Sukses

Seberapa Besar Pengaruh Minyak Goreng pada Kolesterol Tinggi?

Penggunaan minyak goreng curah dibatasi agar masyarakat terhindar dari kolesterol tinggi. Benarkah keduanya saling berhubungan?

Klikdokter.com, Jakarta Minyak goreng curah –yang sering digunakan oleh pedagang kaki lima untuk menggoreng dagangannya– sering dituding sebagai penyebab kolesterol tinggi. Demi melindungi kesehatan masyarakat, beberapa waktu lalu pemerintah mengeluarkan informasi mengenai pembatasan penggunaan minyak goreng curah.

Tak berhenti sampai di situ, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia kembali mengungkapkan pernyataan terbaru. Kali ini pemerintah menyampaikan bahwa masyarakat masih bisa membeli minyak goreng curah, asalkan sudah melalui proses penyulingan ulang dan dikemas secara premium agar lebih higienis. 

Pertanyaan yang kemudian muncul: Bagaimana menentukan minyak goreng curah yang tepat?

Minyak goreng curah adalah minyak kelapa sawit yang sudah melalui tahapan pemurnian (refining), pemutihan (bleaching), dan penghilangan bau (deodorizing). Minyak ini biasanya dikemas menggunakan drum dan didistribusikan menggunakan mobil tangki ke berbagai pasar di pelosok negeri. 

Saat dijajakan, minyak goreng curah diletakkan di wadah terbuka. Hal ini membuat minyak rentan terkontaminasi bakteri, air, maupun serangga. Ketika dibeli, minyak goreng curah hanya dimasukkan ke dalam botol atau plastik ala kadarnya.

“Minyak goreng curah juga rawan dioplos dengan minyak jelantah bekas ataupun minyak selundupan,” kata Suhanto, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendagri.

“Secara visual, hal itu memang susah dibedakan. Karenanya, pemerintah ingin penjual minyak goreng curah yang telah melalui proses penyulingan dan dikemas dengan kemasan premium agar kualitasnya terjamin,” jelasnya lebih lanjut.

Pengaruh minyak goreng terhadap kolesterol tinggi 

Pembatasan minyak goreng curah dipercaya dapat mencegah kolesterol tinggi. Padahal, terjadinya kolesterol tinggi tidak hanya dipengaruhi oleh konsumsi makanan yang diolah menggunakan minyak goreng saja –apalagi secara spesifik minyak goreng curah.

Seperti dikatakan oleh dr. Alberta Jesslyn Gunardi, BMedSc., Hons., dari KlikDokter, kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi adalah faktor terbesar dari kadar kolesterol di dalam tubuh. 

“Sering mengonsumsi gorengan dan makanan berlemak, seperti daging merah, jeroan (terutama otak), seafood (terutama udang dan cumi-cumi), dan produk susu sangat bisa meningkatkan kolesterol,” tutur dr. Jesslyn.

Gorengan atau makanan yang diproses menggunakan minyak goreng memang berkontribusi pada terjadinya kolesterol tinggi. Hanya saja, apabila Anda mampu membatasi porsi dan frekuensi konsumsi, efek yang ditimbulkan tidak akan besar.

Misalnya saja, Anda hanya mengonsumsi bakwan goreng sebanyak satu buah dalam satu minggu. Maka, tentu saja hal tersebut tidak akan membuat kolesterol Anda melonjak tinggi.

Di sisi lain, apabila Anda membatasi gorengan namun tidak mengatur porsi dan frekuensi konsumsi makanan berlemak –seperti daging merah, seafood, dan susu, maka risiko untuk mengalami kolesterol tinggi tetap akan melonjak.

Tak hanya soal makanan, faktor gaya hidup juga memengaruhi terjadinya kolesterol tinggi.

Misalnya, Anda adalah orang yang tidak berolahraga secara rutin dan justru hanya menghabiskan hari dengan duduk-duduk saja di kursi. Maka besar kemungkinan Anda akan mengalami kolesterol tinggi.

Pasalnya, ketika Anda kurang aktif bergerak, tubuh akan kehilangan kemampuan untuk mengubah lemak menjadi energi. Alhasil, lemak akan tersimpan dan menumpuk di dalam tubuh, sehingga kadar kolesterol jahat (LDL) pun ikut meningkat. 

Terakhir dan yang paling sering dilupakan, faktor stres. Ya, stres juga memainkan peran pada terjadinya kolesterol tinggi.

Faktanya, stres berkepanjangan dan tidak kunjung usai dapat meningkatkan hormon kortisol dan adrenalin. Cepat atau lambat, kondisi ini akan memicu peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida.

Jadi pada dasarnya kolesterol tinggi tidak hanya dipengaruhi oleh konsumsi makanan yang diolah dengan minyak goreng saja. Meskipun Anda telah membatasi konsumsi gorengan, kadar kolesterol bisa tetap tinggi jika pola makan tidak dijaga, tidak berolahraga, dan mengalami stres.

Tips menggunakan minyak goreng yang tepat

Menurut pakar gizi dan keamanan pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD, minyak goreng hanya boleh digunakan sebanyak tiga kali. Bila digunakan lebih dari itu, minyak goreng akan menghasilkan senyawa yang berbahaya bagi tubuh.

Minyak goreng yang sudah dipakai berkali-kali hingga warnanya berubah hitam dikenal dengan sebutan minyak jelantah.

Saat dipanaskan berkali-kali, minyak goreng akan mengalami oksidasi yang akan meningkatkan jumlah radikal bebas di dalamnya. Minyak goreng pun akan mengalami polimerisasi dan menghasilkan zat karsinogen penyebab kanker. 

Bila yang dibeli adalah minyak kelapa sawit murni tetapi Anda memakainya lebih dari tiga kali, maka risiko untuk terkena masalah kesehatan akan sama saja. Risiko akan lebih buruk jika Anda menggunakan minyak curah yang terbuat dari campuran minyak jelantah dan digunakan berkali-kali. 

Jadi, penggunaan minyak goreng curah untuk mengolah makanan tidak serta-merta menyebabkan terjadinya kolesterol tinggi. Asalkan, minyak tersebut tidak digunakan secara berulang dan Anda mampu membatasi porsi serta frekuensi gorengan yang dikonsumsi.

Ingat, kolesterol tinggi tidak hanya disebabkan oleh konsumsi makanan yang diolah dengan minyak goreng saja. Kondisi berbahaya tersebut juga bisa terjadi akibat pola makan yang tidak tepat, kurang gerak, dan stres berkepanjangan.

(NB/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar