Sukses

Inkontinensia Tinja, Ketika Tidak Bisa Kendalikan BAB

Pernahkah Anda tidak sadar sudah buang air besar (BAB)? Kalau pernah, jangan-jangan Anda mengalami inkontinensia tinja.

Klikdokter.com, Jakarta Pernahkah Anda buang air besar (BAB), tapi tidak menyadarinya? Kalau iya, bisa saja Anda sedang mengalami inkontinensia tinja. Kondisi ini tidak normal karena secara natural manusia punya kemampuan untuk menahan dan mengontrol pembuangan tinja. 

"Normalnya, buang air besar terjadi secara sadar. Itu karena terdapat otot-otot pada dinding usus, otot pada anus, dan saraf yang berperan untuk menahan tinja agar tidak keluar," ujar dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter.

Kemampuan menahan BAB itu dinamakan kontinensia. Ketika seseorang coba menahan BAB, mereka memerlukan fungsi normal dari rektum, anus, dan sistem saraf. Terdapat dua otot pada dinding anus dan rektum yang berfungsi menahan feses, yaitu sfingter ani eksternus dan sfingter ani internus.

Kontinensia yang normal juga memerlukan kemampuan rectal sensation, yaitu kemampuan merasakan adanya feses dalam rektum; serta rectal compliance, yakni kemampuan relaksasi dan ‘menyimpan’ feses apabila belum memungkinkan untuk BAB saat itu. Selain itu, diperlukan kemampuan fisik dan mental untuk mengenali stimulus untuk BAB (misalnya mulas) dan kemampuan pergi ke toilet.

Saat kemampuan-kemampuan ini berkurang atau bahkan hilang, inkontinensia tinja dapat dialami seseorang.

Inkontinensia tinja dan gejalanya

Dinukil dari Mayo Clinic, inkontinensia tinja adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengontrol pergerakan usus, sehingga menyebabkan tinja (feses) keluar secara tiba-tiba dari dubur.

Gejalanya dapat berbeda dirasakan oleh tiap individu. Antara lain, ketidakmampuan menahan buang gas, keluarnya feses saat melakukan aktivitas sehari-hari, ketidakmampuan menahan feses sebelum mencapai toilet, dan BAB ketika hanya buang angin. Inkontinensia tinja lebih sering ditemukan pada lansia dan wanita.

"Ini merupakan kejadian abnormal. Pada orang dewasa, ketidakmampuan untuk mengontrol buang air besar dinamakan inkontinensia alvi," kata dr. Dyah Novita.

Inkontinensia tinja dapat terjadi sementara selama beberapa kali diare. Akan tetapi, bagi sebagian orang, inkontinensia tinja bersifat kronis atau berulang. Inkontinensia tinja dapat pula disertai dengan masalah pencernaan lainnya, seperti diare, sembelit, serta kembung.

1 dari 2 halaman

Penyebab inkontinensia tinja

Penyebab dari inkontinensia tinja cukup beragam, beberapa di antaranya adalah:

  • Kerusakan pada cincin otot anus

Cedera pada cincin otot anus dapat mempersulit Anda untuk menahan tinja dengan benar. Kerusakan semacam ini dapat terjadi selama persalinan, terutama jika Anda memiliki episiotomi atau pembedahan vagina yang dilakukan setelah persalinan normal.

  • Kerusakan saraf otot anus

Cedera pada saraf yang merasakan tinja di rektum atau di cincin otot anus dapat menyebabkan inkontinensia tinja. Kerusakan saraf dapat disebabkan oleh persalinan, mengejan terus-menerus selama buang air besar, cedera tulang belakang, atau stroke.

Beberapa penyakit, seperti diabetes dan multiple sclerosis, juga dapat memengaruhi saraf ini dan menyebabkan kerusakan inkontinensia tinja.

  • Sembelit

Sembelit kronis dapat menyebabkan massa tinja yang kering dan keras terbentuk di rektum dan menjadi terlalu besar untuk dilewati. Kalau terlalu sering, otot-otot rektum dan usus meregang dan akhirnya melemah. Sembelit kronis juga dapat menyebabkan kerusakan saraf yang mengarah pada inkontinensia tinja.

  • Diare

Tinja yang padat lebih mudah disimpan di rektum daripada feses yang cair. Itu sebabnya, feses yang cair saat diare dapat menyebabkan atau memperburuk inkontinensia fekal.

  • Wasir

Saat wasir, pembuluh darah di rektum Anda membengkak. Akibatnya, anus tidak menutup sepenuhnya, yang dapat menyebabkan tinja “bocor” keluar.

Anda saat ini sedang mengalami gejala inkontinensia tinja di atas? Kalau iya, segeralah berkonsultasi pada dokter. Anda bisa mencegah kondisi ini dengan menjaga kesehatan usus, antara lain lewat makanan sehat tinggi serat serta aktif bergerak.

[HNS/RPA]

0 Komentar

Belum ada komentar