Sukses

Komitmen dan Sumbangsih IDI dalam Pembangunan Kesehatan Indonesia

Sebagai komitmen dan sumbangsih dalam pembangunan kesehatan bangsa, IDI menyelenggarakan kegiatan bertajuk IDINESIA (IDI untuk Indonesia).

Klikdokter.com, Jakarta Mengambil momentum perayaan Hari Bakti Dokter Indonesia yang ke-111 dan HUT Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang ke-69, IDI menyelenggarakan kegiatan bertajuk IDINESIA alias IDI untuk Indonesia. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk komitmen dan sumbangsih IDI dalam pembangunan kesehatan bangsa.

Kegiatan dibuka dengan roadshow stunting dan kesehatan reproduksi pada tanggal 6 Oktober 2019 di RPTRA Pondok Bambu Berseri. Roadshow ini akan dilanjutkan ke beberapa PRTRA lain di sekitar Jakarta, Bogor, dan Banten pada bulan Oktober hingga November.

“Kegiatan ini adalah bentuk komitmen IDI dalam pengabdiannya menyehatkan masyarakat Indonesia,” kata ketua IDI Cabang Jakarta Timur, DR. Aldrin Neilwan Panca Putra, Sp.AK, Mars, M.Biomed (ONK), M.Kes, SH.

Lebih lanjut, DR. Aldrin Neilwan mengatakan bahwa kegiatan yang diusung dalam IDINESIA adalah senam sehat, cek dan konsultasi kesehatan gratis, penyuluhan kesehatan dengan topik stunting, kesehatan reproduksi remaja, serta praktik cuci tangan yang baik dan benar. 

Salah satu tema roadshow yang disoroti adalah permasalahan stunting. Pasalnya, dalam 10 tahun terakhir, angka kejadian stunting masih tinggi dan belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. 

Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan angka kejadian stunting tertinggi di Asia pada tahun 2017.

Apa itu stunting? Ini adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Stunting memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak anak, sehingga memengaruhi tingkat kecerdasan dalam jangka panjang. Bukan cuma itu, anak yang mengalami stunting juga lebih berisiko untuk terkena penyakit tidak menular di kemudian hari.

Di samping masalah stunting, IDI mengaku bahwa kesehatan reproduksi pada usia remaja juga menjadi salah satu tema yang disoroti untuk acara roadshow. Tidak heran, penyuluhan tentang kesehatan reproduksi yang menyasar usia remaja juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan ini. 

Mengapa kesehatan reproduksi remaja perlu menjadi sorotan? Sebab remaja merupakan fase peralihan dari anak-anak menuju dewasa, di mana di saat bersamaan menjadi ‘pintu masuk’ dan ‘ujung tombak’ perubahan paradigma kesehatan. 

Pada remaja, informasi atau pengetahuan tentang kesehatan reproduksi sangat penting guna mencegah terjadinya penyakit menular seksual, kehamilan di usia muda, kanker mulut rahim (serviks), dan penyakit-penyakit sejenisnya.

“Kami mengangkat tema kegiatan ini sebagai langkah penanggulangan masalah stunting, penyakit tidak menular dam kesehatan reproduksi remaja dalam upaya mendukung pembangunan SDM yang sehat, produktif dan berdaya saing,” kata Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia, Dr. Daeng M. Faqih, SH, MH.

“Bukan hanya kewajiban Kementerian Kesehatan untuk mengatasi segala masalah kesehatan yang ada di Indonesia juga menjadi tugas dan tanggung jawab semua pihak.” 

“Kami yang berhimpun dalam organisasi profesi perlu memulainya dengan hal sederhana namun berdampak besar, yaitu konsisten meningkatkan kesadaran dan kemauan masyarakat akan pola hidup bersih dan sehat,” pungkas Dr. Daeng.

Mari bersama lebih sadar akan pentingnya gaya hidup bersih dan sehat. Mari bergerak menuntaskan segala masalah kesehatan yang ada di Indonesia, termasuk di antaranya stunting dan kesehatan reproduksi remaja. 

Jangan biarkan IDI dan Kementerian Kesehatan bergerak tanpa didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Bukankah dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat juga akan menguntungkan diri sendiri?

(NB/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar