Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Ruam di Kulit? Inilah Jenis & Gejala Dermatitis Kontak

Ruam di Kulit? Inilah Jenis & Gejala Dermatitis Kontak

Merah-merah di kulit bisa saja disebabkan oleh dermatitis kontak. Kenali gejalanya berikut ini.

Klikdokter.com, Jakarta Sebagian besar orang tidak akan mengalami reaksi alergi yang bermakna. Beberapa orang mungkin dapat mengalami ruam dengan rasa gatal hingga terbakar apabila kulitnya bersentuhan dengan alergen atau zat yang bersifat iritatif. Reaksi inilah yang disebut dengan dermatitis kontak. 

Pada hampir semua kasus dermatitis kontak, ruam akan timbul setelah terpapar alergen ataupun zat iritatif. American Academy of Allergy, Asthma & Immunology menyebutkan, ruam tersebut biasanya akan menjadi merah, gatal, dan mungkin terasa menyengat hingga terbakar. Jika paparan zat iritatif atau alergen terus berlangsung, lama kelamaan kulit juga akan menjadi gelap dan kasar, lecet, kering, pecah-pecah, terkelupas, mengalami kemerahan hingga menjadi bengkak.

Apabila cukup berat, maka luka yang cukup dalam atau ulkus juga dapat timbul. Penyebab dermatitis kontak bervariasi terhadap setiap individu. Bila ingin membedakan jenis-jenis dermatitis kontak, yang terpenting adalah memerhatikan kapan gejala tersebut dimulai. Secara umum, dermatitis kontak dibagi menjadi beberapa jenis menurut paparan dan waktu yang diperlukan untuk reaksi pada kulit timbul.

  1. Dermatitis Kontak Iritan

Hal ini terjadi ketika kulit menyentuh bahan kimia atau zat yang bersifat iritatif. Beberapa jenis zat bersifat iritatif adalah semprotan merica, pemutih, hand sanitizer, baterai, deterjen, minyak tanah, dan sabun pembersih lainnya. Seringkali kulit akan menimbulkan reaksi seperti gatal dan ruam.

  1. Dermatitis Kontak Alergi

Jenis ini muncul karena adanya reaksi alergi oleh sistem kekebalan tubuh yang bereaksi secara berlebihan terhadap zat alergen. Beberapa jenis alergen tersebut antara lain karet, obat yang dioleskan pada kulit, pewangi pada sabun, pewarna pada produk berbahan dasar kulit, dan perhiasan emas. Beberapa orang dapat menjadi sensitif terhadap zat-zat tersebut.

Selain itu, reaksi alergi juga dapat muncul dari produk perawatan kulit, deodoran, krim pencukur rambut, lateks, nikel, jeruk sitrus, kosmetik, parfum, dan pewarna rambut. Reaksi yang ditimbulkan berupa urtikaria atau biduran. Jika di kulit Anda terdapat biduran atau ruam, mungkin Anda sensitif terhadap zat-zat alergen itu.

Pada sebagian besar kasus, reaksi alergi tidak akan segera timbul pada kontak pertama. Orang tersebut hanya menjadi lebih sensitif terhadap paparan zat tersebut. Paparan-paparan berikutnyalah yang akan memicu tubuh untuk menimbulkan reaksi alergi pada kulit penderitanya.

  1. Dermatitis Kontak Akibat Kerja

Keluhan ini terjadi di mana profesi tertentu - terutama buruh atau pekerja bidang industri - sering terpapar bahan iritatif seperti karet, lateks, atau bahan kimia lainnya. Ruam atau gatal pun dapat terjadi pada kulit. Beberapa pekerjaan yang rentan mengalami hal ini diantaranya petugas kesehatan, penata rambut, dan pramusaji.

  1. Dermatitis Foto Kontak

Reaksi alergi dari jenis ini terjadi bila seseorang terpapar oleh bahan iritatif atau alergen, kemudian menerima paparan sinar matahari yang baru akan menimbulkan reaksi alergi. Beberapa zat yang dapat menimbulkan reaksi foto kontak adalah krim pencukur rambut, salep kulit, krim tabir surya yang mengandung oxybenzone dan cinnamic acid, produk berbahan tar, insektisida, dan disinfektan. 

Beberapa jenis obat juga dapat menyebabkan keluhan ini, seperti antibiotik tetrasiklin, retinoids, golongan sulfonylurea, dan masih banyak lagi. Reaksi dermatitis foto kontak lebih jarang timbul dibandingkan reaksi alergi dan reaksi akibat zat iritan. 

Tidak sedikit orang yang menggunakan krim sebelum tidur tanpa mengetahui apakah mereka menjadi sensitif terhadap cahaya, karena zat tersebut sudah terabsorbsi dengan baik sebelum terjadinya kontak dengan matahari.

Apapun bentuk dan jenis dermatitis kontak, reaksi alergi berupa ruam, gatal, dan rasa terbakar dapat segera dirasakan pasien hingga beberapa hari berikutnya. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi pasien tersebut untuk mengetahui apa yang dapat memicu timbulnya reaksi alergi dan menghindari paparannya di kemudian hari.

(FR/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar