Sukses

Peristiwa Traumatis Bisa Sebabkan Stroke di Usia Muda

Tidak hanya bikin galau, peristiwa traumatis juga bisa sebabkan stroke di usia muda. Ini fakta selengkapnya.

Klikdokter.com, Jakarta Stroke adalah penyakit yang paling ditakuti, bahkan menjadi momok bagi masyarakat dunia. Pasalnya, penyakit dengan gejala yang sering hadir tanpa disadari ini bisa menyebabkan kelumpuhan pada penderitanya. Stroke bahkan dinobatkan sebagai penyebab kecacatan nomor satu di dunia.

Stroke adalah kondisi gawat darurat yang harus ditangani dengan segera oleh dokter di rumah sakit dengan fasilitas yang cukup lengkap. Penyakit ini terjadi ketika pasokan darah, oksigen dan nutrisi ke jaringan otak terhambat karena kerusakan pembuluh darah di otak. Kerusakan tersebut bisa terjadi akibat pembuluh darah tersumbat (iskemik) atau pecah (hemoragik). 

Stroke harus ditangani sedini mungkin, karena pada waktu yang terbuang ada sel-sel otak yang mati karena kekurangan oksigen. Agar bisa ditangani dengan cepat, Anda harus mengetahui tanda dan gejala stroke. 

Tanda dan gejala stroke adalah mengalami kesulitan berbicara secara tiba-tiba, kelumpuhan, rasa baal mendadak di wajah maupun anggota gerak (lengan dan tungkai), kesulitan berjalan, sakit kepala hebat tiba-tiba, muntah menyemprot, serta penurunan kesadaran mendadak.

Faktor risiko stroke

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menyebutkan bahwa angka kejadian stroke di Indonesia meningkat, dari 7 persen di tahun 2013 menjadi 10,9 persen di tahun 2018. Kenaikan angka ini sejalan dengan menjamurnya penderita stroke yang masih berusia muda.

Faktanya, sudah bukan hal yang langka lagi bagi dokter untuk menemukan pasien stroke yang masih berusia 30 atau 20-an tahunan di era saat ini. Ada banyak faktor risiko yang diduga melatari semakin tingginya angka kejadian stroke di usia muda, yaitu keturunan (genetik) dan gaya hidup. 

Di antara dua faktor tersebut, gaya hidup adalah yang paling memengaruhi. Gaya hidup yang dimaksud adalah seringnya konsumsi makanan cepat saji, tinggi kalori, gula dan lemak, serta kebiasaan merokok maupun kurang olahraga. Selain itu, ada pula penelitian yang menemukan bahwa tingginya angka stroke di usia muda berhubungan dengan kejadian traumatis di masa lalu.

1 dari 2 halaman

Kejadian traumatis dan stroke 

Berdasarkan riset yang dilakukan terhadap lebih dari satu juta orang tentara veteran perang Irak dan Afganistan, dewasa muda memiliki peningkatan risiko terkena stroke hingga 62 persen. Sebagian dari tentara yang telah pulang perang dari kedua daerah ‘berdarah’ tersebut, diketahui mengalami stres berat akibat peristiwa traumatis (post traumatic stress disorder atau PTSD) yang dialaminya.

Para tentara diketahui tidak pernah mengalami stroke sebelumnya. Namun setelah 13 tahun, ditemukan 766 tentara yang mengalami stroke kecil (transient ischemic attack atau TIA) dan 1877 mengalami stroke sumbatan. 

Setelah diusut, stres akibat peristiwa traumatis ternyata merupakan faktor risiko stroke yang lebih dominan. Mereka yang mengalami post traumatic stress disorder (PTSD) bahkan memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami diabetes dan sleep apnea (berhenti bernapas saat tidur). Penelitian tersebut pun mengungkap bahwa hubungan antara PTSD dengan stroke lebih kuat pada tentara pria dibandingkan dengan wanita. 

Berangkat dari temuan pada penelitian tersebut, Anda sebaiknya lebih waspada terhadap kejadian traumatis di masa lampau. Bukan hanya bikin stres dan gangguan pada kesehatan mental, keadaan tersebut juga bisa menyebabkan stroke yang mematikan.

Karenanya, apabila Anda pernah mengalami peristiwa traumatis, jangan segan-segan untuk langsung mencari pertolongan pada dokter atau psikiater. Dengan ini, kesehatan mental Anda bisa stabil dan risiko stroke maupun penyakit berbahaya lainnya dapat dihindari.

(NB/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar