Sukses

Bertukar Sikat Gigi, Ini Bahayanya bagi Kesehatan

Misalnya Anda lupa bawa sikat gigi dan seseorang menawarkan miliknya untuk dipakai, tolak saja. Ini bahayanya bertukar sikat gigi.

Klikdokter.com, Jakarta Mungkin karena kenal, Anda iya-iya saja meminjamkan atau dipinjamkan sikat gigi untuk dipakai bersama-sama. Padahal, bertukar atau berbagi penggunaan barang pribadi seperti sikat gigi sangat tidak dianjurkan. Jika nekat melakukannya, ada sejumlah bahaya yang mengintai.

Faktanya, menggunakan sikat gigi orang lain, tak terkecuali pasangan atau anggota keluarga lainnya, bisa memengaruhi kesehatan tubuh, termasuk gigi dan mulut.

Pengaruh bertukar gigi terhadap kesehatan gigi dan mulut

Di dalam rongga mulut, ada ratusan jenis bakteri yang berbeda. Meskipun tidak semua jenis bakteri berbahaya, tetapi beberapa di antaranya, seperti Staphylococcus dan E. coli dapat menimbulkan infeksi dan penyakit yang bisa dengan mudahnya berpindah dari satu orang ke orang lain.

Menyikat gigi adalah salah satu metode utama dan paling umum untuk menjaga kebersihan rongga mulut. Dengan bertukar atau berbagai sikat gigi dengan siapa pun, ada risiko penularan berbagai jenis penyakit meningkatnya risiko terjadinya infeksi. Ini terjadi karena sikat gigi (apalagi yang dipakai oleh lebih dari satu orang) bisa menjadi sumber mikroorganisme.

Jika sikat gigi Anda dipakai oleh orang lain atau Anda menggosok gigi dengan sikat  yang bukan milik Anda, apa pun yang ada di mulut Anda akan masuk ke mulut orang yang ikut berbagi sikat gigi tersebut, dan sebaliknya.

Apabila orang yang sikat giginya Anda pakai tidak dibilas atau tidak dibersihkan dengan benar, kemungkinan partikel makanan yang tersangkut di antara bulu sikat bisa juga berpindah ke mulut Anda.

Bahayanya bertukar sikat gigi: penularan penyakit lewat kontak darah

Perlu diingat, setiap orang punya kondisi rongga mulut yang berbeda, dan Anda tak tahu bagaimana kondisi rongga mulut seseorang.

Kadang, seseorang mengalami gusi berdarah saat menyikat gigi. Hal ini bisa menjadi salah satu tanda adanya masalah atau peradangan pada gusi. Apabila Anda meminjam sikat gigi dari orang tersebut, atau Anda punya kondisi tersebut dan meminjamkan sikat gigi Anda kepada orang lain, ada risiko penularan penyakit melalui aliran darah. Pertukaran darah ini jauh lebih berisiko daripada pertukaran air liur.

Meski relatif tidak berbahaya, tetapi bertukar sikat gigi juga bisa meningkatkan risiko penularan penyakit seperti pilek dan radang tenggorokan, yang umum mudah menyebar terutama di kalangan anak-anak.

Beberapa penyakit yang parah juga bisa menyebar, contohnya herpes, pneumonia, bahkan virus HPV dan HIV juga bisa ditularkan lewat bertukar sikat gigi.

Pada orang dewasa yang sehat, kontaminasi sikat gigi terjadi lebih awal setelah penggunaan, dan akan meningkat ketika penggunaan dilakukan secara berulang. Sikat gigi dapat terkontaminasi dari rongga mulut, lingkungan sekitar, tangan yang kotor, kontaminasi aerosol, dan penyimpanan yang kurang baik.

Bakteri yang menempel dan menumpuk akan bertahan hidup di sikat gigi dapat ditularkan ke individu lainnya, sehingga menimbulkan penyakit.

Membersihkan dan menyimpan sikat gigi dengan benar

American Dental Association (ADA) merekomendasikan untuk membilas sikat gigi dengan air bersih setiap habis digunakan dan biarkan hingga kering.

Dalam menyimpannya, sikat gigi harus dalam posisi tegak (misalnya diletakkan di wadah gelas) dan harus terpisah dengan sikat gigi lainnya. Ini karena perpindahan bakteri juga bisa terjadi ketika sikat gigi menempel satu sama lain.

Selain itu, ganti sikat gigi secara rutin setiap tiga bulan sekali, atau bisa lebih cepat jika bulu sikat sudah rusak atau Anda baru sembuh dari sakit. Gunanya adalah untuk menghindari kontaminasi virus atau bakteri.

Untuk menghindari bertukar sikat gigi dengan orang lain, selalu sediakan stok sikat gigi baru atau selalu sedia sikat gigi ke mana pun Anda pergi.

Dengan menimbang berbagai bahaya yang disebutkan di atas tadi, itulah kenapa Anda tidak disarankan untuk betukar atau berbagai sikat gigi karena adanya risiko penularan penyakit. Dengan menghindari kebiasaan tersebut, otomatis kesehatan tubuh dapat terlindungi, serta mencegah kontaminasi kuman dan plak.

(RN)

0 Komentar

Belum ada komentar