Sukses

Kenali Penyebab Anak Sering BAB di Celana

Anak masih sering BAB di celana meski sudah bukan balita lagi? Agar hal itu bisa diatasi, ketahui dulu penyebab anak sering BAB di celana berikut.

Klikdokter.com, Jakarta Sebagian orang tua berpikir bahwa penyebab anak sering buang air besar (BAB) di celana adalah belum terbiasanya si Kecil BAB di toilet atau perasaan gugup. Sehingga mereka tak mampu menahan keinginan BAB. Pemikiran tersebut memang tidak salah. Namun, jika frekuensinya terlalu sering, bisa saja anak Anda terkena enkopresis fungsional atau inkontinensia fekal. 

Apa itu enkopresis?

Menurut dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, enkopresis fungsional ditandai dengan keluarnya feses sedikit demi sedikit secara tidak sengaja dan pada akhirnya mengotori celana anak. Biasanya, orang awam menyebutkan kondisi itu sebagai cepirit.

“Hal ini sering sekali terjadi pada anak yang mengalami sembelit kronis,” kata dr. Reza.

Anak alami sembelit kronis, tapi kok feses bisa keluar? Nah, pada anak yang mengalami sembelit kronis, feses memang akan mengeras. Namun, bukan berarti feses yang lebih lunak tidak bisa mengalir. Feses yang lebih lunak tersebut akan mengalir ke bagian samping tumpukan feses yang keras sehingga menyebabkan enkopresis. 

Sering BAB di celana atau enkopresis sebenarnya paling sering dialami oleh anak-anak berusia 4 tahun. Jika sudah di atas usia 4 tahun tapi anak masih mengalami enkopresis, ada kemungkinan pemicunya bukan murni gangguan pencernaan sembelit akibat kurang serat atau kurang cairan. Bisa jadi, kondisi itu dipengaruhi oleh masalah emosional. 

Gejala enkopresis

Perlu diketahui, pada anak usia sekolah, enkopresis paling mungkin memengaruhi anak laki-laki. Adapun gejala yang bisa diperhatikan orang tua, antara lain:

  • Sudah lama tidak buang air besar
  • Sakit perut
  • Nafsu makan berkurang
  • Saat ke toilet, feses yang hendak dikeluarkan cenderung keras
  • Tetapi jika dibiarkan, feses yang cair akan keluar di celana.

Semakin lama si Kecil tidak BAB di toilet, semakin banyak pula feses yang terkumpul di dalam usus besar. Penumpukan di dalam usus tersebut pada akhirnya membuat si Kecil makin kesulitan untuk mendorong feses keluar. Usus pun akan meregang, lalu memengaruhi saraf yang bertugas memberi sinyal untuk pergi ke toilet. 

Sembelit enkopresis biasanya disebabkan oleh pola makan kurang serat. Sudah menjadi rahasia umum bahwa anak-anak kurang menyukai sayur. Namun sebagai orang tua, seharusnya Anda langsung menyerah di situ.

Masih ada sumber serat lain yang bisa Anda berikan untuk mencegah timbulnya sembelit kronis, yakni potongan buah manis, rebusan sayur yang bisa dicocol dengan saus keju atau mayones dengan saus tomat, hingga oatmeal dengan potongan buah dan tambahan madu.

Jika sedari awal Anda mengakalinya seperti itu, risiko untuk mengalami sembelit kronis pemicu enkopresis pun akan rendah.

Masalah psikologis bisa sebabkan anak sering BAB di celana

Selain masalah pola makan anak yang kurang serat, sembelit kronis pemicu enkopresis juga dapat disebabkan oleh masalah psikologis anak. Apabila Anda dalam kondisi psikologis yang kurang baik, risiko untuk mengalami hal tersebut semakin tinggi.

Coba Anda ingat lagi, apakah masa toilet training-nya berjalan baik? Apakah Anda selalu marah jika mengajarinya sesuatu? Jika iya, ada kemungkinan dia trauma dan akhirnya takut untuk BAB, khususnya BAB di toilet. Si Kecil yang selalu merasa tertekan di sekolah akibat pelajaran yang susah atau teman yang nakal juga bisa memicu gangguan ini. 

Ketika anak stres, hormon serotonin di dalam tubuh meningkat. Kondisi tersebut ternyata dapat menyebabkan kejang perut. Jika kejang terjadi di seluruh bagian usus besar, proses pencernaan terjadi lebih cepat dan menimbulkan diare. Sebaliknya, apabila kejang hanya terjadi pada salah satu bagian usus besar, proses pencernaan makanan akan terhenti dan berakhir dengan sembelit. 

Oleh sebab itu, selain lebih memperhatikan asupan serat setiap hari, Anda juga mesti memastikan bahwa kondisi psikologis sudah membaik. 

Dokter Fiona Amelia, MPH dari KlikDokter juga mengatakan, sebaiknya Anda juga membiarkan anak duduk di toilet selama 10-15 menit sehabis makan. Lakukan secara konsisten, sehingga terbentuk suatu pola kebiasaan. Jika tidak berhasil keluar, jangan dimarahi. Sekadar temani dan biarkanlah dia relaks. 

Kini Anda sudah tahu penyebab anak sering BAB di celana. Jika hal itu sampai mengganggu aktivitasnya hingga mengundang bully dari teman-temannya, sebaiknya segera bawa anak Anda ke dokter untuk mengatasi enkopresis yang dialami. Selama masa penyembuhan, sediakan celana ganti dan kantong plastik di tasnya agar dia tidak panik apabila cepirit masih terjadi. 

[HNS/RPA]

0 Komentar

Belum ada komentar