Sukses

Menurut Dokter, Ini Penyebab Tersering Rambut Rontok

Ada beberapa penyebab rambut rontok. Namun menurut para ahli, inilah penyebab terseringnya!

Klikdokter.com, Jakarta Keluhan rambut rontok sangat menyebalkan, bahkan bisa bikin panik. Pasalnya, kulit kepala berisiko mengalami kebotakan! Rambut rontok disebabkan oleh beberapa faktor. Namun menurut para ahli, memang ada beberapa penyebab tersering.

Seiring bertambahnya usia, rambut memang akan mengalami kerontokan. Akan tetapi, kerontokan rambut yang terjadi sebelum waktunya atau saat usia masih produktif baru bisa dianggap sebagai masalah.

"Rambut rontok bisa terjadi karena beberapa faktor, mulai dari infeksi, kemoterapi, anemia, gangguan hormonal, hingga penggunaan obat-obatan tertentu," sebut dr. Nadia Octavia dari KlikDokter.

Penyebab tersering rambut rontok

Selain yang telah disebut dr. Nadia di atas, inilah penyebab rambut rontok tersering menurut beberapa para ahli.

1. Telogen effluvium

Telogen effluvium adalah kondisi sementara yang dapat terjadi setelah kehamilan, operasi besar, penurunan berat badan yang drastis, atau stres yang ekstrem. Rambut umumnya akan mengalami kerontokan dalam jumlah banyak setiap hari, biasanya ketika keramas atau menyisir rambut.

2. Alopecia areata

Berdasarkan penjelasan dari dr. Melyarna Putri, MPH, M.Gizi, dari KlikDokter, alopecia areata adalah kondisi rambut rontok yang tidak menular, disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang secara keliru menyerang folikel rambut.

“Folikel rambut berfungsi sebagai unit pertumbuhan pada setiap batang rambut. Apabila folikel rambut mengalami kerusakan, ini berarti tidak ada rambut yang tumbuh pada satu batang rambut tersebut. Akibatnya, muncul kebotakan di daerah kepala tertentu yang biasanya mulus, berbentuk lingkaran atau oval, dan berwarna merah muda pucat,” kata dr. Melyarna menjelaskan.

Kerontokan rambut total di kepala dikenal sebagai alopecia totalis, sedangkan kerontokan rambut yang terjadi di seluruh tubuh disebut alopecia universalis.

"Beberapa pasien telah melaporkan bahwa sebelum titik botak terjadi, mereka merasakan sesuatu di daerah yang terdampak seperti kesemutan atau iritasi," kata Francesca Fusco, MD, seorang dermatolog bersertifikat yang berbasis di New York, Amerika Serikat, seperti dilansir di Prevention.

3. Efek samping obat

Obat-obatan seperti obat penurun kadar kolesterol, obat untuk tekanan darah, obat untuk psoriasis, dan obat anti-kejang, memiliki efek samping yang menyebabkan kerontokan rambut. Biasanya, efek samping ini akan mulai Anda rasakan sekitar 3 bulan setelah memulai pengobatan.

4. Masalah tiroid

Sebuah studi dalam jurnal kesehatan “Australasian Journal of Dermatology” menunjukkan bahwa alopecia areata memiliki kaitan yang erat dengan gangguan tiroid.

Faktanya, perubahan status hormon tiroid bisa memengaruhi folikel rambut. Terlalu banyak atau sedikitnya hormon tiroid dapat membuat folikel rambut menjadi “panik” dan mengakibatkan rontok. Kondisi ini tidak berlangsung permanen.

5. Anemia

Juga dari KlikDokter, dr. Adeline Jaclyn juga turut menambahkan bahwa darah atau hemoglobin membawa oksigen untuk pertumbuhan dan perbaikan sel-sel tubuh, termasuk pertumbuhan rambut.

Ketika kadar hemoglobin rendah atau kurang darah terjadi disebut anemia. Anemia salah satunya dapat disebabkan oleh kurangnya nutrisi, yaitu zat besi. Kekurangan (defisiensi) zat besi menyebabkan tubuh tidak dapat memproduksi hemoglobin pada darah.

“Rambut rontok akibat anemia defisiensi zat besi memberikan penampakan kebotakan yang tradisional, baik pada laki-laki maupun perempuan. Pada laki-laki, kebotakan akan mulai terjadi pada pelipis atau puncak kepala hingga ke dahi. Pada perempuan, kebotakan akan terjadi secara umum pada daerah puncak rambut hingga ke bagian samping, tetapi bagian dahi tetap tebal atau hanya menipis,” kata dr. Adeline menjabarkan.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

6. Sindrom ovarium polikistik

Sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovary syndrome (PCOS) adalah kondisi yang disebabkan ketidakseimbangan hormon, di mana indung telur memproduksi terlalu banyak hormon pria. Kondisi ini dapat dimulai sejak usia 11 tahun dan sering kali menyebabkan infertilitas.

Gejala-gejala PCOS dapat menyebabkan pertumbuhan rambut wajah, menstruasi yang tidak teratur, jerawat, dan kista pada ovarium.

"Sementara itu, Anda mungkin mengalami kerontokan rambut di kulit kepala, tapi justru akan melihat lebih banyak rambut di bagian tubuh lain," kata Dr. Fusco.

7. Psoriasis, ketombe, dan kondisi kulit kepala lainnya

"Kulit kepala yang tidak sehat dapat menyebabkan peradangan. Jika itu terjadi di dalam kulit kepala, maka dapat menyebabkan kerontokan rambut,” kata Gary Goldenberg, MD, asisten profesor klinis dermatologi di Fakultas Kedokteran Icahn di Mount Sinai.

Kondisi kulit yang bisa menyebabkan kerontokan rambut antara lain dermatitis seboroik (ketombe), psoriasis, dan infeksi jamur seperti kurap.

8. Penggunaan produk rambut yang berlebih dan sering mengubah warna rambut

Terlalu sering keramas dan mengubah warna rambut dapat merusak rambut Anda. Kombinasi perawatan, seperti keratin dan pengeringan (blow), juga dapat menyebabkan kerusakan. Pada akhirnya, semuanya dapat menyebabkan kerontokan rambut.

9. Diet rendah protein

Jika baru menjalani pola makan vegan atau vegetarian, Anda bisa mengalami kekurangan protein. Ketika ini terjadi, maka dapat mematikan pertumbuhan rambut. Hal ini biasanya terjadi pada 2-3 bulan setelah asupan protein dipangkas.

10. Menopause

Menurut National Institute on Aging (NIA), menopause adalah periode 12 bulan setelah menstruasi terakhir seorang perempuan. Selama periode ini, tubuh perempuan memproduksi lebih sedikit hormon estrogen dan progesteron. Pada periode ini, rambut bisa rontok.

11. Lupus

Lupus adalah penyakit autoimun kronis yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Banyak orang dengan lupus juga mengalami kerontokan rambut, baik yang ringan maupun parah.

Itulah beberapa masalah yang menurut para ahli menjadi penyebab tersering rambut rontok. Bila Anda mengalami rambut rontok yang cukup parah dan kerontokan sering terjadi, sebaiknya perisakan ke dokter. Karena mungkin saja penyebabnya adalah kondisi medis yang cukup serius dan harus mendapat penanganan medis.

[MS/RN]

0 Komentar

Belum ada komentar