Sukses

BAB Bayi Berbusa, Bahayakah?

BAB bayi umumnya akan bertekstur cair. Namun, jika BAB bayi memiliki busa, bisa jadi hal tersebut disebabkan oleh kandungan ASI atau hal-hal lainnya.

Ibu mungkin tahu bahwa selain lewat tangisan, kondisi bayi juga dapat dilihat dari buang air besar atau BAB-nya. Kondisi feses si Kecil yang lembek mungkin sudah sering Anda temui, sehingga sudah tak terlalu membuat panik.

Ada beberapa hal yang dapat menentukan normal atau tidaknya BAB bayi, yaitu usia, pemberian ASI atau susu formula, serta sudah masuk masa Makanan Pendamping ASI (MPASI) atau belum. Lalu, bagaimana dengan BAB bayi berbusa? Wajarkah kondisi ini?

Kondisi feses si Kecil yang berbusa tentu saja akan membuat sebagian besar orang tua khawatir. Padahal, hal itu tak selalu menjadi pertanda adanya masalah kesehatan yang serius, lho! Berikut ini adalah beberapa penyebab BAB bayi berbusa:

1 dari 6 halaman

1. Karena Kandungan ASI

Feses bayi yang berbusa bisa disebabkan oleh tak seimbangnya asupan foremilk dan hindmilk. Hal tersebut justru tergolong normal apabila bayi masih mendapatkan asupan ASI.

Foremilk adalah cairan ASI yang keluar terlebih dulu selama beberapa menit setelah si Kecil mulai menyusu. Sedangkan, hindmilk adalah cairan ASI yang keluar selanjutnya. Hindmilk sendiri lebih kental ketimbang foremilk karena mengandung lebih banyak kalori dan lemak.

 Artikel Lainnya: Pentingnya Mengenali Bentuk Feses Bayi Anda

Sementara, foremilk lebih encer dan berkalori rendah, tapi tinggi laktosa. Nah, karena kemampuan tubuh bayi yang belum maksimal dalam mencerna laktosa ASI dari foremilk, maka bisa saja bayi mengeluarkan feses yang berbusa.

Beda halnya jika yang terserap banyak oleh si Kecil adalah hindmilk. Biasanya, fesesnya akan berwarna kuning dan tak berbusa atau berbuih. Warna kuning tersebut didapat dari lemak pada hindmilk. Jadi, tak perlu khawatir dengan kondisi ini.

Untuk mengatasi masalah ketidakseimbangan foremilk dan hindmilk, maka cara yang Anda bisa lakukan adalah membiarkan si Kecil menyusu pada salah satu payudara setidaknya selama 5-10 menit, sebelum memindahkannya ke payudara satu lagi.

Tujuannya, agar bayi mendapatkan asupan hindmilk yang cukup atau sama banyak dengan foremilk. Selain itu, sebelum kembali memulai sesi menyusui, Anda juga dapat menggunakan payudara yang terakhir Anda gunakan untuk menyusui bayi.

2 dari 6 halaman

2. Alergi Susu Sapi

Apabila si Kecil sudah tak mendapatkan ASI eksklusif dari Anda, tapi fesesnya berbusa, bisa jadi si Kecil mengalami alergi terhadap susu formula yang diberikan. Tak cuma itu, jika benar mengalami alergi susu, si Kecil juga akan merasakan beberapa gejala lain, seperti:

  • Rewel
  • Demam
  • Muntah
  • Batuk-batuk
  • Sesak napas
  • Pembengkakan di bibir, lidah, dan tenggorokan
  • Muncul ruam di kulit 

Dengan demikian, jika fesesnya berbusa, berwarna hijau terang, tapi tanpa gejala-gejala di atas, dan si Kecil masih tetap ingin minum susu, kemungkinan besar itu bukanlah masalah serius alias masih normal.

Artikel Lainnya: Bayi ASI Sering BAB, Normalkah?

Apabila BAB bayi berbusa akibat alergi susu formula, sebagai solusinya Anda bisa menggantinya dengan susu formula yang hypoallergenic, yaitu susu yang memiliki risiko alergi lebih kecil.

Namun, sebelum Anda memutuskan mengganti jenis susu, konsultasikan dahulu dengan dokter spesialis anak. Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis dan merekomendasikan susu yang sesuai dengan anak Anda.

3 dari 6 halaman

3. Infeksi

Infeksi bakteri, parasit, maupun virus bisa saja terjadi pada si Kecil. Umumnya selain membuat frekuensi BAB bertambah, konsistensi BAB juga ikut berubah seperti tampak encer dan berbusa, ada lendir, bahkan juga disertai dengan darah.

Salah satu penyebab bab berbusa paling sering adalah parasit Giardia. Parasit ini bisa masuk ke dalam tubuh apabila si Kecil tak sengaja mengonsumsi makanan atau minuman yang sudah tercemari oleh parasit ini.

Artikel Lainnya: Agar Tak Panik, Cari Tahu Arti Warna Kotoran Bayi Anda

4 dari 6 halaman

4. Penyakit Celiac

Penyakit celiac merupakan penyakit autoimun yang dipicu oleh gluten. Gluten sendiri adalah protein yang di temukan di tepung, rye, dan barley beserta turunannya.

Bayi bisa menunjukkan tanda dan gejala awal dari intoleransi gluten setelah ia menerima MPASI. Biasanya bayi dengan penyakit celiac akan mengalami BAB berbusa, tidak mengalami kenaikan berat badan yang optimal, cenderung rewel, perut kembung, dan ruam kulit.

5 dari 6 halaman

5. Efek Operasi Saluran Cerna

Pada bayi yang memiliki kondisi khusus dan memerlukan tindakan operasi di saluran cerna, seperti penyakit Hirschsprung, bisa menyebabkan BAB bayi berbusa. Tindakan operasi pada saluran cerna dapat menyebabkan kondisi short bowel syndrome yang mana bisa menyebabkan feses berbusa dan encer secara terus-menerus.

Hal ini disebabkan karena usus tidak bisa menyerap makanan, cairan, dan elektrolit dengan baik. Akibatnya, masalah seperti dehidrasi dan malnutrisi pun bisa terjadi.

Tak hanya pada bayi saja. Pada orang dewasa, kondisi BAB berbusa bisa mengarah ke pankreatitis, irritable bowel syndrome (IBS), reaksi alergi, maupun infeksi saluran cerna. Untuk itu, bagi Anda yang dewasa juga harus berhati-hati.

Jadi, itulah penjelasan tentang BAB bayi berbusa. Selama kondisi tersebut tidak membuat si Kecil rewel dan Anda memang memberikan ASI eksklusif, maka Anda tak perlu khawatir.

Sebaliknya, jika BAB bayi berbusa disertai dengan demam tinggi, ditemukan darah pada feses, rewel, tidak mau menyusu, serta frekuensi dan jumlah BAK bayi menurun, sebaiknya Anda tidak menunda-nunda untuk membawanya ke dokter.

[FY]

0 Komentar

Belum ada komentar