Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Kenali Perbedaan Sirop Jagung, Sirop Glukosa, dan Sirop Fruktosa

Kenali Perbedaan Sirop Jagung, Sirop Glukosa, dan Sirop Fruktosa

Sama-sama merupakan pemanis tambahan dalam makanan kemasan, Anda perlu kenali perbedaan sirop jagung, sirop glukosa, dan sirop fruktosa.

Klikdokter.com, Jakarta Gula ada di mana-mana. Jenis karbohidrat ini sering ditemui dalam berbagai makanan, termasuk buah, sayur, produk olahan susu, jus, hidangan penutup, camilan, hingga minuman. Sering jadi pemanis tambahan, Anda perlu mengenali perbedaan sirop jagung, sirop glukosa, dan sirop fruktosa.

Apa itu sirop jagung?

Secara alami, jagung memang memiliki kandungan gula dalam bentuk pati. Struktur kimia pati terdiri atas banyak rantai sakarida (rantai gula) yang tergabung dalam sebuah struktur besar.

Nah, pati jagung tidak akan terasa manis apabila dia tidak diolah menjadi sirop terlebih dulu. Pati jagung yang kompleks itu harus diurai menjadi rantai sakarida yang lebih sederhana, sehingga rasa manisnya lebih terasa.

Pemanis buatan ini dihasilkan dengan cara mencampurkan pati jagung, air, dan enzim alfa-amilase. Enzim tersebut berasal dari bakteri Bacillus.

Setelah semua tercampur, adonan sirop jagung itu diberi tambahan enzim gamma-amilase yang berasal dari jamur Aspergillus. Barulah setelah itu, sirop jagung berubah menjadi pemanis multifungsi, yang warnanya putih bening agak kekuningan.

Apa itu sirop fruktosa?

Tak seperti jagung yang memiliki rantai sakarida kompleks, buah-buahan seperti mangga, apel, dan kelengkeng memiliki struktur kimia yang sederhana, yaitu satu rantai sakarida (monosakarida). Buah-buahan tersebut mengandung gula dalam bentuk fruktosa dan termasuk gula alami.

Meski termasuk gula alami, fruktosa yang terdapat dalam makanan kemasan hanya bisa dipecah dan dicerna oleh organ hati. Hasil akhir dari proses pencernaan tersebut adalah trigliserida (lemak darah), asam urat, dan radikal bebas.

Sebagian orang juga tidak mampu menyerap semua fruktosa yang dimakan. Kondisi ini dikenal sebagai malabsorpsi fruktosa. Gejalanya, terdapat gas yang berlebih (kembung) dalam perut, sehingga menyebabkan gangguan pencernaan.

Apa itu sirop glukosa?

Sirop glukosa dapat berasal dari berbagai macam buah-buahan dan sayuran, misalnya dari makanan tinggi glukosa seperti anggur, aprikot, cranberry, nangka, atau pisang raja.

Secara teknis, sirop glukosa bisa diproduksi dari jenis makanan ini. Namun, rata-rata sirop glukosa yang ada di swalayan dibuat dari jagung atau gandum.

Sirop glukosa banyak digunakan dalam berbagai produk seperti kue, permen, selai, dan es krim. Bahkan, jenis sirop ini juga dipakai produk farmasi seperti obat batuk cair.

Pemanis ini juga diketahui dapat meningkatkan berbagai sifat kuliner dalam makanan, misalnya tekstur dan volume. Sirop glukosa juga dapat menambah kilau misalnya pada macaroon atau icing kue cake. Meski demikian, sirop ini kurang begitu manis, sehingga pemakaiannya umumnya tetap didampingi gula.

Antara ketiganya, mana yang paling sehat?

Apa pun jenis pemanisnya, Anda harus selalu mengingat bahwa terlalu banyak mengonsumsi gula dampaknya buruk bagi tubuh.

Dari KlikDokter, dr. Dyan Mega Inderawati mengatakan bahwa baik sirop jagung, sirop fruktosa, maupun sirop glukosa tidak berbahaya dan aman untuk dikonsumsi. Apalagi jika Anda tak memiliki masalah kesehatan yang berhubungan dengan gula darah seperti diabetes.

“Semuanya bergantung pada seberapa banyak gula yang dikonsumsi dan kondisi kesehatan orang yang mengonsumsinya. Jika punya diabetes, tentu saja konsumsi gula harus dibatasi sesuai anjuran dokter. Pada orang sehat pun, tetap ada batasan yang harus dipatuhi,” jelas dr. Dyan.

Sirop jagung, sirop glukosa, dan sirop fruktosa adalah pemanis tambahan. Nah, anjuran konsumsi gula tambahan harian versi Badan Kesehatan Dunia (WHO) adalah 25 gram per hari, baik pria maupun wanita. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) juga menyatakan hal serupa.

American Heart Association punya panduan yang lebih spesifik yaitu: sekitar 38 gram atau 9 sendok teh pada pria, sekitar 25 gram atau 6 sendok teh pada wanita, serta tak lebih dari 25 gram atau 6 sendok teh pada anak-anak usia 2-18 tahun.

Kini Anda sudah bisa mengenali perbedaan sirop jagung, sirop glukosa, dan sirop fruktosa, yang ketiganya sering dipakai sebagai pemanis tambahan dalam makanan atau minuman. Meski secara teknis berbeda, tetapi mereka tetap merupakan bentuk gula yang konsumsinya harus dibatasi. Jika tidak, siap-siap saja dengan serangan berbagai penyakit!

(RN/RH)

0 Komentar

Belum ada komentar