Sukses

Benarkah Vape Sebabkan Kanker Paru?

Layaknya rokok konvensional, vape dituding dapat menjadi penyebab kanker paru. Seperti apa fakta medis yang sebenarnya?

Klikdokter.com, Jakarta Dalam satu dekade terakhir, rokok elektrik alias vape menjadi sangat populer sebagai pengganti rokok konvensional. Vape diyakini tak mengandung banyak zat racun seperti yang dijumpai pada rokok konvensional, sehingga diduga cukup aman bagi kesehatan. Bagaimana faktanya?

Bagi Anda yang belum tahu, vape adalah rokok elektrik bertenaga baterai. Agar dapat berfungsi dengan semestinya, vape menggunakan cairan berbahan kimia berisi gliserin yang dicampur dengan nikotin dan zat perisa (essence), misalnya buah-buahan, kue atau mentol. 

Berbeda dengan rokok biasa, nikotin yang terkandung di dalam cairan vape bukan didapat dari proses pembakaran tembakau. Nikotin pada vape berasal dari proses ekstraksi secara kimiawi.

Vape vs rokok konvensional

Pada rokok konvensional, ratusan bahkan ribuan zat beracun dihasilkan dari pembakaran tembakau. Inilah alasan yang membuat rokok konvensional terbukti dapat memicu kanker paru dan beberapa penyakit lain yang juga berbahaya, seperti penyakit jantung koroner, stroke dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Bagaimana dengan vape? Apakah dengan tidak adanya proses pembakaran tembakau membuat vape lebih aman daripada rokok konvensional? Tidak, karena vape juga mengandung zat kimia yang berpotensi merugikan kesehatan. Beberapa zat kimia yang dimaksud, misalnya diasetil, volatile organic compound (VOS), dan beberapa logam berat seperti nikel dan timbal. Efek jangka panjang dari zat-zat tersebut memang belum diketahui dengan jelas. Akan tetapi, peneliti memiliki dugaan kuat bahwa zat-zat tersebut dapat mengakibatkan kerusakan pada paru-paru.

Vape sebabkan kanker paru?

Bila rokok konvensional telah terbukti menjadi pemicu utama kanker paru, hal ini ternyata tidak berlaku dengan vape. Karena baru digunakan selama satu dekade terakhir, belum banyak penelitian yang mampu membuktikan risiko penyakit yang bisa ditimbulkan oleh vape.

Kendati begitu, beberapa penelitian molekuler yang dilakukan pada hewan percobaan mendapatkan hasil bahwa penggunaan vape dapat mengubah sel-sel normal di dalam paru menjadi sel ganas, yang akhirnya menyebabkan kanker paru jenis adenokarsinoma.  Selain itu, penelitian pada hewan juga mengatakan bahwa penggunaan vape bisa menyebabkan pertumbuhan sel-sel ganas di saluran kencing yang pada akhirnya menyebabkan kanker.

Penelitian tersebut memang baru sebatas pada hewan. Namun, para pakar menduga bahwa nikotin dan beberapa zat kimia yang ada pada cairan vape berpotensi mengubah sel normal menjadi ganas. 

Atas dasar itu, vape tidak bisa dikategorikan sebagai cara alternatif berhenti mengisap rokok konvensional. Selain memiliki kemungkinan untuk memicu kanker paru, penggunaan vape juga berpotensi menyebabkan luka bakar yang tidak ringan. Lebih lanjut, zat kimia dalam cairan vape juga berpotensi menyebabkan gangguan pada kehamilan.

Pada intinya, vape tidak sepenuhnya aman bagi kesehatan. Oleh karena itu, vape tak direkomendasikan sebagai pengganti rokok konvensional. Jika menang ingin berhenti dari kebiasaan merokok, jangan jadikan vape sebagai ’pelampiasan’. Akan lebih baik jika Anda mengikuti program terstruktur secara medis. Program ini umumnya meliputi terapi psikososial dan penggunaan pengganti nikotin berupa permen atau patch. Berbeda halnya dengan menggunakan vape, program terstruktur secara medis terbukti aman dan tidak berpotensi memicu kanker paru atau penyakit berbahaya lainnya.

(NB/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar