Sukses

Apakah yang Dimaksud dengan Helicopter Parenting?

Apakah yang dimaksud dengan helicopter parenting atau pola asuh helikopter? Bagaimana dampaknya pada kehidupan anak?

Klikdokter.com, Jakarta Helicopter parenting adalah pola asuh orang tua yang terlalu fokus memperhatikan anak-anaknya. Hal ini diibaratkan seperti seseorang yang selalu dipantau oleh helikopter di atasnya.

Orang tua dengan pola asuh ini memiliki rasa tanggung jawab yang berlebihan untuk segala aspek kehidupan sang anak, terutama terkait kesuksesan dan kegagalan buah hatinya.

Orang tua yang melakukan pola asuh helikopter juga memiliki kecenderungan untuk mengendalikan, melindungi, dan mencari kesempurnaan bagi sang anak, yang dapat dianggap berlebihan oleh orang lain.

Istilah helicopter parenting sering digunakan untuk mendeskripsikan orang tua yang punya fokus berlebih pada anaknya yang berada di usia sekolah. Padahal pada periode ini, anak biasanya sudah mulai mandiri dan mampu menangani keperluan diri sendiri. Misalnya, dalam hal mengatur jadwal, dan mengerjakan pekerjaan rumah.

Namun begitu, pola asuh ini sebenarnya dapat diamati pada orang tua yang memiliki anak dari berbagai kelompok usia, seperti:

  • Pada masa kanak-kanak. Pola asuh helikopter bisa dilihat dari perilaku orang tua yang selalu membayangi anak-anak, mengatur jadwal kegiatan mereka, dan tidak memberikan kesempatan untuk berkreasi atau bermain sendiri.
  • Pada masa sekolah dasar. Beberapa contoh dari pola asuh helikopter di periode ini, orang tua akan memastikan anak mendapatkan guru atau pelatih yang sesuai dengan keinginan orang tua.

Selain itu, orang tua juga akan memilih dengan siapa anaknya boleh berteman. Orang tua dengan pola asuh helikopter juga akan memilih aktivitas yang dapat dilakukan anak dan berlebihan membantu pekerjaan sekolah mereka.

Penyebab pola asuh helikopter

Apakah yang menyebabkan orang tua menerapkan pola asuh helikopter?

Umumnya, pola asuh yang satu ini dianut oleh orang tua yang merasa ketakutan apabila anaknya mendapatkan hasil yang buruk. Contohnya, nilai sekolah yang buruk, tidak dapat bekerja dalam kelompok tertentu, atau tidak mendapatkan pekerjaan di masa depan.

Hal-hal tersebut dianggap menyeramkan bagi para orang tua, terlebih apabila mereka berpikir bahwa hal-hal itu dapat diubah dengan campur tangan mereka sebagai orang tua.

Namun, terkadang sebagian orang tua melupakan bahwa hal-hal, seperti ketidakbahagiaan, perjuangan, dan ketidaksempurnaan, adalah penting untuk dipelajari anak dalam kehidupan.

Kekhawatiran orang tua akan ekonomi, lapangan pekerjaan, dan dunia secara umum dapat mendorong orang tua untuk lebih cenderung mengatur anak. Dengan melakukan aneka ‘perhatian’ tersebut, orang tua berharap dapat menghindarkan anak disakiti atau dikecewakan.

Orang tua yang pada masa kecilnya merasa tidak mendapatkan cukup perhatian akan cenderung melimpahkan segala perhatiannya pada sang anak. Mereka berharap anak tidak merasakan apa yang dialami oleh orang tuanya saat kecil.

Dampak pola asuh helikopter

Walaupun didasari oleh tujuan yang baik, pola asuh ini dapat memberikan dampak yang buruk bagi anak-anak. Sebagai contoh, anak yang diasuh dengan pola asuh helikopter dapat mengalami rasa rendah diri karena orang tua terlalu terlibat dalam segala aspek hidupnya.

Anak pun dapat merasa bahwa orang tua mereka tidak percaya suatu hal dapat dikerjakan sendiri. Mereka pun berisiko kehilangan rasa percaya dirinya. Selain itu, pola asuh helikopter dapat membuat anak tidak siap menghadapi kegagalan, masalah, atau kekecewaan.

Anak yang diasuh dengan pola asuh ini ternyata menunjukkan tingkat kegelisahan yang tinggi dan rasa depresi yang lebih nyata. Efek yang paling berpengaruh adalah kurangnya kemampuan anak yang seharusnya dikuasai oleh anak.

Melindungi anak adalah naluri setiap orang tua. Namun, terlalu fokus melindungi anak hingga membuatnya tidak bebas berkreasi dan mengambil keputusan, seperti yang terjadi pada helicopter parenting, dapat menghambat anak menjadi pribadi yang mandiri. Terkadang, perjuangan, kegagalan, dan kekecewaan adalah pelajaran hidup yang dapat bermanfaat bagi anak seiring pertumbuhannya menjadi manusia dewasa.

[HNS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar