Sukses

Orang Tua Wajib Tahu, Ini 5 Penyebab Anak Menjadi Nakal

Dulu, si Kecil lebih mudah untuk dinasihati. Entah kenapa, sekarang tidak begitu! Lantas, apa ya, penyebab anak mulai nakal dan susah diatur?

Klikdokter.com, Jakarta Punya anak penurut bisa menghemat energi dan kesabaran, sehingga Anda dapat meluapkan dua hal tersebut ke hal lain, ke pekerjaan kantor dan rumah misalnya. Sayang, keinginan kerap tak sejalan dengan kenyataan. Kini anak Anda mulai bertingkah buruk dan susah untuk dinasihati. Penyebab anak mulai nakal ternyata ada macam-macam. Berikut penjelasannya. 

Bertingkah buruk yang dimaksud di sini adalah anak mulai suka melanggar peraturan, membantah ucapan, tidak mendengarkan, memukul, menggigit, bahkan tak menutup kemungkinan dia mencuri sesuatu. Sebagai orang tua, tentu Anda merasa tak pernah mengajari hal tersebut. Namun, seperti inilah kira-kira pemicu hal tersebut. 

  1. Anak berusaha mencari perhatian

Mungkin, Anda sudah merasa menjadi orang tua yang baik dengan cara membelikannya ini itu. Tapi coba ingat-ingat lagi. Apakah akhir-akhir ini Anda sering meluangkan waktu untuk menemaninya bermain, mengobrol, atau menghadiri acara di sekolahnya? Apakah saat berbicara, Anda benar-benar mendengarkan dan menatap matanya? 

Jangan-jangan Anda melakukannya sambil sibuk main gawai! Saat dia berprestasi dan menunjukkan hasilnya kepada Anda, apakah Anda mengapresiasinya? Jika tidak, bisa saja anak berubah menjadi nakal untuk mencari perhatian orang tuanya! Dia berpikir, kalau menjadi anak baik tidak perhatikan, lebih baik, dia menjadi anak nakal agar lebih orang tuanya “ngeh”. 

  1. Pola asuh Anda kurang tepat

Selain tidak memberikan perhatian penuh, ada lagi faktor penyebab dari orang tua yang bisa membuat anak menjadi nakal, yaitu pola asuh kurang tepat. Biasanya, kondisi seperti ini lahir dari orang tua yang sering mengkritik, terlalu protektif, atau suka melakukan kekerasan di rumah. Jika memang seperti itu, jangan heran bila akhirnya anak berubah ke arah negatif. 

  1. Rasa ingin tahu yang tinggi

Sudah menjadi rahasia umum bahwa anak-anak punya keingintahuan yang tinggi. Saking “kepo”-nya dia terhadap sesuatu, anak sering menunjukkan perilaku yang kadang kurang masuk akal. Misalnya saja, berusaha mengambil dan mengangkat ikan dari akuarium atau membuka buku Anda dan menyobeknya. 

Itu sebenarnya dilakukan tanpa niatan jahat. Dia hanya ingin tahu, bagaimana jika hewan yang hidup di air tak lagi berada di air. Dia juga ingin tahu, apa sebenarnya yang ada di dalam buku berwarna menarik itu. Sayangnya, rasa ingin tahu yang muncul belum berjalan lurus dengan perkembangan fungsi otaknya. Sehingga, dia belum tahu mana yang benar dan salah.

  1. Belum bisa berkomunikasi dengan baik 

Ini sebenarnya cukup berkaitan dengan penyebab yang pertama. Saat si Kecil merasa tidak diperhatikan, tetapi dia kesulitan untuk menyampaikannya karena belum bisa berkomunikasi dengan baik, maka muncul perilaku nakal. 

Adapun perilaku yang dikeluarkan untuk menyampaikan emosi dan maksud hati, antara lain berteriak dan menangis kencang, memukul, atau menggigit. Jika dia melakukan salah satu atau bahkan ketiganya, cobalah untuk sabar. Berikan dia kasih sayang agar emosinya mereda dan coba tanyakan baik-baik maksudnya. Saat sudah tenang, anak kecil akan berbicara lebih jelas. 

  1. Punya masalah medis tertentu

Ada beberapa kondisi medis yang bisa mendorong atau memicu anak untuk lebih agresif dan menjadi nakal. Misalnya, autisme, ADHD, gangguan bipolar, gangguan kecemasan, atau gangguan kompulsif obsesif. 

Selain itu, anak dengan disleksia juga lebih sulit untuk belajar dan cenderung mudah frustasi. Akibat tak mampu mengikuti pelajaran, mereka akan memberi respons negatif, seperti memberontak, tidak mau mengerjakan tugas, dan selalu ingin membolos. 

1 dari 2 halaman

Bagaimana mendisiplinkannya?

Untuk menyiasati perilaku anak yang mulai nakal, dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter menyarankan orang tua untuk memberlakukan time out, selain menasihati. 

Anda dapat memberi peringatan kepada anak dengan menghitung 1-10 agar dia segera menghentikan perbuatan yang dilakukannya tersebut.

“Anda juga harus menepati perkataan yang Anda ucapkan sendiri. Jika Anda memberlakukan time out selama 5 menit, lakukanlah tepat selama 5 menit. Jangan menguranginya lantaran Anda luluh dengan matanya yang berkaca-kaca,” jelas dr. Karin. 

Jika anak berusaha lari dari “tempat hukumannya”, gendonglah anak tersebut kembali ke tempatnya semula, dan mulailah waktu 5 menit kembali dari awal. Pilihlah tempat yang tepat, yaitu pojokan yang aman dan sepi, jauh dari mainan dan hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian anak sebagai “tempat hukumannya”. 

“Namun, jangan gunakan kamar tidur atau tempat bermainnya. Anda tentu tidak ingin jika anak memiliki memori buruk tentang tempat tersebut,” tambah dr. Karin. 

Tak hanya itu, Anda diperbolehkan “mencabut” kebebasannya dalam menikmati kemewahan tersier untuk sementara. Misalnya, camilan kesukaan, gawai, mainan, dan sebagainya. 

Itu dia penyebab anak menjadi nakal yang orang tua wajib ketahui. Ada yang merupakan faktor dari orang tua dan ada pula faktor dari anak itu sendiri. Terpenting lagi, Anda perlu sabar dalam mengatasi kenakalannya dan lakukanlah cara pendisiplinan yang tepat tanpa marah-marah agar dia tidak trauma. 

[RPA]

0 Komentar

Belum ada komentar