Sukses

Penyebab Mirror Syndrome pada Ibu Hamil

Kenali penyebab mirror syndrome agar ibu hamil dan janin tidak terkena komplikasi yang bisa mengancam keselamatan jiwa.

Klikdokter.com, Jakarta Irish Bella masih dirundung duka setelah kepergian bayi kembar yang dikandungnya. Diketahui bahwa istri Ammar Zoni ini baru saja mengalami penyakit langka mirror syndrome sehingga harus berpisah selamanya dengan buah hatinya. Belajar dari kondisi tersebut, ibu hamil sebaiknya mewaspadai hal-hal yang bisa menjadi penyebab mirror syndrome.

Apa itu mirror syndrome? Ini adalah kondisi yang terjadi ketika janin memiliki cairan berlebih pada tubuh dan sang ibu mengalami tekanan darah tinggi atau preeklampsia. Penyakit ini memiliki nama lain sindrom ballantyne, maternal hidrops atau triple edema dan pseudotoksemia.

Gejala mirror syndrome

Beberapa gejala mirror syndrome yang dapat dirasakan jelas oleh ibu hamil adalah bengkak yang parah, tekanan darah tinggi dan kenaikan berat badan secara signifikan dalam waktu yang cepat dan adanya protein pada urine.

Ada pula gejala lain yang baru bisa dideteksi dengan pemeriksaan darah, yaitu hemodilusi. Apa itu? Ini adalah kondisi yang terjadi ketika darah terlalu encer akibat jumlah sel darah merah sedikit lantaran kadar plasma yang tinggi. Kondisi ini terjadi akibat teralu banyak cairan yang menumpuk di dalam tubuh.

Sementara itu, dengan pemeriksaan USG, gejala lain yang bisa terdeteksi adalah terdapatnya penumpukan cairan berlebih pada tubuh janin. Penumpukan cairan bisa terjadi pada tubuh maupun organ dalam janin.

Penyebab mirror syndrome

Penyebab pasti dari mirror syndrome masih belum diketahui hingga saat ini. Kendati demikian, para peneliti berhipotesis bahwa kondisi ini berhubungan dengan fetal hydrops.

Fetal hydrops adalah kondisi ketika janin tidak dapat meregulasi cairan, sehingga cairan akan terus terakumulasi dan menumpuk di bawah kulit, perut, paru-paru atau jantung janin. Terjadinya fetal hydrops dihubungkan dengan kondisi genetik, anemia, gangguan jantung dan kelainan metabolik.

Hal lain yang juga diduga menjadi penyebab mirror syndrome adalah twin-to-twin transfusion syndrome atau sindrom transfusi antara janin kembar. Kondisi ini hanya terjadi pada kembar identik dengan satu plasenta, di mana transfusi darah dari salah satu janin ke kembarannya.

Pada twin-to-twin transfusion syndrome yang diduga menjadi penyebab mirror syndrome, terjadi ketidakseimbangan aliran darah antara janin melalui pembuluh darah bersama. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan terjadinya cedera, bahkan kematian.

Perlu Anda tahu, pembuluh darah umumnya menyebar dari tali pusar masing-masing janin dan terhubung ke plasenta. Namun pada beberapa kasus, pembuluh dari satu janin ‘menemukan’ pembuluh kembarannya dan membentuk koneksi sehingga menyebabkan darah mengalir bebas dari ‘kembar donor’ ke ‘kembar penerima’.

Rentetan kelainan yang dialami janin akibat mirror syndrome dapat menyebabkan gejala preeklamsia alias tekanan darah tinggi selama kehamilan pada sang ibu. Tidak hanya itu, sang ibu pun dapat mengalami penumpukan cairan pada paru-parunya.

Mirror syndrome sangat berbahaya karena bisa merenggut nyawa ibu maupun janin dalam kandungannya. Waspadai penyakit ini dengan mendapatkan kecukupan gizi setiap hari, olahraga secara teratur, cukup istirahat, kelola stres dengan baik dan hindari rokok maupun alkohol selama hamil.

Lakukan juga pemeriksaan kehamilan (antenatal care) secara berkala dan informasikan pada dokter bila Anda mengalami hal-hal yang berkaitan dengan penyebab mirror syndrome. Untuk mengetahui tentang mirror syndrome lebih jauh, Anda bisa berkonsultasi pada dokter melalui fitur Live Chat di KlikDokter.

(NB/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar