Sukses

Mengapa Orang Mudah Berperilaku Sadis?

Berkaca pada kasus Wiranto ditusuk, orang jadi bertanya-tanya, mengapa ya, ada orang bisa berperilaku sadis tanpa memikirkan akibatnya?

Klikdokter.com, Jakarta Pada satu fase, seseorang bisa bertindak secara sadis melukai manusia lainnya karena berbagai alasan. Entah karena alasan apa, manusia memang mampu berperilaku sadis. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Kamis kemarin (10/10), media ramai memberitakan insiden Wiranto yang ditusuk dengan cara yang cukup sadis. Pelakunya dikatakan punya afiliasi dengan jaringan terorisme. Di internet dan medis sosial, foto dan video yang bagaimana pelaku menusukkan pisau ke arah perut Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM tersebut tersebar viral.

Entah apa pun alasan yang mendasari tindakan pelaku penusukan tersebut, tetapi pada dasarnya setiap orang memiliki “benih-benih” perilaku sadis seperti itu.

Mengapa orang mudah berperilaku sadis?

Di luar dari apa yang menimpa Wiranto, dr. Nabila Viera Yovita dari KlikDokter mengemukakan bahwa ada beberapa penyebab seseorang bisa berperilaku sadis. Salah satunya adalah didasari oleh gangguan jiwa.

"Sulit untuk mengontrol kemarahan, lalu itu bisa jadi salah satu penyaluran dari masalah yang dimiliki seseorang. Orang bisa bertindak sadis ketika butuh penyaluran tentang apa yang ia rasa, seperti dendam. Tindakan sadis juga kemungkinan besar timbul dari orang yang punya gangguan jiwa yang belum terdeteksi dan ini harus digali lebih lanjut," kata dr. Nabila menjelaskan.

"Orang dengan gangguan jiwa biasanya bisa impulsif. Di sisi lain, tindakan tiba-tiba itu sering kali mengarah pada hal-hal yang berbau kekerasan. Akan tetapi, memang orang tipe ini tidak bisa membedakan yang benar dan salah," lanjutnya.

Penelitian soal perilaku sadis

Umumnya, orang berusaha untuk tidak menyakiti orang lain. Jika memang itu terjadi, normalnya akan timbul rasa bersalah atau penyesalan. Namun bagi sebagian orang, menyakiti orang bisa menimbulkan kepuasan.

Penelitian menunjukkan bahwa perilaku sadis memang nyata dan lebih umum dari yang Anda kira sebelumnya.

Satu studi yang dipimpin oleh ilmuwan psikologi Erin Buckels dari Universitas British Columbia, Kanada, mengungkapkan, orang yang mendapat nilai tinggi pada tingkat kesedihan tampaknya mendapatkan kesenangan dari perilaku menyakiti orang lain, bahkan bersedia mengeluarkan upaya ekstra untuk membuat orang lain menderita.

Temuan baru tersebut dipublikasikan di jurnal “Psychological Science”, sebuah jurnal dari Association for Psychological Science.

“Beberapa orang merasa sulit untuk mendamaikan perilaku sadis dengan konsep fungsi psikologis 'normal', tetapi temuan kami menunjukkan bahwa kecenderungan sadis di antara orang-orang dari luar tampak baik-baik saja juga perlu diperhatikan,” kata Erin seperti dikutip di laman Psychological Science.

Kata Erin lagi, orang-orang yang tampak “normal” tersebut tak harus menjadi pembunuh berantai atau punya perilaku seks menyimpang, tetapi mereka mendapatkan kepuasan secara emosional jika menyakiti atau sekadar melihat orang lain tersakiti.

Untuk menguji hipotesis mereka, para peneliti memutuskan untuk memeriksa perilaku sadis setiap hari di bawah kondisi laboratorium yang terkontrol. Mereka merekrut 71 peserta untuk mengambil bagian dalam studi tentang “personality and tolerance for challenging jobs".

Para peserta diminta untuk memilih di antara beberapa tugas yang tidak menyenangkan: membunuh serangga, membantu eksperimen membunuh serangga, membersihkan toilet kotor, atau menahan rasa sakit akibat air es.

Peserta yang memilih membunuh serangga diberikan tugas untuk membunuh dengan menggunakan penggiling kopi yang dimodifikasi yang menghasilkan suara yang berbeda untuk memaksimalkan efeknya. Tugas peserta adalah untuk menjatuhkan serangga ke dalam mesin dan menggiling serangga-serangga itu.

Dari 71 peserta, 12,7 persen memilih tugas toleransi rasa sakit, 33,8 persen memilih tugas membersihkan toilet, 26,8 persen memilih untuk membantu membunuh serangga, dan 26,8 persen memilih untuk membunuh serangga.

Peserta yang memilih membunuh serangga memiliki skor tertinggi pada skala mengukur impuls sadis, seperti yang diprediksi para peneliti. Semakin sadis partisipannya, semakin besar kemungkinan dia untuk memilih membunuh serangga daripada opsi lain.

Partisipan dengan tingkat perilaku sadis tinggi yang memilih untuk membunuh serangga dilaporkan lebih senang secara signifikan dalam melakukan tugas daripada mereka yang memilih tugas lain. Dan kesenangan mereka pun tampaknya berkorelasi dengan jumlah serangga yang mereka bunuh. Ini menunjukkan bahwa perilaku sadis mungkin memiliki semacam reward bagi para peserta.

Para peneliti berharap bahwa temuan baru ini akan membantu memperluas pandangan orang tentang perilaku sadis sebagai aspek kepribadian yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Hanya saja, penelitian di atas tentu butuh penyempurnaan. Tapi paling tidak, itu sudah menggambarkan mengapa ada orang yang mudah berperilaku sadis, apa pun alasannya.

(RN)

0 Komentar

Belum ada komentar