Sukses

Mengenal Sindrom Skeeter, Reaksi Alergi Gigitan Nyamuk

Bukan hanya bentol dan gatal, gigitan nyamuk juga bisa menimbulkan reaksi alergi yang parah. Kenali dan waspadai!

Klikdokter.com, Jakarta Ketika bicara soal efek gigitan nyamuk, apa yang pertama kali Anda pikirkan? Apakah bentol dan gatal? Tak salah memang. Namun, tahukah Anda bahwa ada sebagian orang yang mengalami efek lebih parah daripada itu? Kondisi ini dikenal dengan sebutan sindrom Skeeter alias reaksi alergi gigitan nyamuk.

Faktanya, nyamuk mengeluarkan sejumlah protein untuk mencegah penggumpalan darah, sehingga bisa menyedot darah targetnya dengan ‘lancar’. Pada orang-orang yang mengalami sindrom Skeeter, paparan protein tersebut bisa menimbulkan reaksi alergi yang parah.

Gejalanya dapat berupa bercak-bercak merah, peradangan, hingga bisul. Tidak hanya itu, ada pula penderita sindrom Skeeter yang mengalami gejala sangat parah setelah terkena gigitan nyamuk.

Beberapa gejala yang dimaksud, antara lain:

  • Muncul memar di lokasi gigitan 
  • Mengalami radang sistem getah bening (lymphangitis)
  • Pembengkakan di tenggorokan 
  • Batuk-batuk dan sesak napas 
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Mual muntah
  • Sensitivitas terhadap cahaya
  • Kelemahan otot di satu sisi tubuh

Terjadinya gejala tersebut dikenal medis dengan sebutan reaksi anafilaksis. Orang yang mengalami reaksi anafilaksis benar-benar tidak bisa terkena alergen, dalam kasus ini gigitan nyamuk.

Proses penyembuhan cukup lama

Menurut American Academy of Allergy, Asthma, & Immunology (AAAAI), nyamuk harus berkontak dengan kulit minimal 6 detik untuk memunculkan reaksi sindrom Skeeter.

Apabila ‘persyaratan’ tersebut terpenuhi, penderita sindrom Skeeter akan mengalami benjolan lunak yang lama-kelamaan bisa berubah warna menjadi merah muda. Beberapa saat kemudian, benjolan berubah warna lagi menjadi sangat merah dan mengeras. Gejala ini bertahan hingga 48 jam setelah digigit nyamuk. 

Setelah beberapa hari, rasa gatal akan memudar, bentol atau benjolan merah tua akan berubah menjadi merah muda dan berangsur kembali ke warna kulit semula. Proses ini memakan waktu kurang lebih 3–4 hari. Sedangkan untuk pembengkakan, kondisi ini butuh waktu kurang lebih 1 minggu agar benar-benar mengempis. 

Mencegah dan mengatasi reaksi sindrom Skeeter

Orang dewasa jarang terkena sindrom Skeeter. Sebab, sindrom ini terjadi pada orang yang memiliki daya tahan tubuh belum stabil atau lemah seperti anak-anak.

Meski demikian, anak-anak yang mengalami sindrom Skeeter tidak akan mengalami kondisi tersebut selamanya. Ketika beranjak dewasa, kondisinya akan jauh lebih baik dan kebal terhadap protein dalam air liur nyamuk.

Sistem daya tahan tubuh sudah terlatih dan membentuk antibodi, sehingga tubuh hanya akan bereaksi sewajarnya setelah digigit nyamuk.

Nah, saat reaksi sindrom Skeeter terjadi, cara terbaik untuk mengobatinya adalah dengan mengonsumsi obat alergi (antihistamin) yang dosisnya telah diresepkan oleh dokter.

Selain itu, penderita juga bisa meredakan gejala yang dialaminya dengan mandi menggunakan air hangat yang dicampur oatmeal.

Apabila sudah sembuh tapi menimbulkan bekas, dr. Alberta Jesslyn Gunardi, BMedSc. Hons dari KlikDokter menyarankan untuk mengoleskan krim yang mengandung hidrokuinon 2 persen yang dijual di pasaran.

“Krim hidrokuinon 2 persen termasuk dalam dosis yang aman dan penggunaannya hanya pada bekas luka saja. Aplikasikan pada malam hari agar hasilnya benar-benar maksimal,” jelas dr. Alberta. 

Lindungi buah hati dari reaksi alergi gigitan nyamuk alias sindrom Skeeter. Caranya, oleskan losion anti-nyamuk yang sesuai dengan kondisi kulit anak, pasang kelambu, dan kenakan pakaian panjang. Apabila gejalanya sudah terlanjur terjadi dan anak tampak sangat ‘kesakitan’, jangan sungkan untuk segera berobat ke dokter.

(NB/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar