Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Penderita Bipolar Lebih Berisiko Terkena Penyakit Parkinson

Penderita Bipolar Lebih Berisiko Terkena Penyakit Parkinson

Ada yang mengatakan bahwa penderita bipolar lebih berisiko terkena penyakit Parkinson. Bagaimana sesungguhnya kaitan antara keduanya?

Klikdokter.com, Jakarta Gangguan bipolar membuat penderitanya punya dua emosi yang bertolak belakang dalam tingkat yang cukup ekstrem. Kadang depresi, tapi di sisi lain bisa merasa senang yang luar biasa hingga dapat mengganggu diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Nah, ada penelitian yang menemukan bahwa penderita bipolar lebih berisiko terkena penyakit Parkinson. Bagaimana kaitannya?

Bipolar: satu gangguan dua perasaan

Gangguan bipolar (dulunya disebut sebagai gangguan manik depresi) menjadikan penderitanya mengalami dua perasaan sekaligus secara bergantian. Kondisi tersebut disebut juga sebagai mood swing, yaitu emosi yang bisa berubah dengan cepat.

Perubahan emosi biasanya diawali dengan depresi, sedih, kecewa, merasa tidak berharga, sering menangis, dan hilang minat melakukan pekerjaan dan hobi yang disenangi.

Setelah mengalami episode depresi tersebut, pada suatu waktu bisa timbul perasaan yang berkebalikan, yaitu manik. Manik adalah rasa senang tidak terkendali. Penderita bipolar akan merasa sangat berenergi, mampu tak tidur berhari-hari, bicara terus-menerus atau melakukan apa pun hingga terkadang mengganggu orang lain, bahkan bisa menjadi dermawan kepada orang-orang yang tidak dikenal.

Meski demikian, seperti pada episode depresi, kondisi manik juga dapat mengganggu aktivitas dan pekerjaan sehari-hari. Pemilik gangguan bipolar bisa kesulitan dalam memusatkan perhatian dengan jalan pikirannya dengan cepat dan cenderung sering berpindah-pindah. 

Episode perubahan mood penderita dapat terjadi satu hingga beberapa kali dalam setahun. 

Gangguan bipolar bisa dialami siapa saja, tetapi paling sering ditemukan pada remaja dan dewasa muda usia 20-an. Figur publik yang diketahui terdiagnosis gangguan bipolar antara lain Marshanda, Britney Spears, Demi Lovato, Mariah Carey, dan Robin Williams.

Penyebab pasti gangguan bipolar masih belum diketahui. Namun, para peneliti mengungkap bahwa terdapat perubahan tertentu di otak dan genetik penderita gangguan bipolar, serta adanya faktor risiko seperti stres berkepanjangan, peristiwa traumatis, dan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang yang dapat meningkatkan risiko timbulnya gangguan tersebut.

1 dari 2 halaman

Parkinson, si pengacau saraf otak

Parkinson adalah penyakit degeneratif progresif (semakin lama semakin memberat gejalanya) yang menyerang saraf otak yang mengatur pergerakan tubuh. 

Gejalanya timbul secara perlahan, dimulai dari tremor (gemetar pada tangan dan jari-jari) yang sangat ringan hingga tidak disadari oleh penderitanya.

Anda juga harus curiga apabila ada saudara, teman, atau orang tua yang semakin lama jalannya semakin lambat (berjalan dalam langkah yang kecil-kecil), mengalami kekakuan otot, dan kelainan postur tubuh. Tanda lainnya adalah kesulitan untuk mengekspresikan mimik wajah seperti tersenyum dan mengedip, kesulitan berbicara atau perubahan dalam cara berbicara, serta perubahan dalam cara menulis (tulisan mengecil dan sulit terbaca).

Hingga detik ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan Parkinson. Pengobatan yang dilakukan bertujuan untuk mengontrol dan memperlambat progresivitas penyakit ini.

Penderita bipolar lebih berisiko terkena penyakit Parkinson?

Penelitian di Taiwan yang dipublikasikan pada bulan Mei lalu menemukan bahwa penderita gangguan bipolar lebih berisiko mengalami penyakit Parkinson di kemudian hari.

Peneliti utama, dr. Mu Hong Chen dari Taipei Veterans General Hospital meneliti 56 ribu orang di Taiwan yang terdiagnosis bipolar dari tahun 2001-2009.

Mereka lantas dibandingkan dengan 225 ribu orang yang tidak memiliki riwayat bipolar atau pun Parkinson. Kedua grup tersebut lantas terus dipantau hingga tahun 2011. 

Selama periode studi tersebut, didapati bahwa mereka yang menderita penyakit bipolar memiliki risiko tujuh kali lipat lebih tinggi terkena penyakit Parkinson, dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami gangguan bipolar. 

Selain itu, orang dengan gangguan bipolar juga dapat terkena Parkinson sembilan tahun lebih muda dari usia rata-rata seseorang mengalami Parkinson, yakni 64 tahun.

Diakui oleh dr. Chen bahwa ia tidak terlalu terkejut mendapati hasil tersebut. Karena tidak hanya gangguan bipolar, ternyata penelitian terdahulu telah menemukan bahwa penderita kelainan psikis lainnya (seperti depresi dan ansietas) juga memiliki risiko lebih besar mengalami penyakit Parkinson.

Itulah penjelasan temuan studi tentang penderita bipolar lebih berisiko terkena penyakit Parkinson. Lewat temuan tersebut, diharapkan masyarakat makin sadar bahwa kesehatan mental juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Anda juga bisa menemukan informasi lainnya mengenai kesehatan mental di KlikDokter.

(RN/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar