Sukses

Migrain Saat Hamil, Berbahayakah?

Migrain bisa dialami siapa saja, termasuk ibu hamil. Tapi, apakah kondisi ini menandakan suatu bahaya bila terjadi saat kehamilan?

Klikdokter.com, Jakarta Saat hamil, para wanita akan merasakan berbagai macam situasi. Salah satu yang bisa dialami oleh ibu hamil adalah migrain. Terkait kehamilan, apakah migrain menandakan suatu bahaya dan perlu dikhawatirkan?

Migrain dan kehamilan

Sakit kepala migrain memang sangat mengganggu, apalagi dalam kondisi hamil. Banyak ibu hamil percaya bahwa itu merupakan suatu tanda bahaya dalam sebuah kehamilan.

Namun, menurut sebuah penelitian, wanita hamil memang bisa mengalami migrain karena stres terhadap kehamilan mereka sendiri, baik pada fase sebelum maupun sesudah melahirkan.

Sebuah penelitian memantau kondisi 99 wanita, selama trimester kedua kehamilan sampai dengan 9 minggu setelah melahirkan. Hasilnya, sembilan persen wanita mengalami depresi selama kehamilan. Sementara 12 persen lainnya mengalami depresi setelah melahirkan.

"Stres psikologis merupakan faktor pencetus terjadinya sakit kepala tipe tension type headache (TTH) dan migrain terbanyak. Maka wajar saja apabila wanita hamil sering mengeluh migrain," ujar dr. Melyarna Putri dari KlikDokter.

Bukan penanda untuk melahirkan

Bagi banyak calon ibu, beberapa minggu terakhir kehamilan bisa menjadi saat yang sangat menegangkan. Kontraksi yang konsisten dan pecahnya air ketuban biasanya menjadi tanda persalinan yang jelas. Tapi, bagaimana dengan sakit kepala, seperti migrain?

Sebagian orang percaya bahwa migrain merupakan tanda untuk melahirkan. Sayangnya, hal ini sama sekali tidak benar.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, migrain selama kehamilan adalah kejadian umum. Pada sebuah penelitian tahun 2013 yang diterbitkan dalam Journal of Pregnancy and Child Health, 35 persen ibu hamil mengalami ‘sakit kepala kehamilan’. 

Penyebabnya, pun cukup beragam. Mulai dari stres, dehidrasi, hingga perubahan hormon. Tetapi menurut dr. Huma Farid, seorang ahli kandungan di Harvard Medical School, sakit kepala bukanlah pertanda bahwa Anda akan melahirkan. 

"Saya tidak menganggap sakit kepala sebagai tanda persalinan. Sakit kepala pada ibu hamil kemungkinan merupakan tanda dehidrasi, kurang tidur, atau stres. Atau yang lebih memprihatinkan, bisa jadi ini merupakan tanda pertama preeklamsia," ujar dr. Farid seperti dikutip dari Romper. 

Kondisi ini memang tampak sulit, karena tidak ada banyak pilihan perawatan untuk sakit kepala selama kehamilan. Pasalnya, menenggak obat saat hamil tidak disarankan sama sekali. Ibu hamil yang mengalami migrain biasanya akan disarankan istirahat.

"Migrain dapat terjadi pada kehamilan, tetapi lebih sering terjadi ketika seseorang memiliki riwayat migrain sebelum kehamilan," sambung dr. Farid.

1 dari 2 halaman

Sakit kepala parah dan gejala preeklamsia

Jangan mengabaikan sakit kepala saat hamil! Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), sakit kepala parah yang terjadi tiba-tiba menjelang melahirkan bisa jadi merupakan gejala awal preeklamsia. 

"Preeklamsia terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu. Dalam kondisi ini, wanita mengalami peningkatan tekanan darah, sakit kepala, perubahan penglihatan, dan sakit perut," ungkap Farid. 

Preeklamsia sendiri merupakan kondisi yang sangat serius dan memerlukan pemantauan tekanan darah dan gejala, dan evaluasi di rumah sakit.

Oleh karena itu, Anda disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter atau bidan jika mengalami sakit kepala. 

Dalam sebuah studi tahun 2015 yang diterbitkan dalam jurnal Neurology, sepertiga dari wanita hamil yang pergi ke UGD karena sakit kepala pada trimester ketiga ditemukan memiliki kondisi sekunder. Setengah di antaranya mengalami preeklamsia atau hipertensi kehamilan.

Jadi, migrain memang merupakan kondisi yang umum dialami saat hamil. Meski demikian, bila kondisi Anda memburuk atau muncul serangan sakit kepala parah selama kehamilan, jangan meremehkannya. Konsultasikan kondisi Anda segera pada dokter kandungan.

(RH)

0 Komentar

Belum ada komentar