Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Anda Tidak Disarankan Makan Kerang Hijau dari Teluk Jakarta, Kenapa?

Anda Tidak Disarankan Makan Kerang Hijau dari Teluk Jakarta, Kenapa?

Disukai secara luas, tetapi Anda tidak disarankan untuk mengonsumsi kerang hijau, khususnya yang berasal dari Teluk Jakarta. Apa penyebabnya?

Klikdokter.com, Jakarta Baru-baru ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menyarankan masyarakat untuk tidak makan kerang hijau yang berasal dari Teluk Jakarta. Sebabnya adalah kandungan logam beracun dan berbahaya akibat pencemaran berat di kawasan tersebut. Bahkan, Pemerintah DKI Jakarta telah disarankan untuk mengawasi konsumsi kerang hijau tersebut sejak tahun 2004 lalu.

Kerang hijau di Teluk Jakarta sudah tercemar

Dikatakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Sri Widyastuti di Balai Kota pada hari Selasa (15/10), seperti dikutip di Tempo.co, yang berbahaya adalah kandungan timbalnya. Kabar ini tentu cukup mengkhawatirkan, mengingat kerang hijau (Perna viridis) adalah salah satu jenis seafood yang murah dan nikmat.

Institut Pertanian Bogor (IPB) pernah mengadakan penelitian terkait kerang hijau di Teluk Jakarta pada tahun 2000, yang mencoba meneliti kandungan logam berat yang meningkat dari tahun ke tahun. Penelitian tersebut kembali dilanjutkan pada 2004 melalui pendanaan dari Bappeda DKI Jakarta.

"Kadar konsentrasi logam berat di dalam kerang itu cukup tinggi sehingga tidak layak dikonsumsi lagi," kata Profesor Etty Riani, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Keluatan di IPB kepada Antara.

Dari hasil penelitian di Teluk Jakarta tersebut, ditemukan kerang hijau mengandung cukup banyak logam berat di dalamnya seperti merkuri (Hg), kadmium (Cd), timbal (Pb), krom (Cr) dan timah (Sn). Hewan yang pasif diam di dasar perairan ini memang memiliki kemampuan menangkap logam berat.

Daripada dikonsumsi, Prof. Etty menyarankan agar kerang hijau yang ada di Teluk Jakarta dimanfaatkan untuk upaya konservasi, yaitu untuk memperbaiki kualitas perairan pantai Jakarta yang sudah mengalami pencemaran berat.

Kerang hijau memang menjadi salah satu hewan laut yang tidak bisa menghancurkan benda asing yang masuk karena tidak memiliki organ hati. Pada akhirnya, semua benda asing ditampung di dalamnya, termasuk logam berbahaya.

Dari tiga lokasi tempat penelitian yang berjarak sekitar 1.000-3.000 meter, ditemukan bahwa kandungan logam bervariasi. Dari yang paling rendah sekitar 3 ppm sampai 74 ppm.

Padahal, berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), batas maksimal cemaran mikroba dan kimia dalam makanan yang aman berkisar antara 0,01-1,0 ppm.

Jika Anda begitu penyuka kerang hijau, Prof. Etty menyarankan Anda untuk mencari kerang hijau yang diambil dari tempat budidaya yang aman, yang pasti bukan dari Teluk Jakarta.

Bahaya logam beracun ketika masuk dalam tubuh

Logam beracun yang masuk ke dalam tubuh bisa menimbulkan bahaya, apalagi jika paparannya terus-menerus atau dalam jumlah besar. Beberapa jenis logam yang berbahaya untuk kesehatan tubuh antara lain:

  • Timbal

Dikatakan oleh dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, makanan atau minuman yang terkontaminasi timbal bisa berbahaya untuk tubuh, khususnya untuk anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

“Dampak paparan timbal pada anak-anak bisa menyebabkan gangguan perilaku, gangguan atensi atau pemusatan perhatian, pubertas yang terlambat, gangguan pendengaran, hambatan tumbuh kembang, penurunan fungsi kognitif, serta penurunan daya ingat,” kata dr. Nadia menyebutkan.

Sedangkan pada orang dewasa, kontaminasi timbal bisa meningkatkan risiko hipertensi, gangguan saraf (tremor dan gangguan sistem saraf pusat), penurunan fungsi ginjal penurunan fungsi ginjal, dan masalah kesuburan. Demikian dilanjutkan oleh dr. Nadia.

  • Merkuri

Tak hanya bisa “tersangkut” di makanan, merkuri juga bisa ditemukan pada kosmetik, benda elektronik, dan alat medis.

Merkuri adalah logam berat yang secara alami berada di lingkungan, tetapi memiliki sifat toksik dan berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan jika tidak dikontrol penggunaannya.

Paparan merkuri untuk bisa menyebabkan keracunan makanan tergantung dari jumlah, cara merkuri masuk ke dalam tubuh, dan lamanya paparan.

"Keracunan merkuri akut atau secara tiba-tiba dapat terjadi dengan gejala seperti nyeri tenggorokan, nyeri perut, mual, dan muntah. Keluhan ini biasanya terjadi pada pekerja tambang dalam industri pengolahan logam merkuri dan penambangan emas," ujar dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter.

Sementara itu, tanda dan gejala keracunan jika seseorang terpapar merkuri dalam jangka waktu 5-10 tahun antara lain:

  • Gangguan penglihatan
  • Gangguan keseimbangan
  • Gangguan berbicara dan pendengaran
  • Kelemahan otot-otot tubuh.
  • Kesemutan
  • Tremor
  • Gangguan tidur
  • Otot berkedut
  • Sakit kepala
  • Perubahan emosi
  • Sesak napas
  • Kerusakan ginjal

Turut ditambahkan oleh dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid, juga dari KlikDokter, sebagian ikan laut memang mengandung merkuri. Namun, tak semua ikan mengandung merkuri yang tinggi. Hewan laut yang mengandung merkuri tinggi di antaranya adalah hiu, ikan makerel raja, ikan pedang, dan ikan tuna sirip kuning. Sedangkan yang kadar merkurinya rendah adalah ikan salmon, tuna, sarden, dan udang.

“Jenis makanan laut ini dapat dikonsumsi hingga 340 miligram dalam satu minggu.

Merkuri hingga 5 miligram per liter aman dan tidak akan menimbulkan gangguan apa pun di dalam tubuh,” pungkas dr. Resthie.

Daripada makan kerang hijau dari Teluk Jakarta yang tidak disarankan, lebih baik pilih makanan laut lainnya. Jika Anda begitu menyukai kerang, masih banyak pilihan kerang lain yang tersedia atau cari kerang hijau yang sumbernya berasal dari tempat budidaya yang tidak tercemar.

(RN)

0 Komentar

Belum ada komentar