Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Membuat Perasaan Orang Lebih Baik Tanpa Melakukan Toxic Positivity

Membuat Perasaan Orang Lebih Baik Tanpa Melakukan Toxic Positivity

Menyuruh seseorang yang sedang didera masalah untuk positif dengan mengabaikan emosi negatif yang ingin diungkapkan, bisa menjadi toxic positivity.

Klikdokter.com, Jakarta Tagar #ToxicPositivity sempat trending di Twitter, menyoroti perilaku ‘positif’ sebetulnya tidak menunjukkan empati atau bersifat toksik. Singkatnya, toxic positivity adalah mendorong orang-orang untuk hanya menunjukkan emosi dan perasaan positif.

Unggahan seperti “good vibes only”, “be positive”, “semua pasti ada hikmahnya”, atau quotes motivasi positif, bisa dianggap sebagai sesuatu yang toksik. Niatnya mungkin membantu, tetapi bagi sebagian orang yang mendengarnya, hal tersebut justru bisa membuat mereka merasa kecil diri, bahkan bisa menjadi pemicu gangguan psikis seperti depresi.

Lihat dulu kondisinya, jangan asal merespons

Dilansir dari laman Detik Health, Veronica Adesla, seorang psikolog klinis dari Personal Growth mengatakan, toxic positivity adalah istilah untuk menggambarkan kata atau dorongan agar orang lain berpikir positif seburuk apa pun kondisi yang tengah dialaminya. 

Sayangnya, tak semudah itu untuk melihat sisi positif dari sebuah masalah, sehingga yang terjadi justru muncul perasaan yang sebaliknya. 

Selama ini, Anda hidup dengan nilai sosial yang mengajarkan bahwa hidup harus dijalani dengan semangat, sabar, dan selalu melihat sisi positif. 

Nah, demi menciptakan kondisi tersebut, Anda pun langsung memberikan kata-kata positif kepada mereka yang sedang dirundung duka. Ada baiknya mulai sekarang, sesuaikan ucapan Anda dengan situasi dan karakter kepribadian orang yang sedang diajak bicara.

Hindari kalimat seperti, “ambil hikmahnya saja”, “ambil positifnya saja”, “ah, itu sudah biasa, kok”, “jangan terlalu dipikirkan”, atau “bersyukurlah”. 

Menganggap enteng masalah seseorang, menyuruhnya untuk mencari hikmah dari masalah, atau bahkan membandingkannya dengan kondisi lain yang lebih buruk dapat semakin mengecilkan hati dan menambah beban pikiran. 

1 dari 3 halaman

Bukannya lebih baik, malah bikin tambah down

Sering kali Anda melakukan perbandingan saat seseorang menceritakan masalahnya. Mungkin, tujuan Anda melontarkan kalimat “Kamu, sih, masih mending” agar si empunya masalah tidak merasa bahwa masalahnya adalah yang terbesar dan bersyukur. 

Namun, Anda perlu ingat bahwa tingkat ketahanan mental tiap orang berbeda-beda. 

Membanding-bandingkan antara penderitaan si A dengan si B atau bahkan dengan Anda sendiri akan membuat lawan bicara akan membuat dirinya semakin tidak berharga. Ia akan merasa dirinya melebih-lebihkan, tidak berguna, sehingga bisa meningkatkan stres atau depresi yang mungkin sudah dialami.

Pemilik masalah biasanya tidak akan menyanggah saran-saran positif yang diberikan, karena mungkin ia tak lagi punya tenaga untuk menanggapinya. Akhirnya, ia hanya mengangguk sambil tersenyum masam dalam menanggapi toxic positivity

Jika terus-menerus terjadi, bukan tak mungkin ia merasa tak ada lagi orang yang benar-benar peduli padanya dan memilih untuk mengakhiri hidup. 

Anda pun mungkin menyadari bahwa kalimat-kalimat berbau toxic positivity bisa dikeluarkan dengan mudah, karena faktanya Anda tak terlalu peduli dengan masalah orang tersebut.

Respons dari seseorang terkadang bisa menjadi tolok ukur apakah orang itu benar-benar peduli atau tidak. 

Secara umum, orang yang sungguh peduli akan membantu untuk mencari solusinya. Jika tidak bisa, mungkin satu-satunya cara adalah mendengarkan, tidak asal merespons, dan berusaha memahami sudut pandangnya. 

2 dari 3 halaman

Bagaimana cara agar tidak melakukan toxic positivity?

Bila Anda memang ingin membantu, ada sejumlah cara agar jangan sampai Anda melakukan toxic positivity.

  • Dengarkan ceritanya dengan saksama. Jika ada yang belum jelas, coba tanyakan lagi dan jangan menghakimi. Menunjukkan keingintahuan bisa membuatnya merasa bahwa Anda benar-benar peduli. 
  • Tanyakan bagaimana perasaannya sekarang. Setelah itu, Anda bisa mengatakan bahwa Anda memahaminya. Misalnya saja, “Saya kurang lebih paham dengan apa yang kamu rasakan”, “saya juga pasti akan sedih bila mengalami apa yang kamu rasakan”, dan sebagainya.
  • Setelah berusaha memahami, Anda bisa bertanya tentang hal-hal yang bisa dibantu. 

Bantulah sebisa Anda dan jika tidak bisa, jangan lupa katakan maaf dan bantu cari alternatifnya. Jika ia bilang hanya ingin bercerita, tetap ingatkan bahwa bila ia butuh bantuan, Anda siap membantu.

  • Ketimbang langsung menyemangati, lebih baik tunjukkan dulu rasa empati. 
  • Terkadang, seseorang hanya butuh didengarkan dan dialihkan pikirannya dari masalah yang dialami. Jika itu yang diinginkan, cobalah hibur dengan mengajaknya melakukan aktivitas menyenangkan. 

Contoh kegiatan menyenangkan yang berdampak positif terhadap kesehatan mental adalah bernyanyi (karaoke). 

Menurut dr. Andika Widyatama dari KlikDokter, bernyanyi dapat menurunkan hormon kortisol yang berkaitan dengan stres di tubuh dan meningkatkan hormon endorfin dan oksitosin yang dapat memperbaiki mood

Asal-asalan dalam memberikan kalimat positif yang klise dan membandingkan masalah merupakan bentuk dari toxic positivity. Perilaku tersebut bisa membuat kondisi mental seseorang semakin terpuruk, karena merasa tidak benar-benar dipedulikan. Bila memang ingin membantu, tawarkan bantuan, mencoba menempatkan diri di posisinya, atau sesederhana mendengarkan keluh kesahnya tanpa menghakimi.

(RN/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar