Sukses

Efektivitas Imunisasi untuk Cegah Difteri

Bisakah imunisasi mencegah penyakit difteri di kemudian hari? Yuk simak efektivitas imunisasi untuk cegah difteri.

Klikdokter.com, Jakarta Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria. Terpaparnya seseorang oleh bakteri difteri ini biasanya saat seseorang secara tidak sengaja menghirup atau menelan air liur penderita difteri (melalui droplets). Tentunya, kondisi ini membahayakan kesehatan tubuh. Namun, benarkah melakukan imunisasi untuk cegah difteri jadi yang solusi tepat?

Imunisasi sebagai pencegah difteri

Risiko terpapar penyakit difteri meningkat di daerah berpenduduk padat dengan lingkungan yang tidak higienis. Selain itu, penderita AIDS juga berisiko terpapar difteri karena sistem imun yang lemah.

Gejala awal difteri berbeda-beda terhadap masing-masing orang. Bahkan, ada yang tidak menunjukkan gejala sama sekali ketika penyakitnya muncul. Namun, tanda awal yang biasa ditemukan adalah adanya selaput berwarna putih abu-abu yang menempel di daerah dinding tenggorokan atau amandel. 

Berbeda dengan radang tenggorokan, selaput ini biasanya jika diangkat akan menimbulkan pendarahan. Akibat adanya selaput di daerah sekitar jalan napas, maka gejala yang kemudian muncul berikutnya adalah batuk, nyeri saat menelan, suara serak, pilek, sesak hingga demam dan menggigil. 

Satu-satunya pencegahan penyakit difteri adalah dengan melakukan imunisasi atau vaksinasi difteri. Di Indonesia, biasanya imunisasi difteri diberikan bersamaan dengan vaksinasi pertusis dan tetanus. Vaksin Difteri ini diberikan dengan cara menyuntikkan bakteri difteri yang telah dilemahkan ke dalam tubuh.

Tindakan ini diharapkan dapat membua bakteri difteri tersebut merangsang tubuh untuk membentuk antibodi yang akan berguna untuk melawan bakteri corynebacterium diphtheria. Terutama, ketika suatu hari secara tidak sengaja masuk ke dalam tubuh Anda. 

Siapa yang harus mendapatkan imunisasi difteri?

Tingginya kasus difteri menjadi perhatian khusus Pemerintah Indonesia. Hal ini disebabkan penyakit tersebut memiliki jumlah kasus yang cukup tinggi dengan risiko fatal, yakni kematian. Sementara itu, pencegahan difteri sebenarnyanya cukup sederhana, yaitu dengan melakukan imunisasi difteri secara berkala. 

Imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus) adalah program imunisasi dasar dan lanjutan yang disarankan untuk diberikan kepada anak sejak masih bayi hingga usia 6 tahun. Tiga pemberian pertama dilakukan ketika anak usia 2, 3, dan 4 bulan dengan cara menyuntikkan ke dalam intramuskular.

Pemberian keempat dapat dilakukan pada usia bayi 1 tahun 6 bulan, dan pemberian kelima adalah pada saat anak berumur 5 tahun. Setelah kelima imunisasi diselesaikan, anak sebaiknya mendapat booster imunisasi Tdap (imunisasi ulang Tetanus, Difteri, dan Pertusis) setiap 10 tahun sekali. Pemberian vaksin difteri secara berkala ini terbukti efektif mengendalikan jumlah kasus penderita difteri di Indonesia. 

Selain imunisasi rutin yang telah dipaparkan di atas, imunisasi difteri juga sangat disarankan bagi Anda yang akan berkunjung ke suatu daerah yang tercatat memiliki kasus difteri cukup tinggi. Bahkan, petugas kesehatan, pengasuh bayi yang baru lahir, dan orang dewasa atau ibu hamil yang belum pernah divaksin dianjurkan melakukan imunisasi. 

Efek samping imunisasi difteri tidak terlalu berbahaya dan masih memiliki risiko kematian jauh lebih kecil daripada penyakit difteri itu sendiri. Efek samping yang umum ditemukan adalah demam, anak menjadi lebih rewel, hilang nafsu makan, nyeri atau bengkak di area yang disuntik. Hal ini dapat diatasi dengan memberikan paracetamol untuk meredakan demam dan nyeri bengkak pada anak. Namun, efek samping ini biasanya berlangsung hanya dua hingga tiga hari setelah pemberian imunisasi difteri. 

Penting untuk diingat agar pemberian imunisasi difteri ini dilakukan oleh tenaga kesehatan yang profesional. Sampaikan pula kepada dokter Anda mengenai riwayat imunisasi difteri yang telah dilakukan sebelumnya. Jangan lupa juga memberi tahu petugas medis ketika Anda sedang mengonsumsi obat-obatan untuk penyakit tertentu, dan riwayat reaksi alergi ketika akan melakukan vaksinasi. Jadi, yuk imunisasi untuk cegah difteri.

[RPA/AYU]

0 Komentar

Belum ada komentar