Sukses

Benarkan Pewarna Rambut Bisa Menjadi Penyebab Kanker?

Pewarna rambut dianggap mengandung zat karsinogenik sehingga bisa jadi penyebab kanker. Bagaimana fakta medisnya?

Klikdokter.com, Jakarta Lebih dari 33 persen wanita di atas 18 tahun dan 10 persen pria di atas 40 tahun menggunakan pewarna rambut dengan tujuan yang berbeda-beda. Anda salah satunya? Jika ya, berhati-hatilah. Pasalnya, ada kabar yang mengatakan bahwa pewarna rambut mengandung senyawa karsinogenik sehingga bisa menjadi penyebab kanker.

Apakah kabar tersebut sesuai dengan fakta medis? Berdasarkan penelitian yang tersedia, tampaknya tidak mungkin bahwa pewarna rambut dapat secara signifikan meningkatkan risiko kanker. 

Memang, pewarna rambut pernah mengandung bahan kimia yang bersifat karsinogenik pada hewan. Oleh sebab itu, antara tahun 1980 dan 1982, semua komposisi pewarna rambut diformulasi ulang untuk menghilangkan kehadiran bahan kimia tersebut.

Pada tahun 2010 silam, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) menyimpulkan tidak ada cukup bukti untuk menentukan apakah penggunaan pewarna rambut mampu meningkatkan risiko kanker. Sejak saat itu, penelitian-penelitian lanjutan makin banyak dilakukan dan menemukan jawaban yang berbeda satu sama lainnya.

Penelitian tentang pewarna rambut dan kanker

Menurut sebagian penelitian, masih ada zat kimia pada produk pewarna rambut tertentu yang bisa meningkatkan risiko kanker. Disebutkan bahwa tinggi/rendahnya risiko ini bergantung pada beberapa hal berikut. 

  • Jenis paparan 

Orang-orang yang bekerja dengan pewarna rambut, seperti penata rambut dan tukang cukur memiliki lebih banyak paparan daripada orang yang mewarnai rambut mereka sendiri. 

  • Frekuensi

Semakin sering mewarnai rambut, semakin besar pula tingkat paparan Anda terhadap bahan kimia di dalamnya. 

  • Warna 

Pewarna rambut dengan warna gelap, seperti hitam dan cokelat mengandung lebih banyak bahan kimia yang mungkin bersifat karsinogenik.

1 dari 3 halaman

Jenis kanker yang bisa disebabkan pewarna rambut

Tak semua jenis kanker berhubungan dengan penggunaan pewarna rambut. Berikut ini beberapa jenis kanker yang memilki risiko muncul ketika terlalu sering terpapar produk perawatan rambut tersebut. 

Sebuah studi tahun 2017 menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pewarna rambut dan leukemia. 

Di sisi lain, tinjauan pada tahun 2018 dari studi yang tersedia mendapatkan hasil bahwa peningkatan risiko limfoma non-Hodgkin pada wanita yang menggunakan pewarna rambut mungkin saja ada. Hal ini utamanya dialami oleh mereka yang telah menggunakan pewarna rambut selama 20 tahun atau lebih. 

Salah satu studi sempat menemukan peningkatan kecil risiko kanker kandung kemih pada orang yang berkontak dengan pewarna rambut secara teratur. Akan tetapi, penelitian ini tidak konklusif karena melibatkan banyak orang yang mulai menggunakan pewarna rambut sebelum 1980. 

Sumber terpercaya dari semua penelitian tersebut memberikan bukti kuat bahwa menggunakan pewarna rambut tidak meningkatkan risiko kanker kandung kemih.

Sebuah studi tahun 2017 menunjukkan bahwa ada hubungan antara pewarna rambut gelap dengan kejadian kanker payudara pada wanita Afrika dan Amerika. 

Walau demikian, para peneliti yang terlibat berkata bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan sehingga tidak dapat dijadikan acuan.

Sebuah studi tahun 2016 menemukan bahwa pewarna rambut dapat meningkatkan risiko kanker prostat. Namun lagi-lagi para ahli percaya bahwa penelitian ini tidak valid sehingga belum dapat dikatakan sebagai fakta.

2 dari 3 halaman

Jenis pewarna rambut dan potensi kanker

Perlu Anda ketahui, pewarna rambut hadir dalam dua bentuk yang berbeda. Ini terhantung dari mekanisme cara mengubah warna rambut dan berapa lama warna bertahan. Berikut ini beberapa jenis pewarna rambut yang ada di pasaran.

  • Pewarna rambut oksidatif (permanen)

Pewarna rambut oksidatif harus diaktifkan dengan mencampurkan zat oksidasi (pengembang) seperti hidrogen peroksida dengan amonia dan zat pewarna. 

Zat amonia akan membuka lapisan luar batang rambut dan agen oksidasi, kemudian memasuki batang rambut dan menghilangkan pigmen alami sambil mengikat pigmen baru ke batang rambut. Inilah yang secara permanen mengubah warna rambut Anda. 

  • Pewarna rambut non-oksidatif (sementara)

Pewarna rambut non-oksidatif tidak menggunakan zat pengembang. Pewarna rambut ini hanya melapisi atau menodai batang rambut. 

Karena tidak dapat menghilangkan pigmen rambut alami, pewarna rambut jenis ini tidak dapat membuat rambut Anda lebih terang, hanya berwarna lebih gelap.  Pewarna rambut oksidatif memiliki lebih banyak bahan kimia daripada yang non-oksidatif.

Cat rambut oksidatif lebih kuat dan cenderung mengiritasi kulit kepala Anda. Hal ini yang menciptakan pintu masuk bagi zat pewarna untuk menyusup ke dalam tubuh. Ini artinya, penggunaan pewarna rambut oksidatif bisa saja memicu kanker, apalagi jika terbuat dari bahan kimia yang bersifat karsinogenik.

Di luar data-data yang telah dipaparkan, sebenarnya belum ada bukti kuat yang benar-benar menyatakan bahwa penggunaan pewarna rambut dapat secara langsung menjadi penyebab kanker. Jikapun ada, risikonya tergolong minimal. Apabila Anda khawatir akan risiko tersebut, batasi frekuensi dan jumlah pewarna rambut yang digunakan, terutama untuk warna gelap.

(NB/AYU)

1 Komentar