Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Ambiguous Genitalia, Ketika Bentuk Alat Kelamin Tidak Jelas

Ambiguous Genitalia, Ketika Bentuk Alat Kelamin Tidak Jelas

Bayi bisa lahir dengan bentuk alat kelamin tidak jelas. Keadaan ini disebut ambiguous genitalia. Bagaimana gejalanya?

Klikdokter.com, Jakarta Kesulitan dalam menentukan jenis kelamin saat bayi dilahirkan ternyata memang ada. Medis menyebut kondisi ini sebagai ambiguous genitalia—suatu kondisi langka yang menyebabkan alat kelamin tidak jelas pada bayi karena organ tersebut tidak berkembang dengan sempurna saat masih dalam kandungan. 

Dalam kasus ambiguous genitalia, organ seksual eksternal dan internal bisa tidak sesuai. Misal, ambiguous genitalia yang terjadi pada bayi dengan struktur genetik perempuan bisa menyebabkan:

  • Klitoris yang membesar sehingga menyerupai penis
  • Labia yang tertutup atau labia yang disertai lipatan sehingga menyerupai skrotum 
  • Benjolan yang teraba seperti testis pada labia yang menutup

Sedangkan, bayi yang memiliki struktur genetik laki-laki dan mengalami ambiguous genitalia akan memiliki tanda-tanda seperti:

  • Ukuran penis yang sangat kecil 
  • Tidak adanya satu atau dua testis 
  • Saluran yang menghantarkan urine dan air mani tidak terbentuk hingga ujung penis

Meski gejalanya jelas, ambiguous genitalia bukanlah suatu penyakit. Ini adalah suatu kelainan perkembangan seksual yang memang dapat terlihat saat bayi dilahirkan.  Ambiguous genitalia berisiko menimbulkan tekanan batin pada anggota keluarga lainnya. 

Penyebab ambiguous genitalia

Menurut dr. Seruni Mentari Putri dari KlikDokter, penyebab ambiguous genitalia sebenarnya sama dengan penyebab kecacatan lahir pada umumnya. Yaitu:

  • Gangguan kromosom. Hal ini bersifat genetik dan keturunan. Dikatakan dr. Seruni, gangguan kromosom merupakan faktor utama dari ambiguous genitalia dan kejadiannya mirip seperti down syndrome.
  • Tidak tercukupinya nutrisi ibu hamil, misalnya saja asam folat, kalsium, vitamin D, vitamin C, dan zat besi 
  • Gaya hidup tidak sehat, misalnya kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol saat hamil

Selain itu, alat kelamin yang tidak jelas pada bayi juga dapat disebabkan oleh beberapa kondisi lainnya, seperti kurangnya hormon pria pada janin dengan struktur genetik laki-laki. Nah, kadar hormon yang tidak seimbang dapat pula membuat janin dengan struktur genetik perempuan terpapar hormon pria, sehingga ambiguous genitalia lebih sulit dicegah. 

Atas dasar itu, sangat penting bagi ibu hamil untuk menjaga keseimbangan hormon untuk mencegah beragam komplikasi kehamilan dan kelahiran, termasuk ambiguous genitalia. Adapun sejumlah cara yang bisa dilakukan supaya hormon tetap seimbang, di antaranya:

  • Konsumsi lemak sehat, seperti alpukat, ikan salmon, kacang-kacangan, dan minyak nabati dari biji-bijian (zaitun, kanola, kedelai)
  • Cukupi kebutuhan istirahat dan kelola stres dengan baik
  • Lakukan olahraga secara teratur
  • Hindari kafein dan minuman beralkohol
  • Selalu jaga pola makan dan kesehatan saluran pencernaan
  • Batasi juga asupan gula agar tidak berlebihan
1 dari 2 halaman

Mengatasi ambiguous genitalia

Hal yang pertama dilakukan untuk mengatasi ambiguous genitalia adalah menentukan jenis kelamin bayi. Hal ini membutuhkan kesepakatan antara dokter dan pihak keluarga. Setelah sepakat, penanganan dari ambiguous genitalia baru bisa dilakukan. 

Tim yang terlibat untuk mengatasi masalah alat kelamin tidak jelas pada bayi terdiri atas dokter anak, dokter neonatologi, dokter urologi anak, dokter bedah anak, dokter endokrinologi, pakar genetik, psikolog dan tenaga sosial. Dan, terapi yang dilakukan adalah:

  • Pengobatan hormonal

Pengobatan hormonal dapat membantu mengoreksi adanya kadar hormon yang tidak seimbang. Misal, pada bayi struktur genetik perempuan dengan klitoris yang membesar seperti penis, pengobatan ini dapat membantu ‘mengecilkan’ bagian organ tersebut.

  • Pembedahan rekonstruksi 

Tindakan pembedahan rekonstruksi alat kelamin juga dapat dilakukan. Hasil pembedahan biasanya memuaskan, meski tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan pembedahan ulang di waktu mendatang. Sebab, meski telah dioperasi, anak dengan kondisi ambiguous genitalia berisiko mengalami disfungsi seksual hingga kesulitan mencapai orgasme di kemudian hari.

Kondisi di mana bentuk alat kelamin tidak jelas alias ambiguous genitalia dapat dikurangi risikonya dengan gaya hidup sehat saat hamil, sekaligus menyeimbangkan kadar hormon di dalam tubuh. Jika sudah dilakukan namun si buah hati tetap terlahir dengan kondisi ‘spesial’ itu, jangan enggan untuk berdiskusi dengan dokter guna mencari tahu cara paling tepat mengatasinya.

(NB/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar