Sukses

Konsumsi Makanan Kaleng, Baik atau Buruk?

Karena praktis untuk dimasak, Anda sering mengonsumsi makanan kaleng. Akan tetapi, baik atau buruk kebiasaan ini?

Klikdokter.com, Jakarta Selain praktis dan enak dimasak, makanan kaleng memiliki tanggal kedaluwarsa yang cukup lama sehingga aman disimpan berbulan-bulan. Tidak heran, kini banyak orang beralih memilih makanan kaleng sebagai menu sehari-hari. Namun, baikkah kebiasaan ini?

Seputar makanan kaleng

Dikutip dari Healthline, metode pengalengan makanan pertama kali dikembangkan pada akhir abad ke-18. Ini dilakukan sebagai cara untuk menyediakan sumber makanan bagi tentara dan pelaut yang sedang berperang.

Proses pengalengan dapat sedikit berbeda berdasarkan produk, tapi pada umumnya ada tiga langkah utama, yaitu:

  • Pengolahan, yaitu makanan dikupas, diiris, dicincang, dibumbui, atau dimasak.
  • Penyegelan, yaitu makanan olahan disegel dalam kaleng.
  • Pemanasan, yaitu makanan dalam kaleng dipanaskan untuk membunuh bakteri berbahaya dan mencegah pembusukan. Proses ini memungkinkan bahan makanan stabil dan aman dikonsumsi selama 1-5 tahun, bahkan lebih.

Karena proses pengalengan makanan biasanya melibatkan panas tinggi, vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C dan B dapat rusak. Vitamin-vitamin ini pada umumnya sensitif terhadap panas dan udara.

Meskipun sangat jarang terjadi, makanan kaleng yang tidak diproses dengan benar dapat mengandung bakteri berbahaya, Clostridium botulinum. Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi dapat menyebabkan botulisme, yakni penyakit serius yang dapat menyebabkan kelumpuhan otot.

Banyak tambahan gula dan garam

Selain itu, dr. Karin Wiradarma, M. Gizi dari KlikDokter, menjelaskan, makanan yang dikemas dalam kalengan juga biasanya ditambahkan garam dan gula sebagai penyedap rasa. Garam, gula, dan pengawet biasanya ditambahkan dalam makanan kaleng dalam batasan yang wajar. 

Namun tetap saja, garam dan gula tambahan dalam makanan kaleng bisa meningkatkan risiko-risiko penyakit, seperti tekanan darah tinggi

Jika Anda terlalu sering mengonsumsi makanan kaleng, risiko Anda mengalami obesitas akan meningkat. Tak hanya itu, gula dan garam yang berlebih dapat pula mengganggu keseimbangan elektrolit tubuh.

“Penambahan gula dalam makanan kaleng juga mempunyai dampak bahaya dan menyebabkan Anda berisiko terkena penyakit gula atau diabetes mellitus tipe 2 dan penyakit jantung. Apabila Anda sudah menderita kedua penyakit tersebut, sebaiknya hindari makanan kaleng agar tidak semakin parah,” dr. Karin menambahkan.

Masih adakah nilai gizinya?

Meski demikian, makanan kaleng sebenarnya masih ada yang memiliki nilai gizi mirip dengan makanan segar. Ikan sarden dalam kaleng misalnya, mengandung sejumlah nutrisi, seperti vitamin dan mineral, mulai dari kalsium, kalium, fosfor, zat besi, vitamin D, serta selenium. 

Dijelaskan oleh dr. Melyarna Putri, M.Gizi, dari KlikDokter, ikan sarden yang dikalengkan masih memiliki nutrisi-nutrisi tersebut. Anda pun masih boleh mengonsumsi ikan sarden meski tidak dalam jumlah yang terlalu banyak dan sering. 

“Namun, meski kandungan nutrisinya serupa, makanan kaleng tentu ditambahkan bahan kimia selama proses pengemasan. Bahan kimia yang digunakan dalam pengemasan salah satunya adalah BPA (bisphenol-A). Walaupun hanya sedikit, BPA yang ada di kaleng kemasan ikan sarden dapat berpindah ke makanan yang Anda konsumsi,” ujar dr. Melyarna. 

Untuk menyiasatinya, Anda harus cermat membaca kemasan kaleng. Bagi Anda yang menghindari garam karena punya kondisi tekanan darah tinggi, lebih baik pilih yang rendah atau tanpa garam.

Selain itu, pilih produk makanan kaleng yang tempatnya masih dalam kondisi baik dan tidak penyok, retak, atau bocor. Ini karena, kemasan yang rusak bisa menimbulkan gelembung dalam makanan akibat ada udara dari luar yang masuk. Makanan pun berpotensi terkontaminasi dengan bakteri, kuman, dan kotoran.

Bukan berarti tidak boleh sama sekali, konsumsi makanan kaleng dalam batas yang wajar tetap dapat dilakukan. Hanya saja, jangan jadikan makanan kaleng sebagai pilihan utama menu harian Anda. Bagaimanapun, makanan segar adalah yang terbaik untuk Anda dan keluarga. 

[HNS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar