Sukses

Obat untuk Asam Lambung, Lebih Baik Antasida atau H2 Blocker?

Antasida dan H2 blocker adalah dua jenis obat yang sering dikonsumsi untuk mengatasi gejala asam lambung. Manakah di antara keduanya yang lebih baik?

Klikdokter.com, Jakarta Saat gejala asam lambung menyerang, banyak orang mengandalkan obat-obatan seperti antasida dan H2 blocker sebagai pertolongan pertama. Pertanyaannya, apakah keduanya sama efektif atau salah satu lebih unggul untuk mengatasi asam lambung?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, Anda perlu mengenal tentang asam lambung itu sendiri. Omong-omong tentang hal ini, bisa dibilang nyeri ulu hati akibat asam lambung tinggi tergolong salah satu keluhan yang sering dialami oleh banyak orang.

Selain nyeri ulu hati, umumnya keluhan juga bisa disertai dengan mual, kembung, begah, hingga dada yang terasa panas. Gejala-gejala tersebut dapat timbul mendadak dan sudah pasti akan mengganggu aktivitas.

Saat serangan datang, antasida dan H2 blocker menjadi pilihan utama untuk mengatasinya karena diyakini dapat bekerja dengan cepat meredakan gejala asam lambung. Bagaimana kedua obat ini bekerja?

Mengenal cara kerja antasida

Obat yang menjadi andalan banyak orang ini mengandung alumunium dan magnesium. Kedua zat ini dapat berinteraksi dengan asam lambung dan membuat tingkat keasaman (pH) di lambung menjadi berkurang. Gejala seperti begah, rasa tidak nyaman di perut, sering sendawa, dan nyeri ulu hati akan berkurang dengan bantuan obat ini.

Salah satu keunggulan antasida adalah efeknya yang dapat segera dirasakan karena bekerja lokal tanpa perlu diserap ke pembuluh darah. Obat ini dapat menurunkan kadar asam lambung yang tinggi dalam waktu yang relatif cepat.

Setelah dikonsumsi, tidak perlu waktu lama untuk menunggu obat bekerja. Tak heran bila banyak penderita mag atau dispepsia yang selalu membawa antasida dalam tasnya untuk berjaga-jaga bila gejala asam lambung muncul tiba-tiba.

Antasida tersedia dalam dua bentuk, yaitu tablet dan cair. Obat tablet dapat dikonsumsi dengan cara dikunyah lalu ditelan. Sementara obat cair harus dikocok terlebih dahulu kemudian diminum sesuai dosis anjuran.

Antasida dijual secara bebas dan dapat dikonsumsi oleh penderita dispepsia kapan saja saat gejala muncul. Namun, bila gejala mag semakin berat dan tidak membaik dengan pemberian obat antasida, sebaiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter.

H2 blocker dan asam lambung

Lain antasida, lain pula H2 blocker. Sebagian dari Anda mungkin merasa asing dengan istilah obat golongan H2 blocker. Kalau begitu bagaimana dengan ranitidin? Terasa lebih familiar? Ya, ranitidin merupakan salah satu contoh obat golongan H2 blocker yang paling dikenal. Jenis lainnya adalah famotidine dan simetidine.

Obat golongan H2 blocker juga merupakan salah satu pilihan dalam mengatasi asam lambung. Obat ini bekerja dengan cara menghambat sel di dinding lambung untuk menghasilkan asam lambung secara berlebih.

Dengan demikian, kadar asam lambung akan menurun dan gejala seperti nyeri ulu hati, begah, dan kembung pun berkurang. Karena mekanisme kerjanya tersebut, H2 blocker juga kerap dijadikan obat tambahan untuk mengatasi tukak (luka) lambung atau usus.

Sama halnya dengan antasida, H2 blocker juga disukai karena efeknya yang cepat. Dalam 30-90 menit setelah diminum, obat ini dapat langsung meringankan gejala dan dapat bertahan hingga 12 jam. Oleh karena itu, obat ini dikonsumsi dua kali sehari, pagi dan malam.

Sayangnya, kini salah satu obat golongan H2 blocker ini sekarang ditarik dari peredaran karena ditemukan kandungan NDMA dalam beberapa produk yang mengandung ranitidin.

N-nitrosodimethylamine atau NDMA adalah kontaminan dalam lingkungan yang biasanya ditemukan dalam produk daging, keju, ikan, dan bir. NDMA telah ditetapkan sebagai salah satu zat yang mungkin dapat menyebabkan kanker (probable human carcinogen).

Beberapa jenis kanker yang dapat timbul akibat zat ini adalah kanker hati, lidah, kerongkongan, paru, pankreas, ginjal, dan kandung kemih. Belakangan, BPOM Indonesia menemukan adanya zat tersebut dalam obat ranitidin. Kadar NDMA di dalamnya sudah melebihi nilai ambang batas cemaran NDMA, sehingga obat ini kemudian ditarik dari peredaran oleh BPOM.

Obat untuk asam lambung

Namun sebenarnya tak ada yang perlu dirisaukan ketika keluhan asam lambung muncul, karena masih ada  pilihan obat lain yang bisa membantu Anda seperti Famotidine. Data keamanan menunjukkan efek samping akibat penggunaan famotidine (1.2-2%) paling kecil dibanding penggunaan obat golongan H2 blocker yang lain ( 2-3%), artinya famotidine merupakan obat penekan asam lambung yang paling poten dan aman jika dibandingkan dengan golongan yang sama.

Keunggulan antasida dan H2 blocker bisa Anda temukan dalam Promag Double Action. Gejala asam lambung berlebih, gastritis, hingga tukak lambung dapat teratasi dengan cepat.

Saat serangan asam lambung menyerbu, segera minum Promag Double Action dan rasakan manfaatnya dalam waktu 2-3 jam. Obat ini dapat bertahan secara efektif selama 10-12 jam.

Jadi, untuk mengatasi gejala asam lambung Anda bisa memanfaatkan obat golongan antasida dan H2 blocker karena keduanya sama baiknya. Namun bila gejala asam lambung tidak segera membaik, sebaiknya berkonsultasilah pada dokter.

(RH)

1 Komentar