Sukses

Benarkah Penderita Depersonalisasi Selamanya Bergantung pada Obat?

Jika sudah terdiagnosis gangguan depersonalisasi, penderitanya disebut-sebut tak bisa lepas dari obat. Apakah benar demikian?

Klikdokter.com, Jakarta Pengalaman memandang tubuh sendiri dari luar, sekilas itulah yang dirasakan mereka yang mengalami gangguan depersonalisasi. Pasien dengan gangguan ini disinyalir akan selamanya berada di bawah kendali terapi dan obat-obatan.

Apa itu gangguan depersonalisasi?

Gangguan depersonalisasi adalah kondisi seseorang yang merasa jiwanya lepas dari raganya, atau bentuk gangguan persepsi diri lainnya. Misalnya merasa dirinya adalah robot atau terjebak dalam mimpi dan tak bisa keluar. 

Hal ini kerap dialami dalam bentuk episode, bukan terus-menerus terjadi. Terkadang pasien merasakan gejala, namun tidak di saat lainnya. Bahkan, ada sebagian pasien yang mengalami kondisi kronis yang bisa berlangsung hingga bertahun-tahun, hingga menyebabkan gangguan aktivitas dan fungsi kegiatan sehari-hari.

Kebanyakan pasien juga memiliki konsep realitas yang baik, yang mana mereka menyadari bahwa apa yang mereka rasakan atau lihat bukan merupakan suatu yang nyata. Namun, yang menyulitkan dari gangguan ini adalah timbulnya rasa ketakutan akibat gejala yang kerap menyebabkan pasien merasa depresi, cemas, dan panik.

Pasien gangguan depersonalisasi yang mencari pertolongan dan bentuk terapi, sering kali diakibatkan oleh adanya gangguan mental seperti depresi dan cemas, bukan didasari oleh depersonalisasi itu sendiri.

Ya, gangguan depersonalisasi yang berulang dan terus-menerus memang dapat menimbulkan kondisi lebih lanjut seperti gangguan depresi dan cemas. Bahkan, tak jarang justru kondisi lanjutan ini yang akhirnya mengganggu aktivitas pasien.

Meskipun bisa dialami siapa saja, tetapi gangguan depersonalisasi umumnya terjadi pada remaja hingga dewasa muda. Anak-anak dan lansia relatif jarang mengalami gangguan ini.

Penyebab gangguan depersonalisasi

Timbulnya gangguan ini belum diketahui pasti hingga sekarang. Beberapa orang diketahui memiliki kecenderungn mengalaminya. Peningkatan risiko diperkirakan berhubungan dengan faktor genetik dan adanya tekanan negatif di lingkungan sekitar. 

Seseorang akan lebih berisiko mengalami gangguan depersonalisasi terutama setelah menghadapi peristiwa besar dalam hidupnya yang tidak menyenangkan, seperti trauma psikis, kehilangan, peperangan, pemerkosaan, bencana alam, dan lain-lain.

Meski umumnya dialami akibat trauma psikis, tetapi gangguan depersonalisasi juga dapat muncul akibat adanya penyakit lain dalam tubuh. Misalnya kejang, tumor atau penyakit lain dalam otak, gangguan kejiwaan lain, hingga penyalahgunaan obat.

Penanganan depersonalisasi: perlukah minum obat seumur hidup?

Terapi untuk gangguan depersonalisasi ada beragam rupa, mulai dari psikoterapi, terapi keluarga, terapi kreatif, obat-obatan, hingga metode hipnosis.

Namun, yang paling penting adalah mengatasi kondisi yang mendasari awal mula timbulnya gangguan ini. Kondisi tersebut misalnya trauma masa lalu, stres berkepanjangan, atau justru gejala fisik yang memang memengaruhi fungsi otak yang berhubungan dengan persepsi diri.

Terapi pada gangguan depersonalisasi tidak dilakukan seumur hidup, menimbang fakta bahwa mayoritas orang dengan kondisi gangguan ini bisa sembuh dari gejala secara total. Terutama jika kondisi psikis yang mendasari seperti stres dan trauma telah berhasil diatasi, sehingga tak lagi memicu timbulnya gejala gangguan depersonalisasi.

Dapat disimpulkan bahwa gangguan depersonalisasi tak selalu merupakan sebuah vonis seumur hidup yang harus diobati terus-menerus.

Meski tak ada cara pasti untuk mencegah timbulnya gangguan depersonalisasi, tetapi cara pencegahan terbaik adalah dengan segera mencari pertolongan tenaga medis profesional jika merasa mengalami gangguan kesehatan jiwa.

Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah adanya gangguan persepsi diri yang merupakan ciri gangguan depersonalisasi. Semakin dini pengobatan dan terapi diberikan, tentu semakin mudah penanganannya.

Kesimpulannya, penderita gangguan depersonalisasi tidak selamanya bergantung pada obat-obatan. Terapi umumnya dilakukan untuk mengatasi gejala yang muncul seperti kecemasan, panik, atau depresi. Penanganan atas peristiwa yang mengakibatkan trauma emosional berat memiliki andil besar dalam mencegah seseorang terkena gangguan kesehatan jiwa atau depersonalisasi, meskipun banyak faktor lain yang memengaruhi, termasuk genetik dan lingkungan.

[NP/RN]

0 Komentar

Belum ada komentar