, saat ini vaksin uuntuk mencegah difteri ada 3 macam, yaitu:

  1. DPT-HB-Hib (vaksin kombinasi untuk mencegah difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, meningitis, serta pneumonia yang disebabkan oleh Haemophylus infuenzae tipe B).
  2. DT (vaksin kombinasi difteri tetanus).
  3. Td (vaksin kombinasi tetanus difteri).

Imunisasi tersebut dapat diberikan dengan mengikuti jadwal di bawah ini:

  • Imunisasi dasar

Bayi usia 2,3, dan 4 bulan diberikan vaksin DPT-HB-Hib dengan interval satu bulan.

  • Imunisasi lanjutan

    • Anak usia 18 bulan diberikan vaksin DPT-HB-Hib sebanyak satu kali.
    • Anak sekolah dasar kelas 1 diberikan vaksin DT saat Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
    • Anak sekolah dasar kelas 2 dan 5 diberikan vaksin Td saat BIAS.
    • Wanita usia subur (termasuk wanita hamil) diberikan vaksin Td.
2 dari 3 halaman

Tips untuk menangkal difteri

Selain dengan imunisasi lengkap, mencegah difteri juga bisa dioptimalkan dengan menerapkan tips berikut ini.

  1. Pakai masker

Difteri dapat menyebar dari penderita ke orang lain lewat udara atau air liur (droplet) yang secara tidak disengaja terpapar. Lalu, masuk ke dalam tubuh. Maka dari itu, Anda disarankan untuk menggunakan masker saat berada di tempat ramai.

  1. Jangan berbagi barang dengan orang lain

Bakteri difteri yang dapat menular melalui cairan tubuh seperti air liur sangat berpotensi menyebar. Apalagi kalau Anda berbagi barang dengan pengidap difteri, peralatan makan, mandi, dan pakaian. Itu sebabnya, jangan pinjam barang tersebut dan sebaliknya.

  1. Rajin mencuci tangan

Meski sederhana, cuci tangan dampaknya sangat besar bagi kesehatan. Apalagi jika Anda sering bertemu dan berinteraksi dengan orang baru atau memegang benda yang banyak disentuh orang lain.

  1. Tahu etika batuk dan bersin

Tutup hidung dan mulut dengan menggunakan tisu saat batuk dan bersin. Bila tak ada tisu, tutupi dengan lengan atau bagian dalam siku. Kebiasaan ini tak hanya penting untuk mencegah penularan.

Namun juga, mencegah kuman bertebaran di lingkungan dan menempel pada perabot, sehingga dapat menjadi sumber penularan penyakit. Ajari etika ini kepada anak-anak sedini mungkin.

  1. Menjaga kebersihan lingkungan

Berkembangnya bakteri difteri juga sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan yang tidak bersih. Jadi, selalu pastikan keadaan lingkungan Anda tidak menjadi tempat yang nyaman bagi bakteri difteri untuk berkembang biak.

  1. Pola makan sehat

Dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi lengkap, Anda dapat menjaga imunitas tubuh agar tetap baik dalam melawan berbagai kuman penyebab penyakit, termasuk penyebab difteri.

  1. Olahraga teratur

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa olahraga dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Cara kerjanya adalah dengan meningkatkan jumlah sel darah putih, yang berfungsi untuk menangkal berbagai kuman yang dapat menimbulkan penyakit.

  1. Cek kesehatan secara rutin

Bila sudah melakukan langkah-langkah di atas, tak ada salahnya untuk melakukan pemeriksaan kesehatan diri secara rutin untuk memastikan kondisi tubuh selalu dalam kondisi yang optimal.

Selain dengan imunisasi lengkap, itulah delapan tips yang bisa Anda lakukan untuk mencegah difteri. Periksa status imunisasi diri apakah sudah lengkap. Bila Anda mengalami gejala difteri seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, langsung konsultasi ke dokter.

(RN/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar