Sukses

Sakit Tifus, Haruskah Dirawat di Rumah sakit?

Sakit tifus bisa membuat badan lemas dan menimbulkan keluhan lain yang benar-benar mengganggu. Tapi, haruskah sampai dirawat di rumah sakit?

Klikdokter.com, Jakarta Nama penyakit tifus mungkin sudah tidak asing di telinga Anda. Keluhan yang berkaitan dengan faktor kebersihan alias higienitas ini bisa membuat penderitanya mengalami gejala yang benar-benar mengganggu. Tidak heran, sebagian orang yang sakit tifus harus dirawat di rumah sakit.

Tifus atau dalam bahasa medis disebut dengan demam tifoid merupakan penyakit yang terjadi akibat infeksi bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini umumnya akan menyerang kelompok usia 5 hingga 30 tahun.

Gejala tifus sangat luas dan bervariasi. Pada umumnya, seseorang yang dicurigai mengalami sakit tifus akan merasakan gejala berupa demam tinggi lebih dari tujuh hari dan tidak mereda meski sudah minum obat penurun panas.

Tidak hanya itu, gejala berikut ini juga bisa menjadi tanda dari adanya sakit tifus:

  • Badan lemas dan terasa sulit digerakkan
  • Terasa pusing dan sangat nyeri, yang bahkan membuat kepala terasa ingin pecah
  • Nyeri pada otot tubuh
  • Nyeri perut, mual dan muntah
  • Sulit buang air besar

Penyakit tifus, haruskah dirawat di rumah sakit?

Melihat gejalanya yang tergolong parah, apakah setiap penderita tifus mesti dirawat di rumah sakit? Terkait hal ini, dr. Alvin Nursalim, Sp.PD dari KlikDokter mengatakan bahwa tidak semua pasien tifus harus dirawat di rumah sakit. 

“Kebanyakan penyakit tifus bisa disembuhkan dan bisa diobati hanya dengan rawat jalan. Tidak perlu sampai menginap di rumah sakit, karena tifus bukan kondisi yang terlalu parah sehingga masih bisa diobati di rumah,” ujar dr. Alvin.

Kendati demikian, ada pula beberapa kondisi yang memang membuat penderita penyakit tifus wajib dirawat di rumah sakit. Beberapa kondisi yang dimaksud, antara lain:

  • Penderita tifus mengalami demam lebih dari 39 derajat Celsius.
  • Penderita tifus mengalami keluhan mual muntah yang sangat berlebihan sehingga membuat penderita mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh.
  • Penderita tifus masih berusia anak-anak atau balita.
  • Penderita tifus tidak bisa mengonsumsi makanan sama sekali, sehingga berpotensi mengalami kekurangan gizi.

“Tifus yang tidak diobati dengan memadai dapat memicu komplikasi, di antaranya perdarahan dan robeknya saluran pencernaan,” tutur dr. Alvin.

 Jika sudah terjadi perdarahan di saluran pencernaan, penderita bisa mengalami muntah darah, tinja berwarna hitam, kulit pucat, badan sangat lemas, hingga sesak napas.

Mencegah penyakit tifus

Supaya terhindar dari penyakit tifus, beberapa upaya pencegahan yang bisa Anda lakukan adalah:

  • Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum menyiapkan makanan, sebelum dan sesudah makan, serta setelah keluar dari kamar mandi. Anda bisa menggunakan sabun antiseptik saat mencuci tangan agar kuman dan bakteri bisa mati dengan menyeluruh. 
  • Pastikan Anda mengonsumsi air minum yang matang. Selain itu, perhatikan wadah air minum Anda, harus benar-benar bersih dan kering. Jika minum dengan menggunakan es batu, pastikan es batu tersebut dibuat dengan air matang yang bersih. 
  • Hindari mengonsumsi makanan yang tidak terjamin kebersihannya. Misalnya, makanan tanpa bungkus yang dijual di pinggir jalan.

Pastikan juga makanan yang Anda konsumsi sudah dimasak hingga matang. Jika harus mengonsumsi hidangan mentah seperti sayur atau buah, harus sudah dicuci bersih terlebih dahulu.

  • Lakukan vaksinasi tifoid di rumah sakit atau pusat kesehatan terdekat.

Pada kasus yang ringan, orang yang sakit tifus memang tidak perlu ke rumah sakit untuk membantu mengatasi kondisinya. Namun pada kasus yang berat atau terjadi pada anak, penderita dianjurkan untuk rawat inap di rumah sakit hingga keluhan benar-benar sembuh. Jangan anggap sepele, penyakit tifus bisa menyebabkan kematian jika tidak diobati dengan benar.

(NB/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar