Sukses

Olahraga Saat Ada Kabut Asap, Apa Bahayanya?

Beraktivitas di luar ruangan, termasuk olahraga saat ada kabut asap, katanya berbahaya bagi kesehatan. Seperti apa faktanya?

Klikdokter.com, Jakarta Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan di sebagian wilayah Kalimantan semakin parah. Warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian dianjurkan untuk tidak banyak beraktivitas di luar ruangan, termasuk olahraga. Meski jarak pandang belum terlalu kabur, sebaiknya tetap patuhi anjuran untuk tidak berolahraga saat ada kabut asap karena sangat bahaya.

Faktanya, dr. Fiona Amelia MPH dari KlikDokter mengatakan bahwa kabut asap tergolong sebagai polusi udara yang dapat meningkatkan risiko infeksi virus dan bakteri. Salah satu kondisi yang bisa terjadi sebagai akibatnya adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

“Kabut asap adalah campuran dari debu, karbon organik, karbon hitam, nitrat, dan sulfat yang biasanya ditemukan dalam material konstruksi, emisi kendaraan bermotor, insinerator, pembangkit listrik, dan pembakaran batubara,” jelas dr. Fiona. 

Dengan berbagai kandungan yang terdapat di dalam kabut asap Anda bisa terkena ISPA beberapa jam setelah menghirup udara berpolutan tersebut. Tanda dan gejala bahwa Anda telah positif mengalami ISPA, yaitu batuk-batuk dan iritasi tenggorokan. 

Parahnya lagi, kabut asap akibat kebakaran hutan juga bisa memicu serangan asma pada orang-orang yang rentan. Terjadinya kondisi ini ditandai dengan batuk, mengi, sesak napas, hingga kehilangan kesadaran.

Apakah hanya sebatas itu? Tentu saja tidak, kabut asap juga bisa menyebabkan gangguan kesehatan lainnya.

1 dari 2 halaman

Gangguan kesehatan jangka panjang akibat kabut asap

Kabut asap mengandung materi partikulat (particulate matter) yang tak hanya mengganggu saluran napas, tetapi juga memicu peradangan dan penyempitan pembuluh darah. Alhasil, adanya paparan pada partikel tersebut dapat memicu episode serangan jantung pada orang yang rentan, yaitu mereka yang memiliki riwayat serangan jantung atau faktor risiko penyakit jantung koroner.

Tak berhenti di situ, paparan terhadap kabut asap akibat kebakaran hutan secara jangka panjang juga bisa meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan berikut ini:

  • Menurunnya fungsi paru secara permanen, terutama pada anak-anak. Hasil studi menemukan, kapasitas paru anak dapat menurun hingga 20 persen akibat paparan kabut asap secara terus-menerus.
  • Kabut asap mengandung logam berat, seperti timbal, merkuri, dan arsen. Lambat laun, paparap pabut asap akibat kebakaran hutan bisa membuat kadar logam berat terakumulasi di dalam tubuh. Secara spesifik arsen dapat meningkatkan risiko kanker. Merkuri dapat menyebabkan kerusakan saraf dan kelainan bawaan lahir. Sedangkan timbal dapat menurunkan fungsi otak dan menyebabkan gangguan belajar pada anak.
  • Meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Polutan di dalam kabut asap akibat kebakaran hutan dapat memicu pengerasan dan penyempitan pembuluh darah.

Setelah tahu adanya kemungkinan tersebut, Anda sebaiknya membatasi diri dan melarang orang-orang tercinta untuk beraktivitas di balik tebalnya kabut asap akibat kebakaran hutan. Jangankan untuk berolahraga, Anda pun sebenarnya tidak dianjurkan untuk keluar dari rumah dan terpapar kabut asap secara langsung.

Apabila Anda memang sangat ingin olahraga atau beraktivitas di tengah udara penuh kabut asap akibat kebakaran hutan, gunakan masker berlabel N95, N97 atau N99 yang lebih efektif menyaring partikel polutan. Selain itu, pilihlah waktu yang tepat, misalnya subuh, malam hari, atau kapan pun di saat kadar polusi lebih rendah. Hindari memaksakan diri, agar risiko ISPA dan gangguan kesehatan lainnya bisa dicegah.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar