Sukses

Gula Tebu vs Gula Non-Tebu, Mana yang Lebih Sehat?

Tak selalu berasal dari tebu, ternyata ada juga gula non-tebu. Lalu, mana yang lebih baik untuk kesehatan?

Klikdokter.com, Jakarta Gula merupakan salah satu dari sembilan bahan pokok (sembako) yang rutin Anda gunakan sehari-hari. Biasanya, jenis yang sering dipakai adalah gula pasir atau gula putih. Tapi, tahukah Anda jika gula tersebut terbagi atas gula tebu dan gula non-tebu? Lalu, mana di antara keduanya yang lebih baik untuk kesehatan?

Gula tebu, gula non-tebu, dan proses pembuatannya

Sesuai namanya, gula tebu berasal dari tebu, yaitu tanaman yang bentuknya menyerupai bambu. Dalam proses pembuatannya, tebu akan diperas untuk mendapatkan sarinya. 

Saat ini, sari tebu juga mudah ditemukan di pasaran dan sering dikonsumsi langsung sebagai minuman yang menyegarkan. Namun, dalam proses pembuatan gula, sari tebu masih akan menjalani pemurnian dan penguapan untuk menghilangkan kandungan airnya. 

Setelah penguapan, maka akan terbentuk kristal-kristal gula. Kemudian, kristal-kristal tersebut akan menjalani proses penyulingan kembali. Sementara, untuk mendapatkan warna putih pada gula, umumnya digunakan arang –baik dari tulang binatang yang dibakar maupun batu bara.

Walaupun tebu digunakan sebagai bahan baku pembuatan gula di banyak negara, tapi gula juga dapat dibuat dari bahan selain tebu. Salah satu yang paling sering adalah bit, yaitu sejenis umbi-umbian, dan telah digunakan pada sekitar sepertiga pembuatan gula di dunia.

Proses pembuatannya juga cukup mirip dengan gula berbahan tebu. Awalnya, bit akan dipotong tipis-tipis, kemudian dicampur air panas untuk mendapatkan sarinya yang kaya gula. 

Kemudian, sari bit tersebut akan disaring dan menjalani penguapan, sehingga terbentuk sejenis sirop yang kental. Sirop tersebut akan direbus untuk membuang kelebihan airnya, sampai yang tersisa hanya kristal gulanya.

Sebagai konsumen, mungkin Anda akan sulit membedakan gula tebu dan non-tebu, mengingat hasil akhirnya sama-sama berupa gula putih. 

Tapi dari segi rasa, ada sedikit perbedaan di antara keduanya, di mana gula tebu terasa lebih manis dan beraroma buah, sementara gula non-tebu memiliki rasa terbakar seperti karamel.

Jumlah konsumsinya sama-sama harus dibatasi

Gula putih, baik tebu maupun non-tebu, sama-sama mengandung sukrosa. Saat Anda konsumsi, sukrosa akan dipecah lebih lanjut menjadi glukosa dan fruktosa yang masuk ke dalam darah, serta berperan dalam meningkatkan kadar gula darah. 

Kadar gula darah yang tinggi sering dikaitkan dengan berbagai penyakit. Mulai dari peningkatan risiko diabetes, gangguan hati, merusak gigi, atau merusak pembuluh darah yang dapat menimbulkan penyakit jantung. Jadi, Anda harus mengontrol konsumsi gula.

American Heart Association (AHA) pun turut memberikan saran pembatasan konsumsi gula per hari. Pada perempuan, konsumsi gula harian disarankan tak melebihi enam sendok teh. Sementara pada laki-laki, sebaiknya tak lebih dari sembilan sendok teh.

Gula putih memiliki indeks glikemik 65. Dengan indeks glikemik yang semakin tinggi, maka makanan tersebut akan semakin cepat dicerna dan diubah menjadi gula, sehingga berpotensi menimbulkan peningkatan kadar gula darah yang drastis.

Jadi, bisa dibilang bahwa gula putih yang berasal dari tebu maupun non-tebu sebenarnya memiliki nilai nutrisi yang sama. Oleh karena itu, tak ada yang lebih sehat untuk dikonsumsi di antara keduanya. Keduanya berpotensi merugikan kesehatan jika dikonsumsi secara berlebih, terutama dalam meningkatkan risiko diabetes.

[MS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar