Sukses

7 Dampak Stres pada Ibu Hamil

Kehamilan bisa membuat wanita penuh rasa khawatir, bahkan stres. Padahal, stres bisa berdampak pada kesehatan ibu hamil dan janinnya.

Klikdokter.com, Jakarta Pada beberapa wanita, kehamilan tidak semudah yang dibayangkan. Kekhawatiran pasti ada, bahkan sampai sebabkan stres akibat banyak hal. Padahal, stres, apalagi yang terus-menerus, bisa berdampak pada kesehatan ibu hamil dan janinnya.

Kehamilan adalah kondisi yang rentan pada wanita. Tak hanya secara fisik, tetapi juga psikis. Bukan tanpa alasan ibu hamil bisa mengalami stres akibat banyaknya perubahan yang terjadi dan harus beradaptasi dengan tubuh burunya.

Stres pada hamil adalah hal yang wajar. Namun jika stres yang dirasakan konstan, efeknya pada ibu hamil dan janin akan berlangsung lama.

Menurut dr. Dyan Mega Inderawati dari KlikDokter, ketika seorang ibu hamil mengalami stres, maka akan ada peningkatan detak jantung yang nantinya bisa memengaruhi gerakan pada janin. Hal ini akan mengakibatkan janin lebih aktif bergerak di dalam rahim.

Selain detak jantung meningkat, hormon pemicu stres saat hamil juga bisa menimbulkan gangguan lainnya pada ibu maupun bayi yang sedang dikandung.

Dampak stres pada ibu hamil

Lebih lengkapnya, berikut ini adalah pengaruh stres pada kehamilan.

1. Ibu hamil kurang tidur

Karena terlalu banyak hal yang dipikirkan, hal pertama yang dampaknya langsung bisa dirasakan adalah jadi kurang tidur. Kata dr. Dyan, kurang tidur pada ibu hamil dapat memengaruhi kondisi kesehatan dan kebugaran tubuh secara keseluruhan.

2. Nafsu makan berkurang

“Apabila stres sampai memengaruhi nafsu makan dan membuatnya menurun, akibatnya bisa berbahaya. Pasokan makanan bergizi yang dibutuhkan oleh ibu dan janin tentu bisa berkurang, sehingga dikhawatirkan pertumbuhan janin akan terganggu,” ujar dr. Dyan.

3. Memengaruhi perkembangan kognitif anak

Juga dari KlikDokter, dr. Reza Fahlevi juga mengatakan bahwa stres pada kehamilan dapat berpengaruh pada perkembangan kognitif anak.

Ada sebuah penelitian di Tiongkok yang membuktikan bahwa stres psikologis yang terjadi selama kehamilan bisa menyebabkan gangguan kecerdasan kognitif dan emosional anak di masa yang akan datang.

“Penelitian itu menyebutkan bahwa kemampuan kognitif dan emosional anak yang lahir dari ibu yang mengalami stres berat akan memiliki level kecerdasan yang lebih rendah. Selain itu, anak juga lebih temperamental dibandingkan dengan anak yang lahir dari ibu yang tidak mengalami stres dan kecemasan berlebih,” kata dr. Reza menjelaskan.

“Baik itu stres secara psikologis maupun depresi selama kehamilan, keduanya memang bisa sama-sama mengganggu perkembangan otak anak sehingga menyebabkan kemampuan kognitif dan emosionalnya lebih rendah,” tambahnya.

4. Meningkatkan risiko preeklamsia

Preeklamsia atau sering disebut toksemia ini adalah suatu kondisi yang bisa dialami oleh setiap wanita hamil. Penyakit ini ditandai dengan meningkatnya tekanan darah, yang diikuti oleh peningkatan kadar protein di dalam urine.

Penderita juga akan mengalami pembengkakan di kaki dan tangan. Preeklamsia umumnya muncul pada pertengahan usia kehamilan.

Jika tidak diobati, preeklamsia dapat menyebabkan komplikasi serius, yang mungkin akan berakibat fatal pada ibu dan bayi.

5. Bayi berat lahir rendah

Sebuah penelitian yang dimuat di “British Medical Journal” menunjukkan, kejadian yang membuat ibu merasa stres saat hamil dapat menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi. Selain itu, persalinan prematur rentan terjadi.

Akibatnya, bayi akan lahir dengan berat lahir yang rendah (di bawah 2.500 gram). Stres yang dimaksud di sini berbeda dengan kecemasan biasa, melainkan stres yang terjadi akibat kejadian besar yang menimbulkan dukaan atau ketakutan yang begitu besar.

Bayi dengan berat lahir rendah rentan mengalami berbagai penyakit, perlu usaha ekstra untuk mengejar berat badannya yang ideal, dan berisiko mengalami keterlambatan perkembangan.

6. Kelahiran prematur

Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, ibu hamil rentan mengalami kelahiran prematur (bayi lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu).

“Ini karena otot polos rahim akan merespons katekolamin yang dikeluarkan tubuh ibu saat stres. Hormon tersebut membuat otot rahim ibu mudah untuk kontraksi,” jelas dr. Sepriani.

“Bayi yang lahir prematur akan memiliki organ tubuh yang belum matang sepenuhnya dan relatif belum siap untuk hidup di luar rahim. Akibatnya, bayi mudah terkena infeksi, rentan mengalami gangguan napas, gangguan jantung, hingga gangguan tumbuh kembang saat ia besar,” lanjutnya.

7. Infeksi di dalam rahim

Dokter Sepriani juga mengatakan, infeksi dalam rahim (korioamnionitis) merupakan komplikasi yang terjadi setelah ketuban pecah dini. Stres juga dapat memicu infeksi dalam rahim.

Kondisi ini ditandai dengan ibu yang mengalami demam tinggi, ketuban berbau atau berwarna hijau, dan denyut jantung janin yang tidak teratur serta gawat janin.

Melihat dampak-dampak yang bisa diakibatkan oleh stres pada kondisi kehamilan, ibu hamil harus mampu mengelola stres sebaik mungkin. Meski Anda yang hamil, tetapi pasangan juga punya andil dalam lancarnya kehamilan. Bicarakan segala kekhawatiran Anda dengan pasangan dan cari solusi. Bagi tugas dengan pasangan, pembantu, atau siapa pun di rumah, sehingga ibu hamil tetap punya waktu untuk me-time. Bila stres terasa begitu berat, jangan ragu untuk minta bantuan profesional seperti psikolog.

(RN/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar