Sukses

Bolehkah Bayi Diberi Pola Makan Vegetarian?

Pola makan vegetarian makin diminati oleh segala usia. Untuk para orang tua vegetarian, bolehkah bayinya diberikan pola makan yang sama?

Klikdokter.com, Jakarta  Hingga hari ini, pola makan vegetarian diminati sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Untuk orang tua yang vegetarian, apakah bayinya juga boleh diberikan pola makan yang sama?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu diketahui bahwa kondisi tubuh orang tua berbeda dengan anaknya. Perbedaannya meliputi banyak hal, termasuk terkait kesehatan dan fungsi tubuh. Semakin muda usia anak, misalnya bayi, maka semakin jauh perbedaannya. Jadi, apa yang aman untuk orang dewasa belum tentu aman untuk anak.

Hal utama yang membedakan adalah aspek tumbuh kembang. Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran yang umumnya dinilai dari parameter berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Sementara itu, perkembangan adalah pertambahan fungsi dari berbagai sistem organ dalam tubuh anak, termasuk perkembangan organ seksual pada masa pubertas hingga anak nantinya menjadi dewasa.

Untuk menunjang proses pertumbuhan dan perkembangan tersebut, peran nutrisi sangat krusial, terutama pada masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan sang anak. Pada periode tersebut, 80 persen pertumbuhan otak terjadi. Sehingga, masa ini sangat menentukan nasib masa depan bayi nantinya akan seperti apa.

Tak hanya dalam segi kuantitas, kualitas makanan yang diberikan juga harus diperhatikan secara saksama. Kualitas makanan yang dimaksud adalah yang memenuhi kebutuhan makro (makronutrien) dan mikro (mikronutrien), yang terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral sesuai proporsi yang dianjurkan.

Bolehkah menerapkan pola makan vegetarian pada bayi?

Vegetarian Society mendefinisikan vegetarian sebagai gaya hidup dengan menu makan biji-bjian, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, jamur, dan beberapa makanan non hewani lainnya seperti garam dengan atau tanpa produk susu, madu, dan/atau telur.

Seorang vegetarian tidak mengonsumsi makanan yang berasal atau dibuat dengan bantuan produk yang terbuat dari sumber hewan hidup maupun mati, seperti daging, unggas, dan ikan.

Meski pola makan vegetarian termasuk ekonomis (karena konsumsi daging sangat minimal), tetapi secara umum pola makan vegetarian tidak direkomendasikan untuk bayi, kecuali pada keadaan khusus. 

Kenapa? Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, prioritas utama adalah memastikan tumbuh kembang anak berjalan baik, yaitu dengan memenuhi anjuran kuantitas dan kualitas nutrisi yang ia butuhkan.

Dari segi kuantitas, pola makan vegetarian masih dapat memenuhi kebutuhan energi tubuh. Namun dari segi kualitas, ada beberapa nutrisi yang tidak bisa dipenuhi dengan menerapkan pola makan yang dikabarkan sudah ada sejak 700 tahun Sebelum Masehi tersebut.

Beberapa aspek nutrisi yang kurang bisa dipenuhi dari pola makan vegetarian untuk bayi antara lain:

  1. Protein

Pola makan vegetarian sebetulnya bisa memenuhi kebutuhan protein bayi, karena masih bisa diperoleh dari sumber protein nabati, yaitu dari golongan kacang-kacangan.

Meskipun demikian, protein nabati tidak mengandung beberapa jenis asam amino penting seperti yang ditawarkan oleh protein hewani. Itulah sebabnya, secara gizi, protein hewani lebih baik daripada protein nabati bagi bayi.

  1. Lemak

Lemak juga merupakan salah satu komponen nutrisi yang sangat penting bagi bayi, terutama untuk pertumbuhan otak. Beberapa asam lemak rantai pendek tak jenuh, seperti omega-3 dan omega-6 yang penting utuk pertumbuhan otak, jauh lebih banyak didapatkan pada sumber lemak hewani dibandingkan sumber lemak nabati.

  1. Zat besi

Zat besi juga merupakan salah satu jenis mineral yang sangat penting bagi tumbuh kembang bayi. Meski beberapa jenis sumber nabati mengandung zat besi, akan tetapi penyerapannya kurang baik jika dibandingkan dengan penyerapan zat besi yang diperoleh dari sumber makanan hewani.

Jadi, bolehkah bayi diberi pola makan vegetarian? Dalam menjawab pertanyaan ini, orang tua harus memikirkan baik-baik, khususnya risiko defisiensi atau kekurangan zat gizi penting seperti yang disebutkan di atas. Pasalnya, itu bisa memengaruhi tumbuh kembang anak nantinya.

(RN)

0 Komentar

Belum ada komentar