Sukses

6 Hal Pemicu Mom-Shaming yang Perlu Diwaspadai

Tanpa sadar, perilaku mempermalukan ibu lain atau mom-shaming bisa terjadi akibat “tersulut” oleh pemicu ini.

Klikdokter.com, Jakarta Mom-shaming adalah perilaku mempermalukan ibu lain, baik secara personal maupun di hadapan banyak orang. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa dirinya, sebagai ibu, sempurna atau lebih baik. Sadar atau tidak, ada beberapa pemicu mom-shaming yang perlu diwaspadai.

Perilaku mom-shaming tidak dapat dibenarkan karena bisa berdampak psikis pada korban. Pelaku mom-shaming biasanya adalah seorang teman, anggota keluarga, bahkan pasangan, atau bisa juga orang asing misalnya saat sedang di swalayan atau tempat penitipan anak.

Pernyataan yang menghakimi, misalnya mempertanyakan atau mengejek, bisa membuat  korban mempertanyakan pola asuh atau harga dirinya. Pelaku mungkin mencoba untuk memvalidasi pola asuh yang ia terapkan.

Pemicu perilaku mom-shaming

Menurut pendapat pakar atau psikolog, perilaku mom-shaming terjadi karena ada pemicu yang melatarbelakangi pelaku. Di antaranya adalah:

  1. Meluapkan amarah

Mengasuh dan membesarkan anak itu tidak mudah, tidak seperti para influencer di media sosial yang menunjukkan “kesempurnaan” dalam berkeluarga.

Faktanya, masalah pasti ada. Misalnya anak terus-terusan rewel, sulit makan, rumah berantakan lagi padahal baru saja dibereskan, pasangan kerja lembur terus, dan sebagainya. Kemungkinan, tumpukan kekesalan atau kemarahan yang tersalurkan akhirnya dilampiaskan pada ibu lainnya.

  1. Bosan dengan rutinitas

Misalnya pada ibu yang tidak bekerja, rutinitas mengasuh anak, suami, dan rumah dari pagi hingga malam tentu saja bisa melahirkan kebosanan. Media sosial bisa menjadi hiburan. Namun di sisi lain, kebebasan berpendapat dalam media sosial rentan memicu perilaku mom-shaming lewat berbagai komentar yang menghakimi.

  1. Merasa iri

Melihat seorang ibu yang tetap terlihat cantik menawan saat terlihat sibuk mengurus anak, ibu yang tak butuh lama untuk kembali ke berat badannya sebelum hamil, ibu dengan anak yang tidak rewel dan penurut, ibu dengan suami yang tampak selalu mendukung—ibu mana yang tidak iri?

Dari rasa iri, akhirnya keluarlah ejekan atau fitnah. Kadang manusia bisa saling membenci karena ingin menjadi sempurna versi orang lain, padahal sebenarnya diri sendirinya yang dibenci karena dianggap tak cukup menarik.

  1. Bingung dengan identitas diri

Menjadi ibu, apalagi ibu baru, bisa menciptakan rasa kesepian. Inginnya tentu berada di sekitar orang-orang yang punya pemikiran yang sama, bahkan jika itu berarti “mengorbankan” teman atau orang lain yang tidak sependapat.

  1. Kewalahan

Bayi bangun tengah malam dan sulit tidur lagi, memandikan anak, anak seorang picky eater, kakak dan adik sering berkelahi, membersihkan rumah, mengantar anak ke sekolah setiap hari, cuci piring, menjadi ibu bekerja, jarang ada istirahat bagi seorang ibu.

Semua aktivitas mengurus rumah, anak, dan pekerjaan tentu bisa bikin kewalahan. Sebagai hiburan, akhirnya meluncurlah ke media sosial, lalu mengunggah konten yang mengaburkan fakta. Misalnya mengunggah foto anak yang tampak sedang bermain padahal Anda kesal anak sedari tadi membuat rumah berantakan, memamerkan foto menu makan anak padahal anak tak mau memakannya, dan lain-lain, seolah pola asuh Anda tanpa cela.

Jadilah orang tua yang jujur, tunjukkan bahwa mengasuh anak tak seindah atau semudah yang ditunjukkan sebagian besar influencer di media sosial.

  1. Butuh pengakuan

Keberhasilan ibu dalam menidurkan bayi tepat waktu, menyiapkan bekal makan sehat anak setiap hari, atau mendidik anak tentu rasanya membanggakan. Rasa bangga ini sering kali dipamerkan dalam berbagai kesempatan dan ingin diakui keberhasilannya. Tanpa disadari, ekspresi kebanggaan ini dapat menyakiti ibu lainnya.

Coba introspeksi, apakah Anda sering melakukan mom-shaming? Jika ya, segera hentikan. Ingat, setiap ibu punya kendala, kapasitas, dan perjuangannya masing-masing. Tak perlu membandingkan kehebatan, karena mengasuh anak itu bukanlah sebuah kompetisi.

Bila Anda sering menerima perlakuan mom-shaming, Anda bisa menghadapi pelaku dengan candaan. Tanpa tersulut amarah, sampaikan bahwa pola asuh Anda bukan urusan orang lain. Ingat, pelaku mom-shaming tidak tahu apa pun tentang kehidupan Anda, cuma Anda yang tahu apa yang terbaik untuk keluarga.

Itulah beberapa pemicu mom-shaming. Ingatkan juga diri Anda bahwa Anda selalu berusaha melakukan yang terbaik sesuai kondisi dan kemampuan. Daripada saling mempermalukan sesama ibu yang sama-sama berjuang untuk yang terbaik, saling membantu akan jauh lebih bermakna.

(RN)

0 Komentar

Belum ada komentar