Sukses

Kram Setelah Berhubungan Seksual, Apa Penyebabnya?

Pernahkah Anda mengalami kram setelah berhubungan seksual? Bila pernah, kenali penyebab dan cara mengatasinya segera.

Klikdokter.com, Jakarta Bukan cuma saat atau setelah olahraga, bisa juga terjadi kram setelah berhubungan seksual. Kondisi ini tentu saja bisa menurunkan kenikmatan pasca bercinta. Bila Anda pernah mengalaminya, mari ketahui apa saja penyebab sekaligus cara mengatasinya.

Biasanya, kram setelah berhubungan seksual terasa di area perut. Kram perut ini merupakan salah satu gejala dari kondisi medis yang disebut dispareunia. Nyeri dispareunia juga dapat terasa di panggul, vagina, dan labia.

Adapun beberapa faktor yang dapat mencetuskan kram setelah berhubungan seksual di antaranya adalah:

  • Otot terlalu tegang

Seks secara teknis mirip dengan olahraga. Saat sedang berhubungan seksual, sebagian besar otot di tubuh aktif dan menegang, khususnya di bagian panggul dan perut.

Nah, semakin jarang Anda berolahraga, semakin kaku pula otot-otot Anda saat bercinta. Alhasil, risiko mengalami kram setelah berhubungan seks jadi meningkat.

Untuk mengakalinya, Anda disarankan untuk memperbanyak aktivitas fisik untuk meregangkan otot-otot. Semakin relaks otot karena sering digunakan, semakin kecil pula risiko untuk mengalami kram.

Sebelum foreplay, Anda pun dapat melakukan aktivitas fisik terlebih dahulu agar tubuh tidak ‘kaget’ dan terlalu kaku.

  • Kondisi psikologis yang kurang baik

Rasa kaku dan tegang juga bisa dipengaruhi oleh pikiran. Pikiran yang buruk, khususnya pikiran yang berhubungan dengan trauma, akan membuat tubuh menjadi kram saat dan setelah bercinta. Intinya, perasaan waswas dapat memengaruhi banyak hal, termasuk soal seks.

  • Orgasme

Orgasme memang bisa menyumbang rasa nikmat selama beberapa waktu. Sayangnya, orgasme yang terlalu kuat juga dapat menimbulkan kram perut dan panggul. Sebab, kondisi tersebut membuat otot di bagian itu berkontraksi. Kendati begitu, Anda tak perlu khawatir. Pasalnya, kram karena orgasme bisa hilang dengan sendirinya.

  • Penyakit menular seksual

Apabila kram setelah berhubungan seksual terlalu sering dirasakan, sebaiknya Anda hati-hati. Sebab, ada kemungkinan penyebabnya bukan sekadar perasaan cemas, otot kaku karena kurang gerak, atau karena orgasme yang terlalu kuat. Bisa jadi itu didasari oleh infeksi menular seksual.

Dua jenis penyakit menular seksual yang kerap menyebabkan kram, yaitu chlamydia (klamidia) dan gonore. Menurut dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter, klamidia adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Bakteri ini biasanya ditularkan melalui aktivitas seksual.

Selain kram, gejala yang muncul dari klamidia dan biasanya dialami oleh wanita, yaitu keputihan yang berbau, nyeri berkemih, rasa gatal dan panas pada vagina, serta muncul flek darah di luar waktu haid.

Sedangkan, gejala klamidia yang dialami oleh pria selain kram setelah berhubungan seksual adalah keluarnya cairan atau sekret yang jernih atau keruh dari ujung penis, nyeri berkemih, dan bengkak di sekitar testis.

Sementara itu, gonore atau raja singa merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae lewat aktivitas seksual. Secara umum, penderitanya akan mengalami desakan untuk berkemih, demam, nyeri saat berkemih, dan keluar cairan dari vagina.

  • Menggunakan alat kontrasepsi IUD atau KB spiral

Wanita yang habis memasang alat kontrasepsi IUD atau KB spiral tak hanya lebih berpotensi mengalami kram setelah seks, tetapi juga saat melakukan aktivitas lainnya.

Jika selama beberapa minggu pasca pemasangan KB kram perut tak juga hilang atau bahkan semakin parah, segera temui dokter.

  • Infeksi rahim

“Dispareunia alias nyeri saat berhubungan saat berhubungan seksual mungkin ditemukan pada pasien dengan penyakit radang panggul,” kata dr. Theresia Rina Yunita dari KlikDokter turut menambahkan.

Untuk meredakan kram, Anda bisa mandi dengan air hangat atau kompres hangat untuk meningkatkan aliran darah dan merelaksasi otot-otot yang telanjur menegang. Jika nyeri bertahan cukup lama, parasetamol juga dapat dikonsumsi. Lalu, jangan lupa lakukan aktivitas fisik secara rutin agar tubuh lebih ‘luwes’ saat berhubungan seksual.

Asupan vitamin E, B1, B6, asam lemak omega-3, dan magnesium juga dapat meredakan ketegangan di otot sekaligus mengatasi kram dan nyeri.

Di luar faktor-faktor di atas, masih ada lagi beberapa faktor yang bisa menyebabkan kram setelah berhubungan seksual, yaitu infeksi saluran kemih, fibroid, dan endometriosis. Untuk mendapatkan diagnosis pasti, dibutuhkan pemeriksaan secara menyeluruh oleh dokter.

(RN/ RH)

1 Komentar