Sukses

Kontroversi di Balik Ganja: Manfaat vs Dampak Buruknya

Kabarnya, Malaysia akan legalkan ganja untuk pengobatan. Meski masih illegal di Indonesia, yuk ketahui apa saja manfaat dan dampak buruk ganja.

Klikdokter.com, Jakarta Setelah Thailand, Malaysia bisa jadi negara kedua di Asia Tenggara yang melegalkan ganja untuk keperluan medis. Di Indonesia, ganja dianggap sebagai barang haram dan jika ketahuan memilikinya bisa dipidana. Meski tujuannya untuk pengobatan masih menjadi kontroversi, yuk ketahui apa saja manfaat dan dampak buruk ganja.

Dilansir dari berbagai sumber, Malaysia berencana membolehkan penanaman ganja, asal mengantongi izin resmi dari Kementerian Kesehatan Malaysia dan dengan tujuan pengobatan atau penelitian. Datuk Seri Zulkifli Abdullah selaku Direktur Jenderal Badan Anti Narkoba Nasional Malaysia mengatakan, ada ruang dalam Undang-Undang Obat-obatan Berbahaya untuk penanaman ganja medis dengan ketentuan sudah mempunyai izin.

Ganja merupakan salah satu jenis narkotika terlarang yang biasanya berbentuk dari kombinasi daun kering, batang, dan kuncup bunga dari tanaman Cannabis sativa. Namun sekarang, bentuk ganja bisa bermacam-macam, misalnya bentuk seperti gel, spray, dan lain-lain. Penggunaannya bisa dengan cara diisap, dimakan, diuapkan, diseduh, atau dioles.

Ganja: manfaat vs dampak buruknya

Meski di Indonesia masih terlarang, tetapi tak ada salah untuk mengetahui fakta-fakta seputar ganja, dari mulai manfaat hingga dampak buruknya bagi kesehatan.

  • Manfaat ganja

Menurut pandangan medis, ganja mengandung senyawa kimia delta (9)-tetrahydrocannabinol (THC). Kata dr. Sepriani T. Limbong dari KlikDokter, kandungan THC yang masuk ke dalam tubuh akan berjalan melewati aliran darah melalui paru, yang kemudian sampai ke otak.

Nantinya, THC akan memicu hormon dopamin yang pada akhirnya akan menimbulkan rasa senang, nyaman, tidak merasa nyeri (pada pasien kanker), dan bisa tidur pulas.

“Ganja bisa dikonsumsi secara oral atau diolah bersama makanan dan dihirup. Secara oral, ganja dapat memberi efek antinyeri dan peningkatan nafsu makan, terutama pada orang-orang dengan kanker. Bila dikonsumsi langsung, efek ganja akan lebih sedikit karena harus diserap dulu melalui saluran cerna,” kata dr. Sepriani menjelaskan.

Banyak ahli medis sepakat bahwa penggunaan ganja cukup efektif untuk pengobatan medis asalkan dalam takaran yang tepat dan sesuai anjuran dokter.

  • Dampak buruk ganja

Di balik manfaatnya untuk kesehatan medis, ganja juga mengandung zat kimia bernama kanabidiol (CBD), yang merupakan zat aktif yang efeknya berbeda dengan kandungan THC. 

CBD dalam ganja bisa membuat pemakainya merasa panik, bingung, khawatir, hingga depresi.

Salah satu organ yang paling kena dampak pemakaian ganja adalah otak. Ganja akan merusak daerah prafrontal dan mengurangi volume hipokampus otak. Sederhananya, volume otak akan menjadi lebih kecil. Hal ini berpengaruh pada memori atau ingatan.

“Hipokampus bertanggung jawab untuk penyimpanan memori jangka panjang. Bila terjadi pengurangan volume di area ini, maka bisa terjadi masalah kognitif dan kesulitan mengingat,” ujar dr. Sepriani.

Tidak hanya itu, ganja juga akan menyebabkan sambungan antarsel di otak terganggu. Akibatnya, pengguna ganja tidak dapat memproses informasi dengan baik. Bahkan, ada beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa penggunaan ganja yang tidak sesuai dengan dosis mampu menurunkan tingkat kecerdasan pemakainya.

Selain itu, secara kejiwaan ganja juga bisa menyebabkan beberapa masalah seperti gangguan emosi, menjadi lebih paranoid (rasa takut yang berlebihan), sering merasa panik, cemas, dan depresi.

Dampaknya tak hanya berhenti di pemakai, tetapi orang-orang di sekitar yang menghirup asapnya juga bisa terkena efek buruknya. Misalnya pada ibu hamil, menghirup asap dari ganja bakar bisa memengaruhi kesehatan janin. Bayi bisa lahir dengan berat badan rendah, bayi lahir prematur, atau bisa juga mengalami gangguan perkembangan saraf.

Meski memiliki manfaat di bidang kesehatan, tetapi ganja juga membawa dampak buruk jika digunakan tidak sesuai dosis yang dianjurkan atau disalahgunakan. Memang rasanya ganja tak mungkin dilegalkan di Tanah Air. Namun untuk keperluan medis, semoga paling tidak ada studi resmi yang meneliti manfaat kesehatan tanaman tersebut.

(RN)

0 Komentar

Belum ada komentar