Sukses

Bayi Belajar Jalan Sering Jatuh, Berbahayakah?

Gemas melihat bayi belajar jalan. Tubuhnya yang belum seimbang, tapi sudah ingin melangkah cepat, kadang membuatnya terjatuh. Nah, kalau terlalu sering jatuh, bahaya tidak, ya?

Bagi orang tua, melihat bayi belajar jalan pastinya menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Rasa bangga pun pasti muncul dan tidak ingin melewatkan setiap perkembangan yang dicapai oleh si Kecil. 

Tak heran, sebagian orang tua sampai ada yang mendokumentasikannya dengan video atau foto sebagai kenangan. 

Ya, selain sebagai momen untuk melihat si Kecil beraksi, proses bayi belajar jalan juga dapat dijadikan acuan normal atau tidaknya proses perkembangan buah hati. 

Kita ambil contoh seperti ini. Jatuh-jatuh saat belajar jalan memang lumrah. Nah, kalau frekuensi jatuh si Kecil terlalu sering, apakah itu menandakan adanya hal tidak normal? 

Atau jangan-jangan, saat bayi belajar jalan dan sering terjatuh, kondisi tersebut justru membahayakan kondisi fisik anak?

Tentunya hal di atas kerap menimbulkan kekhawatiran orang tua. Namun, daripada bingung dan menebak-nebak tak karuan, lebih baik baca dulu penjelasan di bawah ini. 

Artikel Lainnya: Perlukah Baby Walker untuk Melatih Anak Berjalan?

1 dari 3 halaman

Kenali Dulu Fase Berjalan dan Merangkak pada Bayi

Salah satu aspek perkembangan anak adalah motorik kasar yang ditunjang dengan kemampuan dan kekuatan otot, serta koordinasi gerakan. 

Motorik kasar dapat terlihat melalui proses merangkak dan berjalan. Pada saat usianya sekitar 6-10 bulan, si Kecil sudah mulai mampu menopang kepala dan tubuhnya, sehingga memungkinkan dirinya untuk belajar berpindah tempat sebelum berjalan.

Setiap bayi punya cara masing-masing untuk mulai belajar bergerak, sehingga tidak dapat disamakan antar-bayi. 

Ada yang bergerak mundur, berguling, merayap, atau menyeret (ngesot). Ketika tangan, kaki, kepala, dan punggung sudah cukup kuat untuk menopang, maka anak Anda akan belajar menggerakkan kaki dan tangannya, sambil kepalanya melihat sekeliling. Hal inilah yang disebut merangkak.

Merangkak merupakan fase transisi dari berbaring atau duduk hingga akhirnya si Kecil mampu berdiri dan berjalan. 

Umumnya, berdiri dengan berpegangan sudah bisa terjadi pada usia 7-9 bulan. Namun untuk berdiri sendiri dan berjalan, biasanya terjadi di usia 12-15 bulan. 

Perlu Anda ingat juga, setiap bayi memiliki tingkat perkembangan yang berbeda-beda. Sehingga, usia terjadinya kondisi di atas bisa sangat bervariasi. Selain itu, faktor lingkungan, pola asuh, dan kondisi medis juga berperan.

Artikel Lainnya: Mana Lebih Baik, Menggendong Bayi atau Menggunakan Stroller?

2 dari 3 halaman

Bayi Sering Jatuh saat Belajar Jalan, Apa Dampaknya?

Selama belajar jalan, anak akan sering sekali terjatuh. Faktanya, menurut penelitian Journal of Applied Physiology, anak usia 12-19 bulan rata-rata akan jatuh 17 kali per jam. 

Dari penelitian yang sama menyatakan, jatuh saat bayi belajar jalan merupakan proses penting dalam perkembangan. 

Dengan begitu, dampak anak sering jatuh saat belajar jalan adalah ia akan melatih keseimbangannya lebih baik lagi serta punya motivasi berjalan lebih jauh dan cepat ketimbang hanya merangkak.

Namun, apakah hal tersebut berbahaya? Jawabannya, selama lingkungannya aman, jatuh pada proses berjalan terbilang aman. 

Tapi yang harus Anda ingat, keselamatan adalah yang utama. Jangan biarkan anak jalan di permukaan yang licin atau terlampau keras. Alasi ubin dengan karpet karet dan berikan bantalan pada sudut meja yang tajam.

Selain itu, jauhkan barang yang berpotensi memberi bahaya, seperti kabel, stop kontak, benda yang mudah jatuh, benda tajam, dan zat beracun, dan benda-benda kecil lainnya.

Meskipun tergolong aman, risiko yang timbul akibat jatuh tetap ada, misalnya memar, jatuh terduduk pada tulang ekor, dan kepala terbentur. 

Artikel Lainnya: 7 Manfaat Merangkak bagi Bayi

Jika hal ini terjadi, jangan langsung panik. Pertolongan pertama pada memar, baik di lengan maupun kaki, adalah kompres es sekitar 5-10 menit. 

Hal ini juga dapat diterapkan jika kepala terbentur. Namun, jika muncul gejala, seperti tidur terus, rewel, mual muntah, dan kejang pasca 48 jam kepala terbentur, segera bawa ke dokter!

Sementara itu, bila ada yang menyarankan Anda untuk membantu bayi dengan menggunakan baby walker, sebaiknya jangan langsung dituruti. 

Pasalnya, American Academy Pediatrics melarang penggunaan alat tersebut karena bisa mengurangi keinginan anak untuk berjalan dan menjadi salah satu penyebab utama cedera pada bayi. 

Artikel Lainnya: Perlukah Membiarkan Anak Bermain Bertelanjang Kaki?

Selain tak perlu memakai bantuan baby walker, orang tua juga bisa melakukan sejumlah upaya lain agar si Kecil bisa berjalan lebih cepat tanpa cedera, misalnya saja: 

Membantu menguatkan otot punggung si Kecil dengan mendorongnya menggerakkan kepala dan leher dengan memancing perhatiannya ke arah-arah tertentu. 

Pancing kemauannya dengan mainan favorit. Usahakan supaya dia bisa meraihnya. Letakkan mainan agak di luar jangkauannya supaya dia berjalan mengambil mainan tersebut. 

Beri dorongan sedikit di punggung supaya dia melatih keseimbangannya. Dan saat bayi terjatuh, segera tangkap agar dia merasa aman dan tak takut untuk mulai lagi. 

Tak perlu pakai sepatu atau kaus kaki. Akan lebih baik bila bayi berlatih dengan bertelanjang kaki dan tidak menggunakan popok.

Bayi terjatuh saat belajar melangkahkan kaki merupakan hal wajar. Jadi, ayah dan bunda tak perlu terlalu memusingkan dampak bila anak sering terjatuh. Semuanya tak akan berefek negatif bila orang tua menjaga lingkungan si Kecil tetap aman dan selalu mengawasi proses latihan tersebut. 

Jangan lupa berikan alas pada lantai dan jauhkan segala benda-benda yang berbahaya. Menyemangati memang perlu, tapi tak perlu sampai berlebihan supaya anak tak kaget dan menangis. 

Bila masih punya pertanyaan lain seputar perkembangan anak dan pola asuhnya, Anda bisa berkonsultasi dengan kami melalui fitur Live Chat yang tersedia di aplikasi KlikDokter

(AM/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar