Sukses

Haruskah Ibu Hamil Penderita Hepatitis B Menghentikan Pengobatannya?

Hepatitis B dapat saja terjadi pada ibu hamil. Tapi, bagaimana metode pengobatan yang sebaiknya dilakukan?

Klikdokter.com, Jakarta Hepatitis adalah infeksi pada organ hati yang disebabkan oleh infeksi virus. Terdapat beberapa jenis virus hepatitis, yaitu hepatitis A, B, C, D dan E. Hepatitis B dan C merupakan jenis hepatitis yang paling umum terjadi selama kehamilan dan paling sering ditularkan dari ibu hamil ke janin di dalam kandungan.

Berdasarkan Sistem Informasi Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan (SIHEPI) 2018-2019, jumlah ibu hamil yang diperiksa hepatitis B sebanyak 1.643.204 di 34 provinsi. Hasilnya, sebanyak 30.965 ibu hamil menunjukkan hasil reaktif yang artinya positif terinfeksi virus hepatitis B.

Tanda hepatitis B pada ibu hamil

Penderita hepatitis B pada ibu hamil pada umumnya tidak menimbulkan gejala saat awal infeksi virus terjadi. Hal ini bisa terjadi sekitar 1–5 bulan setelah terpapar virus hepatitis B (HBV).

Namun, seiring dengan perjalanan penyakit, terdapat tanda penyakit yang muncul, yaitu perubahan warna kulit dan bagian putih mata (sklera) menjadi kuning (ikterik). Gejala penyerta lain dapat muncul antara lain:

  • Mual
  • Muntah
  • Mudah lelah
  • Nafsu makan menurun
  • Demam
  • Nyeri perut

Saat ibu hamil menderita hepatitis B, maka akan ibu harus waspada akan terjadi beberapa kondisi berikut ini:

  • Ketuban pecah dini
  • Diabetes gestasional
  • Steatohepatitis (perlemakan hati) 
  • Batu empedu
  • Plasenta abrupsio (lepasnya plasenta sebelum waktunya)

Dampak hepatitis B pada janin

Apabila ibu hamil menderita hepatitis B dalam 6 bulan terakhir (Hepatitis B akut), bayi memiliki risiko hingga 90 persen untuk terinfeksi HBV. Namun apabila ibu hamil memiliki infeksi lebih lama dari 6 bulan (Hepatitis B kronik), maka risiko untuk terinfeksi HBV akan menurun menjadi 10–20 persen.

Karena gejala hepatitis B jarang terdeteksi sejak dini, maka saat kunjungan prenatal ke dokter biasanya ibu hamil akan mendapatkan pemeriksaan darah rutin, termasuk pemeriksaan virus hepatitis B (HBV).

Berikut penanganan yang dapat dilakukan pada ibu hamil dan janin apabila terinfeksi HBV:

  • Jika hasil pemeriksaan darah menunjukkan hasil positif dan terdeteksi masih tahap awal, dokter akan memberikan vaksin hepatitis immunoglobulin (HBIg).
  • Apabila hasil laboratorium menunjukkan hasil titer virus hepatitis B yang sangat tinggi, maka dokter akan memberikan terapi kepada ibu hamil berupa pemberian obat antivirus.
  • Obat antivirus ini dapat menurunkan risiko perpindahan virus hepatitis B kepada janin dalam kandungan dan ibu hamil yang menderita hepatitis B dapat tetap menjalankan kehamilannya dengan baik sampai hari persalinan. Dengan catatan, ibu hamil harus rutin melakukan kontrol kehamilan ke dokter.
  • Ibu hamil disarankan untuk istirahat cukup dan tidak melakukan kegiatan yang berlebihan sehari–hari.
  • Konsumsi asupan makanan yang sehat dan bergizi setiap hari.
  • Apabila ibu terinfeksi HBV, bayi yang lahir harus diberi dua kali vaksin di ruang persalinan, seperti vaksin hepatitis B dan hepatitis B immune globulin (HBIG).Jika kedua obat ini diberikan secara tepat dalam waktu 12 usia bayi lahir, maka bayi akan memiliki 95 persen kemungkinan terlindung dari infeksi hepatitis B.
  • Bayi akan menerima dosis tambahan hepatitis B ketika berusia 1 bulan dan 6 bulan untuk proteksi menyeluruh terhadap hepatitis B.

Cegah hepatitis B sejak dini

Pencegahan sejak dini memberikan efektivitas hampir 90 persen untuk terhindar dari paparan virus hepatitis B.

Selain itu, gejala hepatitis B yang tidak diketahui sejak awal sebaiknya memang dilakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah pada kunjungan prenatal di awal kehamilan.

Sehingga, apabila ditemukan paparan virus HBV sejak dini, pengobatan harus tetap dilakukan agar penanganan lebih optimal dan ibu hamil yang menderita hepatitis B dapat tetap menjalankan kehamilannya dengan baik sampai hari persalinan.

Ibu hamil juga rentan terkena virus hepatitis B. Oleh sebab itu, bagi Anda yang tengah di masa kehamilan, lakukanlah pemeriksaan secara rutin ke dokter kandungan dan kebidanan untuk mengetahui pengobatan yang diperlukan saat mengalaminya.

[NP/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar