Sukses

Pacaran Putus-Nyambung, Berefek pada Kesehatan Mental?

Bagi sebagian orang, pacaran putus-nyambung dianggap wajar. Benarkah demikian? Ataukah justru putus-nyambung berefek pada kesehatan mental?

Klikdokter.com, Jakarta Tujuan pacaran biasanya adalah melangkah lebih jauh hingga ke jenjang pernikahan. Akan tetapi, kenyataan terkadang tak sesuai dengan angan-angan. Pacaran putus-nyambung pun dapat dialami karena berbagai alasan. Bahkan disebut-sebut, pacaran putus-nyambung bisa berefek pada kesehatan mental! Benarkah demikian?

Putus-nyambung dalam suatu hubungan mau tak mau pasti akan menguras emosi Anda dan pasangan. Tak heran, suasana hati Anda juga akan terpengaruh, misalnya murung, cepat marah, dan enggan beraktivitas seperti biasa. 

Bahayanya, menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., psikolog dari KlikDokter, putus-nyambung bisa menyebabkan masalah mental, seperti stres. Dalam jangka panjang, hal ini bisa berbahaya untuk Anda dan pasangan.

“Sebenarnya, putus-nyambung itu terjadi karena tidak ada kecocokan dalam menjalin suatu hubungan. Hanya saja, mereka memaksakan hubungan itu karena merasa secara emosional masih butuh pasangan,” dia menjelaskan.

“Menjalani hubungan yang tidak cocok lama-kelamaan bisa membuat Anda dan pasangan sama-sama stres. Nah, pasangan yang seperti ini biasanya akan sering bertengkar, yang tentu tidak sehat kalau terlalu lama dan sering berdampak pada kesehatan mental," kata Ikhsan lagi. 

Nyambung lagi boleh, tapi tegaskan komitmen

Meski bisa bikin stres, tidak ada yang salah sebenarnya apabila Anda dan pasangan mengalami putus-nyambung. Hanya saja, Ikhsan menegaskan, Anda jangan kembali memulai suatu hubungan dengan pasangan tanpa komitmen yang jelas. 

Jika Anda kembali menjalin hubungan tanpa komitmen baru yang jelas, saat ada masalah, Anda akan terjebak dalam keputusan yang sama, yakni putus! Kalau ada masalah, misalnya perselingkuhan, Anda tegaskan kembali komitmen pasangan Anda untuk tidak mengulangi kesalahannya.

Jika ini tidak secara jelas dan tegas dilakukan, hubungan Anda sulit untuk bisa bergerak maju. Kemungkinan besar, hubungan yang dijalin ini akan berakhir dengan kata putus kembali. Anda tentu tidak mau, bukan?

Selain itu, Ikhsan juga menyarankan agar Anda dan pasangan membicarakan tujuan berpacaran. Pasalnya, menjalin suatu hubungan tidak bisa hanya dilandasi suatu rasa yang dinamakan "sayang".

Banyak hal yang perlu dibicarakan secara serius demi keberhasilan suatu hubungan. Kedua belah pihak juga harus merasa nyaman dengan tujuan berpacaran yang disepakati.

"Jadi, kalau Anda ingin nyambung lagi dengan pasangan, bicarakan dan pikirkan dengan baik. Pertimbangkan dengan baik tujuan Anda balikan lagi untuk apa, dan buat komitmen yang jelas. Satu hal lagi, Anda dan pasangan harus sama-sama mengoreksi kesalahan sebelumnya. Jangan sampai terulang," tutur Ikhsan.

Kalau tidak nyaman, tak usah dilanjutkan

Jadi, perlu berapa kali putus-nyambung untuk tahu bahwa hubungan itu tidak sehat? Soal ini, Ikhsan tidak punya rumus pasti. Hanya saja, dia mengatakan bahwa kalau sudah tidak nyaman, sebaiknya sudahi saja.

"Orang yang putus-nyambung dalam menjalin hubungan itu sebenarnya karena tidak tahu penyelesaian masalah dalam hubungan mereka. Bagi mereka, putus adalah suatu pemecahan masalah. Padahal, masalah bukan untuk dihindari, tapi dihadapi," ucap Ikhsan.

Jadi, saat Anda sudah tidak nyaman dan merasa tidak ada jalan keluar masalah, sebaiknya Anda memahami bahwa itu adalah tanda bagi Anda untuk tidak meneruskan hubungan tersebut.

Pacaran putus-nyambung pada akhirnya memang dapat mengganggu kesehatan mental Anda. Untuk itu, pikirkan dengan baik setiap keputusan saat ingin mengakhiri atau menjalin kembali suatu hubungan. Jangan sampai, Anda terkesan plin-plan atau dianggap susah move on dari pasangan. Bila sudah tidak cocok dan tidak nyaman, mencari pasangan yang baru tidak ada salahnya. 

[HNS/RPA]

0 Komentar

Belum ada komentar