Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Kobarkan Semangat Penelitian dengan Anugerah Karya Cipta Dokter Indonesia

Kobarkan Semangat Penelitian dengan Anugerah Karya Cipta Dokter Indonesia

Memperingati Hari Dokter Nasional ke-69, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan PT Kalbe Farma Tbk. menggelar Anugerah Karya Cipta Dokter Indonesia.

Klikdokter.com, Jakarta Dalam rangka memperingati Hari Dokter Nasional ke-69, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bersama PT Kalbe Farma Tbk. menyelenggarakan Anugerah Karya Cipta Dokter Indonesia (AKCDI). Simak seperti apa jalannya acara tersebut di sini!

Penelitian berdasarkan bukti ilmiah sepertinya belum melekat di masyarakat Indonesia. Dilansir dari laman Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), produktivitas penelitian negeri ini hanya 0,02 persen pada 2015.

Capaian itu masih rendah dari angka ideal, yakni 15 persen. Padahal, jumlah peneliti cukup besar, dengan prevalensi 1.071 orang per satu juta penduduk.

Berangkat dari rendahnya produktivitas penelitian

Berbagai faktor pemicu dikaitkan dengan rendahnya produktivitas penelitian. Salah satu yang dianggap menonjol adalah kurangnya bentuk penghargaan terhadap para peneliti beserta hasil temuannya. Alhasil, semangat untuk mengeksplorasi berbagai hal yang sebenarnya berguna untuk masyarakat menjadi rendah.

Berangkat dari kurangnya produktivitas serta bentuk apresiasi, IDI ingin membuat suatu program penghargaan, khususnya kepada dokter Indonesia. Mereka yang akan diberikan penghargaan adalah dokter yang telah berdedikasi dan bekerja keras dalam menghasilkan karya penelitian di bidang kesehatan sekaligus berpengaruh positif terhadap masyarakat.

1 dari 2 halaman

Disambut baik oleh PT Kalbe Farma Tbk.

Beruntung, tujuan IDI selaras dengan visi misi PT Kalbe Farma Tbk. (Kalbe Farma) yang ingin memajukan dunia kesehatan Tanah Air dan kerap memberi award pada para ilmuwan, misalnya lewat Kalbe Science Awards dan Kalbe Junior Scientist Awards.

IDI dan Kalbe Farma menyelenggarakan program bertajuk AKCDI yang puncak acaranya diselenggarakan di Ballroom Sheraton Grand Gandaria Jakarta, Sabtu lalu (26/10).

Program tersebut dikembangkan oleh Lembaga Riset IDI yang dipimpin oleh dr. Marhaen Hardjo, M.Biomed, Ph.D.

“Kami melakukan penjurian terhadap hasil penelitian yang memang sudah dilakukan sebelumnya, bukan penelitian yang baru akan dilakukan. Program ini berlangsung selama tiga bulan untuk menyeleksi 72 penelitian menjadi 60, lalu 10, dan akhirnya menjadi 3 besar,” jelas dr. Marhaen dalam sesi konferensi pers.

Selain meningkatkan geliat penelitian dokter, dr. Marhein mengatakan, AKCDI diharapkan mampu mengubah citra IDI yang telanjur terpatri di masyarakat.

“Selama ini, IDI lekat image-nya dengan pemeriksaan medis para pejabat atau dengan kasus hukum malapraktik. Dengan adanya AKCDI, IDI ingin menunjukkan, kami ini juga komunitas ilmiah, bukan hanya yang mengurus hal-hal seperti itu,” tambahnya.

Sementara itu, dr. Daeng M. Faqih, SH, MH, selaku Ketua Umum Pengurus Besar IDI periode 2018-2021 menuturkan, selain rebranding IDI, AKCDI bertujuan untuk mempersempit jarak ketertinggalan serta membuka inovasi dan kontribusi berdasarkan evidence base.

Di Indonesia, masih banyak penelitian yang dilakukan tidak berdasarkan bukti ilmiah. Sehingga, tidak bisa diakui dan dijadikan rujukan untuk membuat suatu kebijakan ataupun meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

“Nantinya, penelitian yang baik dan memenuhi syarat harus dimuat di jurnal medis. Malaysia saja sudah punya jurnal medis. Nah, IDI juga harus punya jurnal tersebut. Dengan memiliki jurnal, IDI bisa sejajar dengan organisasi kesehatan lain di tingkat Asia maupun dunia,” kata dr. Daeng. 

Untuk mengubah hal itu, IDI menyadari bahwa mereka tidak bisa melakukannya sendiri. IDI harus melakukan kolaborasi, termasuk salah satunya bekerja sama dengan Kalbe Farma.

Kalbe Farma. telah lama memiliki tradisi untuk menerbitkan penelitian ilmiah. Dengan demikian, mengawinkan potensi antara kedua belah pihak akan menghasilkan jurnal-jurnal kesehatan yang berkualitas internasional.

Pernyataan itu pun disambut baik oleh Direktur Kalbe Farma, Dr. Michael Buyung Nugroho. Kalbe Farma akan mendukung IDI dalam meningkatkan riset dokter Indonesia hingga tahun 2020. Kalbe Farma juga tetap menghargai hak kekayaan intelektual dari peneliti jika nantinya ada kerja sama lebih lanjut.

Tiga penelitian terbaik

Adapun Embedded Contentspenelitian yang masuk ke dalam tiga terbaik setelah melewati proses penjurian, yaitu:

  • Inovasi Metode Deteksi Kanker Paru Non-Invasif Menggunakan Balon Karet sebagai Penampung Napas-Hembusan (Exhaled-Breath) Terkondensasi, Berbasis Pemeriksaan Metilasi DNA dengan Methylation-Specific PCR dan Analisis Senyawa Organik dengan Gas Chromatography” Mass Spectrometry oleh Achmad Hudoyo.
  • Survival of Isolated Humasnan Pre-Antral Follicles after Vitrification: Analysis of Morphology and The Expression of Fasl and Caspase-3 Mrna” oleh Budi Wiweko
  • Menyibak Tabir Sel Punca Kanker untuk Target Deteksi dan Terapi Kanker” oleh Septelia Inawati.

Selain itu, Kalbe Farma dan IDI juga membagikan hadiah berupa plakat dan uang tunai masing-masing sebesar 20 juta rupiah.

Lewat Anugerah Cipta Karya Dokter Indonesia, semoga hubungan baik antara IDI dan Kalbe Farma semakin meningkatkan semangat penelitian di Indonesia. Dengan begitu, hasilnya dapat dijadikan sebagai rujukan pembuatan kebijakan atau inovasi pengobatan dan pelayanan yang dapat dirasakan oleh setiap lapisan masyarakat.

(RN)

0 Komentar

Belum ada komentar