Sukses

Amankah bagi Penderita Kanker Payudara Menyusui Bayi?

Penderita kanker payudara enggan menyusui bayinya karena takut menularkan penyakitnya. Namun, apakah sebenarnya aman-aman saja?

Klikdokter.com, Jakarta Was-was rasanya bila Anda adalah ibu yang baru melahirkan, tapi juga seorang penderita kanker payudara. Pasalnya, Anda tidak tahu, apakah aman jika penderita kanker payudara yang tengah mendapat perawatan menyusui bayinya.

Jika masih dalam masa pengobatan, sebaiknya jangan

Saat seseorang terkena kanker payudara, terjadi pertumbuhan sel-sel abnormal di jaringan payudaranya. Apabila itu tidak dirawat secara intensif, kanker bisa menyebar hingga ke tulang dan paru-paru.

Sayangnya, ketika si ibu sedang mengonsumsi obat-obatan untuk menghentikan sel kanker, ada risiko bahwa obat kanker tersebut akan ikut terminum oleh bayi lewat Air Susu Ibu (ASI).

Ada pun beberapa jenis obat kanker payudara yang dapat memengaruhi ASI, antara lain adalah tamoxifen, palbociclib dan ribociclib (bahan kimianya bertahan hingga tiga minggu di dalam tubuh), serta everolimus (bertahan hingga dua minggu di dalam tubuh).

Oleh sebab itu, penderita kanker payudara yang sedang mendapat pengobatan intensif sebaiknya tidak menyusui bayinya terlebih dahulu. Tujuannya adalah demi mencegah terjadinya keracunan pada bayi.

Lagi pula, pengobatan kanker, khususnya radiasi, biasanya akan memengaruhi produktivitas ASI. Artinya, ASI yang dikeluarkan akan lebih sedikit dan puting juga menurun.

Jika sudah sembuh, konsultasikan dulu pada dokter

Lalu, bagaimana dengan ibu yang kanker payudaranya sudah diatasi dengan pembedahan atau pengangkatan? Apakah masih tidak boleh menyusui?

Menurut dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, kanker payudara pada dasarnya bukan penyakit menular. Jika bayi berkontak langsung dengan ibu, dalam hal ini lewat ASI, si bayi tidak akan tertular.

Kendati demikian, kondisi fisik sang ibu pasca operasi pengangkatan sel kanker itu berbeda-beda. Akan lebih baik jika dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter yang sebelumnya sudah merawat Anda.

Selain itu, ada kekhawatiran bahwa tindakan operasi telah merusak saluran ASI, sehingga ASI mungkin saja tidak keluar.

Alternatif bagi ibu yang tidak bisa memberikan ASI

Jangan langsung bersedih bila Anda tidak bisa menyusui si Kecil, sebab kecukupan nutrisinya masih dapat dipenuhi sementara melalui susu formula khusus bayi.

Meski di dalam susu formula tidak terkandung antibodi untuk kekebalan tubuh bayi, serta beberapa jenis enzim dan hormon, tapi bukan berarti susu tersebut tidak ada manfaatnya.

Selain itu, jangan langsung merasa bahwa ikatan antara ibu dan anak tidak akan terjalin hanya karena Anda tidak memberikannya ASI. Menurut dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid dari KlikDokter, kualitas bonding antara ibu dan anak tidak akan dipengaruhi oleh pemberian ASI atau susu formula, melainkan lebih kepada momen yang terjalin.

“Sama halnya dengan ibu yang menyusui, ibu yang memberikan susu formula pada bayinya juga bisa memiliki bonding kuat jika banyak menghabiskan waktu yang berkualitas dengan bayinya. Saat memberikannya susu formula, ibu bisa bercerita, mengajaknya berbicara, bersenandung, bercanda, atau tersenyum,” jelas dr. Resthie.

Sembari memberikannya alternatif ASI, ibu juga bisa melakukan beragam upaya agar proses pemulihan kanker payudara bisa berlangsung lebih cepat. Salah satunya adalah dengan mengubah pola makan.

Jenis makanan yang dapat mengurangi risiko kanker payudara beserta kekambuhannya adalah makanan yang mengandung asam fenolik dan asam klorogenik.

Misalnya saja, Anda bisa memperbanyak asupan biji-bijian, bluberi, jeruk, gandum, anggur, dan kopi. Sejumlah makanan sehat itu dapat menurunkan risiko kanker payudara hingga 65 persen.

Kesimpulannya, meski kanker payudara tidak menular, penderita yang sedang mendapatkan pengobatan intensif, sebaiknya tidak menyusui dulu. Dikhawatirkan obat kanker akan terminum juga oleh si bayi dan menimbulkan keracunan. Jika sudah sembuh, sebelum Anda memutuskan untuk menyusui, periksakan terlebih dahulu kondisi payudara dan ASI Anda kepada dokter.

[MS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar