Sukses

4 Fakta dan Mitos tentang Sleep Apnea

Banyak mitos yang beredar terkait sleep apnea. Agar tak keliru, Anda wajib tahu mitos dan fakta terkait sleep apnea berikut.

Klikdokter.com, Jakarta Sleep apnea adalah salah satu gangguan tidur yang ditakuti karena dapat menyebabkan henti napas untuk sesaat. Meski begitu, masih banyak mitos menyesatkan yang beredar terkait sleep apnea. Agar tak ikut keliru, Anda wajib tahu mitos dan fakta terkait sleep apnea berikut.

Sleep apnea dan faktor risikonya

Seperti sempat disinggung sebelumnya, sleep apnea adalah gangguan tidur serius karena adanya henti napas saat tidur. Saat alami henti napas, otak dapat membangunkan tubuh agar bisa kembali melanjutkan bernapas.

Jika tidak tertangani dengan baik, penderita akan bangun berulang kali karena berhenti napas saat tidur. Hal tersebut dapat berbahaya karena tubuh, terutama otak, tidak mendapatkan pasokan oksigen secara memadai.

Ada dua jenis sleep apnea, yaitu: 

  • Sleep apnea obstruktif, yaitu kondisi akibat adanya penyumbatan di jalan napas ketika jaringan lunak jatuh (secara alami) selama tidur. Ini adalah jenis yang lebih umum dibandingkan sleep apnea sentral.
  • Sleep apnea sentral, adalah gangguan yang bukan disebabkan oleh jalan napas tidak terhalang, tapi ada masalah dengan otak yang memberi sinyal pada otot untuk bernapas.

Sementara itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena sleep apnea, antara lain:

  • Kelebihan berat badan
  • Sumbatan hidung yang kronis
  • Pria usia lebih dari 40 tahun
  • Diabetes, asma, dan merokok
  • Ada riwayat penyakit sleep apnea di keluarga
  • Jalan napas sempit, dan memiliki sakit tekanan darah tinggi (hipertensi)
1 dari 2 halaman

Fakta dan mitos tentang sleep apnea

Saat ini, masih banyak mitos yang berkembang di masyarakat seputar sleep apnea. Beberapa mitos disertai fakta tersebut adalah:

Mitos #1: tidak mendengkur, maka tidak memiliki sleep apnea

Orang yang punya kebiasaan mendengkur kerap dipercaya memiliki atau berisiko sleep apnea. Padahal faktanya, meskipun orang-orang dengan sleep apnea obstruktif umumnya mendengkur, hal itu bukanlah tolok ukur. 

Sleep apnea obstruktif disebabkan oleh relaksasi otot-otot di belakang tenggorokan, yang menghambat pernapasan normal. Otot-otot ini bertanggung jawab atas struktur langit-langit lunak, uvula (benda yang menggantung di belakang tenggorokan), amandel, dan lidah. 

Ketika otot-otot ini terlalu rileks, struktur-struktur tersebut menjadi lunak dan dapat menghalangi jalan napas dan membuatnya lebih sempit. Akibatnya, bernapas akan jauh lebih sulit.

Mendengkur memang adalah salah satu efek samping dari otot dan struktur ini yang melunak. Namun—sekali lagi—bukan berarti saat mendengkur Anda menderita sleep apnea.

Mitos #2: tidak kelebihan berat badan, maka tidak memiliki sleep apnea

Alasan mitos ini ada karena sekitar setengah dari orang dengan sleep apnea obstruktif alami kelebihan berat badan atau bahkan obesitas. Penyebabnya, tumpukan lemak di sekitar jalan napas bagian atas memang dapat menghalangi pernapasan. 

Namun, tidak semua orang dengan sleep apnea obstruktif kelebihan berat badan. Sebaliknya, orang kurus atau orang dengan ukuran tubuh berapa pun juga dapat mengalami gangguan ini.

Mitos #3: sleep apnea tidak dapat diobati, tapi harus terima

Mitos bahwa sleep apnea tidak bisa disembuhkan juga banyak dipercayai masyarakat. Namun faktanya, sleep apnea obstruktif adalah kondisi yang dapat diobati. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi apakah Anda benar-benar mengalami gejala sleep apnea atau tidak. 

Caranya, tanyakan kepada orang yang tidur di sebelah Anda tentang pola tidur Anda sepanjang malam. Apakah Anda kerap terbangun atau apakah Anda mengalami kegelisahan saat tidur. 

Selain itu, apabila Anda mendapati diri mengalami gejala kelelahan dan kantuk di siang hari, atau merasa lelah saat bangun dengan sakit kepala, itu dapat menjadi tanda sleep apnea.

Mitos #4: sleep apnea hanya akan dialami pria

Sleep apnea hanya dialami kaum pria hanyalah mitos belaka. Faktanya, wanita juga dapat terkena gangguan tidur ini. Hanya saja, wanita dengan sleep apnea kurang dapat terdiagnosis karena mereka lebih enggan berkonsultasi dengan dokter terkait masalah mendengkur. 

Selain itu, mendengkur pada wanita mungkin tidak terlalu diperhatikan karena suaranya tidak sekeras pria. Para wanita juga dapat melaporkan gejala yang berbeda, seperti insomnia, sakit kepala di pagi hari, gangguan suasana hati, kurang energi dan kantuk. 

Gejala-gejala tersebut dapat menyulitkan diagnosis sleep apnea pada wanita. Di sisi lain, wanita yang telah mengalami menopause berisiko lebih tinggi mengalami sleep apnea.

Empat mitos dan fakta tentang sleep apnea di atas wajib Anda ketahui agar tidak terjebak dalam informasi yang salah. Jika Anda termasuk ke dalam faktor risikonya dan alami gejala-gejala sleep apnea, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.

[HNS/RPA]

1 Komentar