Sukses

Kurang Darah dan Darah Rendah, Ini Bedanya

Anda alami kurang darah atau darah rendah? Beda arti, beda penanganan lo! Yuk, simak dulu penjelasan berikut.

Klikdokter.com, Jakarta Kurang darah dan darah rendah sudah tak asing lagi sebagai gangguan kesehatan yang menyebabkan penderitanya mudah lelah, sempoyongan, dan pusing. Karena punya gejala yang mirip, keduanya sering digunakan bahkan dipahami secara tertukar. Agar tak lagi keliru, yuk pahami beda keduanya. 

Kurang darah, saat kadar Hb rendah

Dalam medis, kurang darah dikenal dengan istilah anemia. Ini adalah kondisi ketika seseorang memiliki kadar hemoglobin (Hb) yang rendah di dalam darahnya. Hemoglobin merupakan komponen sel darah merah yang tersusun dari protein. 

Diagnosis anemia harus didasarkan pada pemeriksaan penunjang Hb dalam darah. Seseorang dinyatakan mengalami anemia bila memiliki kadar Hb kurang dari 14 mg/dL pada pria dewasa dan 12 mg/dL pada wanita dewasa. Adapun, anak-anak di bawah usia 14 tahun dikatakan anemia apabila memiliki kadar Hb kurang dari 11 mg /dL.

Beberapa gejala yang dapat timbul pada seseorang yang mengalami anemia, di antaranya adalah sakit kepala, mudah lelah, nyeri dada, dan kulit pucat. Gejala ini berkaitan dengan mekanisme dari anemia itu sendiri. Pada anemia, Hb tidak dapat optimal menjalankan fungsinya, yaitu mengantarkan oksigen yang dibutuhkan oleh seluruh jaringan tubuh.

Anemia biasanya disebabkan oleh suatu penyakit atau masalah kesehatan tertentu, di antaranya:

  • Kekurangan zat besi

Zat besi merupakan salah satu zat pembentuk sel darah merah. Kekurangan zat besi sering menjadi salah satu penyebab dari anemia yang dikenal dengan istilah anemia defisiensi besi. Beberapa penyebab kekurangan zat besi, di antaranya malnutrisi, perdarahan saluran cerna kronis, atau pun menstruasi berkepanjangan.

Anemia defisiensi besi juga kerap terjadi pada ibu hamil. Memastikan asupan zat besi yang adekuat, dapat menjadi upaya untuk mencegah terjadinya anemia.

  • Kehilangan darah

Saat kehilangan darah, sel darah merah yang mengandung hemoglobin akan keluar dari tubuh. Bila tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat menyebabkan anemia. Kehilangan darah dapat terjadi secara cepat maupun perlahan. 

Kehilangan darah yang terjadi secara cepat dapat terjadi pada proses melahirkan, pembedahan, ataupun trauma. Adapun, kehilangan darah yang terjadi secara perlahan, dapat terjadi pada kondisi seperti perdarahan pada lambung dan perdarahan tumor.

  • Thalasemia

Pada thalasemia, terjadi gangguan pada pembentukan sel darah merah akibat mutasi dari DNA sel yang membuat hemoglobin. Sel darah merah pada pengidap thalasemia mudah hancur sehingga dapat menyebabkan penurunan kadar Hb hingga pada akhirnya timbul anemia.

  • Leukemia

Leukemia atau kanker darah merupakan kondisi ketika sel darah putih berkembang secara tidak terkendali. Perkembangan tidak terkendali ini dapat menyebabkan hambatan pada proses produksi sel darah merah yang terjadi di sumsum tulang. Akibatnya, keadaan tersebut dapat menyebabkan anemia.

1 dari 2 halaman

Lantas, bagaimana dengan darah rendah?

Sementara itu, darah rendah atau dikenal dengan istilah hipotensi dalam ilmu medis, adalah suatu keadaan ketika tekanan darah lebih rendah dari angka normal. Seseorang dinyatakan mengalami hipotensi bila tekanan darah sistolik dan diastolik berada di bawah < 90/60 mmHg. 

Rentang tekanan darah normal orang dewasa adalah 100-120 mmHg untuk sistolik dan 70-90 mmHg untuk diastolik.

Seseorang yang mengalami hipotensi tidak selalu menimbulkan gejala. Namun, terdapat beberapa gejala yang dapat timbul pada hipotensi, di antaranya mudah merasa lelah, nyeri kepala, mual, pandangan kabur, pusing, penurunan kesadaran, sulit konsentrasi, dan keringat dingin. 

Kondisi darah rendah dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Misalnya, gangguan hormonal, kelainan jantung, perdarahan, dehidrasi, reaksi alergi, atau keadaan stres.

Kurang darah dan darah rendah pada dasarnya adalah dua kondisi kesehatan yang berbeda, yang perlu Anda cermati gejala dan penyebabnya. Meski demikian, keduanya sama-sama menandakan adanya penyakit atau masalah kesehatan lain yang mendasari. Oleh karena itu, apabila Anda mengalami gejala-gejala di atas, segeralah berkonsultasi dengan dokter. 

[HNS/RPA]

3 Komentar